“Kenapa kamu membuat keputusan yang tidak masuk akal, Bee?” Malam ini, ketika keluarga Langit Antariksa sedang makan malam bersama, sang kepala rumah tangga mengeluarkan pertanyaan yang masih menggantung di hatinya. Keputusan yang diambil Bee menurutnya sangat bodoh. Menjadi sekretaris Rigel memang tidak salah, tapi bagaimanapun dia adalah putri dari keluarga Antariksa dan Atmajaya. Tidak seharusnya menjadi ‘pelayan’ seseorang. Langit menahan agar kemarahannya tidak keluar ke permukaan dan membuat dia membatasi pergerakan Bee. Karena jelas saja, Embun akan membela putrinya dalam hal ini.
“Aku membutuhkan pengalaman kerja juga, Pa. Jadi ini bukan keputusan yang tidak masuk akal.”
“Demi mencintai seorang lelaki yang tidak mencintai kamu, kamu sanggup menjadi pesuruhnya? Itu benar-benar konyol.” Langit tentu saja tak mau kalah. Atmosfer di sekitar mereka benar-benar sudah kelabu sekarang. Embun dan Bintang bahkan hanya diam tanpa ikut serta dalam pembicaraan itu.
Bee menunduk dalam dan mengaduk nasinya. Hilang sudah selera makannya. Memang benar, dia sudah terlalu bodoh. Seolah sepuluh tahun tak cukup untuk membuat dirinya mundur dan hanya bisa menuruti saja apa kata hatinya. Melihat kekecewaan yang terlihat di mata putrinya, pada akhirnya Embun berucap.
“Tidak ada yang salah dengan keputusan yang diambil oleh Bee,” katanya dengan lembut. “Mendapatkan sesuatu yang diinginkan adalah sebuah cara untuk memuaskan hati. Itu tidak buruk.”
“Tapi dia menjadi sekretaris, Mam.”
“Papa nggak ingat bahkan orang yang memiliki perusahaan besar saja ‘mengusir’ anak-anak mereka untuk mencari pengalaman di luar perusahaan miliknya? Tidak ada yang salah dengan itu. Yang harus Papa tanamkan di dalam pikiran Papa adalah bukan dengan siapa Bee bekerja, tapi pengalaman apa yang akan dia dapatkan setelah itu.” Langit diam. Embun memang selalu menjadi pawang nomor satu lelaki itu.
“Adek nggak perlu merasa rendah diri. Yang terpenting adalah bekerja dengan baik dan ikHlas. Akan ada hasilnya ketika orang itu mau bersabar.” Embun sudah banyak makan asam garam dalam hidupnya mengenai sebuah hubungan, maka dia bisa mengatakan itu dengan lantang kepada putrinya. Tidak ada yang salah dengan sebuah perjuangan. Adam dan Hawa saja membutuhkan waktu lima ratus tahun untuk kembali bertemu, sepuluh tahun bukanlah apa-apa. Embun selalu memberikan semangat kepada putrinya.
Tapi, di dalam hubungan Bee dan Rigel, hanya Bee lah yang menginginkan Rigel. Seandainya Rigel juga menginginkan dirinya, tentu saja jalannya tidak akan seberat ini sekarang. Ada waktu di mana Bee berpikir jika dia memang pantas untuk mundur, tapi selalu saja ada ide di dalam otaknya yang muncul untuk kembali dan terus kembali.
“Kalau Adek ingin berhenti, maka berhentilah. Tapi kalau memang ingin terus maju, lakukan dengan baik. Tidak ada usaha yang akan menghianati hasil.” Embun yang mengatakan hal semacam itu. Ketika dia berada di titik terendah dalam hidupnya, maka ibunya selalu memberikan kalimat-kalimat menenangkan untuk dirinya. Sebab itulah, dia tidak mudah menyerah dalam menghadapi apa pun. Bagi Bee, ibunya terlalu keren.
“Bee!” Suara Rigel mengejutkan gadis itu dan segera saja dia berdiri dan membungkukkan tubuhnya.
“Selamat pagi, Pak,” Katanya dengan sopan. “Kalau kamu memang kurang sehat, kamu boleh pulang.” Sepertinya, Rigel melihat Bee sedang melamun barusan.
