Bee berjalan di belakang Rigel dengan membawa berkas-berkas yang baru saja digunakan untuk meeting. Mereka sudah kembali ke kantor dan menuju ke ruangan Rigel. Tidak ada yang membuka suara dan hanya terdengar suara langkah kaki mereka sendiri. Gadis itu meletakkan dokumen tersebut di atas meja Rigel dan menunggu Bosnya itu duduk di tempatnya.
“Apa ada yang Bapak perlukan lagi?” Tanya Bee sebelum dia kembali bekerja. Rigel menatap Bee yang juga sedang menatapnya. Seperti ada banyak sekali pertanyaan di dalam pikiran lelaki itu yang ragu untuk dikeluarkan.
“Saya akan panggil kamu kalau saya memerlukan sesuatu.” Memilih untuk tetap tidak mengatakan apa yang sedang dipikirkan, begitulah jawaban Rigel. Bee hanya mengangguk kemudian berbalik untuk kembali ke ruangannya. Berada di tempat yang sama dengan orang yang dicintai, tentu saja memberikan kesan nyaman bagi Bee sendiri meskipun di sisi lain dia juga merasa tersiksa. Tapi itu tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup untuk tetap berada di sekitar Rigel.
Rigel untuk sesaat hanya diam melihat betapa Bee benar-benar berbeda. Tidak ada satu kata pun yang akan dikeluarkan jika itu mengenai perasaannya. Dia benar-benar bekerja seperti orang-orang pada umumnya. Kalau memang begitu, apa tidak ada maksud apa pun yang ingin dilakukan oleh Bee ketika dia memutuskan untuk bekerja bersamanya? Padahal, ketika mereka ada di mobil tadi Bee dengan terang-terangan membicarakannya masalah perasaannya.
Rigel tentu saja merasa penasaran dengan semua itu, tapi untuk mempertanyakan dia menahannya. Baginya, selama pekerjaan gadis itu baik-baik saja, maka bukan lagi masalahnya apa pun tujuan Bee yang sebenarnya.
“Sudah waktunya pulang.” Rigel keluar dari ruangannya ketika Bee masih sibuk dengan pekerjaannya. Ada beberapa hal yang perlu dikerjakan. Kacamata bertengger di hidung mancungnya menandakan jika dia sedang benar-benar serius. Mendengar suara Rigel, Bee segera saja berdiri.
“Maaf, Pak. Ada pekerjaan yang masih harus saya kerjakan.”
“Besok lagi saja.”
“Tidak apa-apa. Bapak pulang saja dulu.” Inilah yang kadang sulit bagi Bee. Menghadapi Rigel dengan mode baik hati seperti sekarang ini adalah godaan terbesar dari dalam dirinya. Dia merasa diperhatikan dan kekuatan hatinya sebenarnya tidak sekuat itu. Hanya demi misinya, dia bertahan tetap berada di lingkaran kehidupan Rigel. Membiarkan perasaannya luluh lantah tak karuan.
“Sebenarnya di lantai ini sering ada kejadian yang sedikit menakutkan.” Entah dengan tujuan apa Rigel mengataan itu.
“Apa itu tentang hantu?” Tanya Bee.
“Mungkin saja.”
“Oh, sayangnya saya tidak takut dengan hal-hal seperti itu, Pak. Kalau memang mereka muncul dan mau berteman dengan saya, saya tak keberatan untuk menjadi temannya.” Maksud hati Rigel tentu untuk menakuti Bee, tapi sayangnya justru Bee bukan gadis penakut.
“Baiklah, terserahmu saja.” Setelah mengatakan itu, Rigel pergi dari ruangannya dan masuk ke dalam lift. Benar-benar meninggalkan Bee yang masih ada di dalam ruangannya. Menyisakan Bee sendirian mengeluarkan napas panjang karena lega. Duduk kembali di kursinya, gadis itu segera saja mengerjakan tugas yang memang perlu dikerjakan. Bahkan tidak terasa dia telat satu jam setelah jam operasional kantor selesai.
Menekuk leher kepalanya berkali-kali, gadis itu segera pulang ke rumah atau ayahnya akan mengomelinya kalau dia terlambat pulang. Ayahnya saat-saat ini benar-benar sedang sensitif karena Bee melakukan pekerjaan yang baginya sangat mengesalkan. Tapi, inilah yang yang memang dipilih oleh putrinya, maka tak ada pilihan lain selain hanya memberikan izin kepada gadis itu. Yang tidak diketahui oleh Bee adalah Rigel masih ada di dalam mobil dan menunggu Bee keluar.
