Dua hari kemudian, tepat pukul sembilan pagi, Wijaya dikejutkan dengan sebuah tamu yang tidak ia kenali. Ada dua orang yang datang ke rumahnya. Mereka memakai pakaian yang sama, berwarna biru muda. Wijaya menyuruh mereka untuk duduk, tapi mereka malah membawa Wijaya pergi secara paksa.
Kini, setelah tiga puluh menit, Wijaya sudah sampai di sebuah gedung dengan dua lantai. Wijaya dimasukkan ke salah satu ruangan yang berada di lantai satu. Pintu terkunci, kaki serta tangan Wijaya yang dikunci. Serasa menjadi tahanan polisi, tapi berada di sebuah rumah sakit jiwa. Wijaya tahu hal ini ulah ibunya. Mungkin, saat ini wanita itu tengah berbahagia, sebab sudah berhasil membawa anaknya masuk di dalam ruangan ini. Sebuah keinginannya sejak lama.
Wijaya hanya bisa rebahan dengan menikmati langit-l