“Saya baik-baik saja.” Lagi, Bee menjawab dengan lues. Sejujurnya, Rigel bingung dengan keadaan seperti ini, hanya saja dia menahannya. Karena tidak mau mengambil pusing, maka Rigel hanya mengangguk saja kemudian masuk ke dalam ruangannya. Duduk di kursinya dan mulai menyalakan komputer miliknya. Tak lama Bee masuk dan membacakan jadwalnya untuk hari ini.
“Bisa kita ganti jam dua saja untuk pertemuannya? Ada hal yang perlu saya lakukan jam satu nanti.”
“Saya akan mengkonfirmasi lebih dulu, Pak,” Katanya dengan sopan. Sungguh, jika dia melihat Bee yang seperti sekarang ini tidak terlihat sama sekali jika itu adalah Bee yang sama dengan Bee yang selama ini mengejarnya. Tentu saja, Rigel merasa dia perlu menanyakan tentang itu. Tapi, dia masih menahannya.
***
Bee duduk di depan bersama dengan sopir ketika Rigel dan dirinya akan pergi ke tempat pertemuan. Suasana di dalam mobil benar-benar hening seolah tidak ada yang hidup. Hanya deruan mesin mobil yang terdengar. Rigel sedang sibuk dengan tabnya, sedangkan Bee sedang sibuk melihat ke arah luar.
“Mbak Bee!” Suara Pak supir terdengar membuat Bee mengalihkan tatapannya ke arah lelaki paruh baya tersebut. “Saya boleh tanya?” Katanya.
“Boleh, Pak,” Ucap Bee. “Apa yang mau Bapak tanya?”
“Mbak Bee sudah punya pacar?”
“Ha?”
“Bukan... bukan, Mbak.” Pak sopir segera menyambung ucapannya kembali takut Bee berpikiran yang macam-macam. “Ada yang penasaran tentang itu.” Kemudian diam-diam segera mengeluarkan napasnya lega. Takut seandainya dia ditaksir oleh pria setengah baya tersebut.
“Saya belum ada pacar sih, Pak,” Katanya dengan lugas. “Memangnya siapa yang penasaran? Kok tanyanya sama Bapak? Ganteng nggak?” Mobil yang tadinya hening kini sedikit memunculkan kehangatan di dalamnya karena obrolan yang tercipta. Bee yang notabennya bukan gadis yang mudah akrab dengan sembarang orang justru bisa sedikit akrab dengan lelaki itu. Tapi Bos yang duduk di belakang mereka hanya diam tanpa ikut masuk dalam obrolan tersebut.
“Kalau menurut saya ya ganteng, Mbak. Tapi dia bukan dari kantor RG, Mbak. Dari sebelah.” Bee sepertinya belum paham tentang orang yang dimaksud. Karena gedung kantor RG memang diapit oleh perusahaan IT, dan juga hotel. Maka dia tak tahu yang mana yang dimaksud oleh sopir tersebut.
“Pemilik hotel, Mbak.” Tak ingin Bee merasa kebingungan, maka lelaki itu menjelaskan kembali. “Yang tanya juga stafnya Mbak. Saya nggak mungkin kenal sama bosnya.” Bee tak banyak menanggapi. Semua bisa saja terjadi. Entah di mana lelaki itu bisa tahu Bee, tapi bagi Bee hal semacam itu memang bukan hal yang aneh.
“Ada orang yang saya cintai banyak-banyak, Pak.” Akunya dengan gamblang. “Jujur saja saya tidak berminat dengan orang lain selain dia. Tapi sayang sekali, cinta saya bertepuk sebelah tangan.” Rigel seketika menghentikan jarinya yang sedang memainkan Tab miliknya.
“Wah, sayang sekali, Mbak.” Bee ingin sekali melihat reaksi Rigel setelah mendengar dia mengatakan itu, tapi sekali lagi, dia berusaha untuk tidak melihatkan jika semua itu tidak melibatkan lelaki itu.
“Ya, sayang sekali. Tapi, Pak. Menurut Bapak, apa saya harus mundur saja? Mencintai tanpa balasan itu kan menyakitkan.”
“Kalau memang Mbak Bee ingin memperjuangkan, Mbak harus maju terus. Lelaki itu banyak tipe, Mbak. Tapi kebanyakan kalau ada perempuan yang suka sama dia lalu diabaikan, biasanya kalau udah dijauhi malah dicari.” Rigel mendengar itu tiba-tiba saja pusing dibuatnya.
***