Apa maksud lelaki itu melakukannya? Tidak perlu ditanyakan, karena Rigel pun tidak akan tahu jawabannya. Dia hanya menunggu di sana karena merasa perlu melakukannya.
***
“Saya benar-benar suka dengan kinerja sekretaris Bapak.” Rigel sedang duduk di kursi malas yang ada di dalam kamarnya sambil membaca buku ketika tiba-tiba saja mengingat tentang ucapan kliennya siang tadi mengenai Bee. Otak yang tadinya hanya fokus pada bacaannya, kini menjadi penuh dengan hal tersebut. Tatapannya mengarah pada langit yang terlihat dari dinding kaca kamarnya. “Dia cantik, tapi tidak seperti gadis lain yang terlihat lembek.” Lagi, suara itu benar-benar terngiang di telinganya dan membuat Rigel menarik napasnya panjang.
Sejak Bee menjadi sekretarisnya, hal-hal semacam ini sesekali masuk ke dalam pikirannya. Dan berkaitan dengan Bee, bukan yang lain. Rigel tidak akan terpengaruh dengan hal-hal semacam itu bukan? Memilih mengabaikannya, Rigel memaksakan dirinya untuk kembali fokus pada bacaannya. Jangan sampai hal-hal semacam ini akan membuat moodnya memburuk.
“Selamat pagi, Pak!” Pagi itu ketika Bee baru saja menutup pintu mobilnya, Rigel juga keluar dari mobil. Menatap mobil yang mengantarkan Bee datang, Rigel merasa aneh. Sebelumnya dia tak pernah melihat mobil itu mengantarkan Bee.
“Mobil baru?” Tanyanya dengan dingin. Pagi-pagi, tapi sepertinya mood Rigel sudah memburuk.
“Oh, bukan, Pak. Kebetulan ada yang mau mengantarkan.” Kembali lagi Rigel menatap ke arah mobil asing tersebut padahal kendaraan beroda empat itu sudah tak terlihat lagi. Melirik Bee dengan sengit, kemudian pergi begitu saja. Wajahnya dingin tak karuan bahkan Bee harus menarik napas panjang karena dia tahu harus menghadapi mood Rigel yang buruk. Gadis itu dengan cepat mengikuti Rigel sedikit berlari karena langkah kaki Rigel benar-benar panjang. Untungnya Bee mengenakan celana panjang hari ini, jadi dia tak perlu takut bergerak gesit.
“Berikan semua dokumen yang perlu saya pelajari. Jangan ada yang tertinggal satu pun!” Perintah Rigel setelah sampai di dalam ruangan. Melepas jasnya dengan kasar dan meletakkan dengan asal bahkan tak sengaja jatuh ke lantai. Bee dengan cekatan mengambil jas itu dan seketika wangi Rigel menusuk hidungnya. Hanya dengan begitu saja, gadis itu merasa ingin memeluk Rigel dengan kencang dan kuat. Tapi apalah daya, dia tak mampu.
“Sebelum kamu pergi, ganti parfum ruangan ini. Wanginya menyebalkan sekali.” Bee sedikit merasa aneh dengan lelaki itu. Parfum ruangan ini adalah parfum favorit Rigel. Aroma yang menyerupai hujan di hutan pinus. Tapi hari ini Rigel menolaknya. Bee tak banyak kata. Dia segera membuka lemari kecil yang ada di ruangan Rigel dan sayangnya hanya ada parfum dengan aroma yang sama.
“Sepertinya saya perlu membelikan Bapak aroma yang lain. Karena seperti yang Bapak suka, di sana hanya ada parfum aroma yang sama.” Rigel masih memasang raut wajah dinginnya dan itu membuat Bee merasa diintimidasi sekali. Segera keluar dari ruangan Langit, gadis itu menelepon seseorang yang bisa membantunya menangani masalah ini.
“Kirimkan parfum ruangan beberapa varian yang lembut dan menenangkan. Aku tunggu setengah jam dan jangan telat.” Seharusnya itu akan membuat Bee sedikit lega ketika orang di seberang sana menyetujui. Sayangnya Rigel bertingkah dengan cukup menyebalkan.
Karena, “Untuk apa kamu meminta bantuan orang lain? Lakukan tugasmu sendiri!” Yang membuat Bee harus menahan kekesalannya. Tapi, mau tak mau dia tetap mengangguk. Mengambil tasnya dan segera keluar dari ruangannya dengan sedikit berlari. Kalau bukan karena cinta, dia akan menendang Rigel sampai ke planet Mars melihat betapa mengesalkannya lelaki itu.
***