Plak, satu tamparan diterima Ray dari tangan Yudha cukup keras. “Lakukan sesuai perintah Leon, jangan membantah atau kamu tahu akibatnya!”
Leon mengepalkan tangannya cukup kuat kuat, ia tak bisa membantah ataupun melawan perkataan kakaknya itu. tampak dar kejauhan Romi melihatnya, laki-laki itu hanya berdiri mematung tanpa ikut campur masalah mereka. Ia teringat perkataan Romi beberapa hari yang lalu tentang keluarga Wiliam.
“Kekuasaan kakek willy tidak bisa kita ragukan Leon, saat kamu sudah masuk ke dalamnya, jangan berharap untuk bisa lepas darinya,” ucap Romi
Leon mengea nafas panjang, benar memang yang dikatakannya. Selama ini sejak ia masuk ke dalam keluarga Willam, ia seperti terkekang oleh sebuah peraturan yang mengharuskannya untuk mematuhi setiap perkataannya. Semua mutlak—kalau sampai ada penghianat, bisa dipastikan kematian bisa menghampirinya.
“Berapa lama lo di keluarga ini Romi?”
Romi tersenyum, “Sejak Nona Mika masih kecil, dialah alasan aku betah di sini.”
“Mika ya? gue pernah sekali ketemu dia waktu itu, anak kecil cengeng yang menangis saat gue ambil boneka tedy bearnya, haha. Lucu juga kalau dia tahu siapa nama gue waktu itu.”
“Leon, apa yang harus kita lakukan dengan laki-laki itu?”
“Ayah Angel?”
Romi mengangguk. Leon tampak kembali berpikir. “Menurut lo?”
“Jangan sampai kakek Willy menemukan laki-laki itu.”
“Apa kamu ingin menolongnya Leon?”
“Hei, dia itu ayahnya Angel, gue nggak mau Angel terlibat dalam keluarga ini.’
“Tapi kamu juga tahu siapa Angel itu?”
Leon menoleh, “Mika?” Leon terkekeh setengah tak percaya.”Kamu terlalu mempercayai laki-laki itu Romi. Aku yakin dia bukan Mika.”
“Aku berharap dia bukan Mika,” lirih Leon
Romi tak paham maksud dari kalimat Leon yang barusaja diucapkannya. “Memannya kenapa?”
Leon menarik sudut bibirnya menatap Romi penuh arti. “Karena gue nggak suka dia jadi Mika.”
….
“Kamu paham kan Leon?”Yudha bersuara cukup keras di depannya.
Leon hanya mengangguk pelan dengan sedikit paksaan.
***
Sementara di rumah sakit. Angel dan Ray datang berdua untuk menemui Julian. Terlihat di sana juga ada Brian, Max, dan Queen yang menunggu. Kedatangan keduanya tentu membuat Brian dan Max semangat. Namun tidak dengan Julian yang seperti tak suka melihat kedatangan keduanya.
“Julian!” sapa Ray untuk pertama kali.
Tak ada jawaban, ia memalingkan wajah saat melihat ke arah Angel, seperti ketidaksukaan pada gadis itu.
“Gimana keadaan mama?” tanya Ray kembali.
“Lo lihat sendirikan, mama belum sadar,” jawabnya sedikit ketus.
Brian mendekati Ray dan berbisik sesuatu padanya. Ray paham maksud ucapannya. Namun sebelum ia berucap, Julian lebih dulu bersuara.
“Untuk apa lo membawa Angel ke sini?” ketus Julian.
Ray dan yang lain saling berpandangan tak mengerti, memangnya kenapa dengan Angel datang ke sini. Angel seperti tersudutkan dengan sikap Julian yang berubah ketus padanya.
“Gue yang bawa Angel ke sini, emang kenapa?” bela Ray.
“Gue muak liat mukanya!”
Skakmat, ucapan Julian tentu membuat semua orang di tempat itu kaget.
“Jul, dia Angel bukan orang lain, lo kenapa sih?” Brian bersuara.
“Nggak biasanya lo bersikap kaya gini sama Angel, biasanya lo selalu –“
“Selalu baik begitu? Mungkin ini yang terakhir.” Julian memotong ucapannya.
Queen bahkan tak percaya kalau di depannya adalah Julian yang ia kenal manis dan ramah berubah menjadi sosok kasar. “My prince?”
“Maaf, aku akan keluar!” Angel yang tersudutkan memilih untuk keluar dari ruangan itu, namun tangannya sontak dicegah Ray. “Angel, kamu masih di sini!”
“Ray, Julian nggak suka ada aku di sini!”
“Gue lebih nggak suka sikap dia yang tiba-tiba ngusir lo!” Ray tersulut.
Kedua saudara itu saling bersitegang dengan sorot mata penuh amarah. Brian dan Max yang awalnya percaya kalau kedatangan Ray bisa membuat Julian lebih tenang rupanya salah besar.
“Ada masalah apa lo sama Angel?”
Julian menoleh sekilas ke arahnya, lantas kembali berpaling. “Lo mau tahu?” tantang Julian.
Julian mengisyaratkan kedua temannya untuk keluar sebentar, termasuk Queen dan Angel. Mereka langsung paham dan langsung keluar dari ruangan itu. kini tinggal Ray dan Julian yang saling berhadapan satu sama lain.
“Lo tahu sesuatu Ray kalau kaluarga kita menyembunyikan sesuatu yang sampai sekarang nggak kita ketahui. Lo akan terkejut mendengarnya.”
“Maksud lo?”
“Lo tahu kenapa Angel datang ke rumah kita waktu itu? itu semua karena permintaan mama.”
“Terus apa masalah lo jadi bersikap kasar sama Angel? Dia nggak ada hubungannya dengan keluarga kita atau mama.”
“Lo salah besar Ray, Angel adalah dalang dari semua ini!”
“Maksud lo?”
“Karena Angel adalah saudara kita, dia juga anak mama!”
Deg!
Ray yang mendengarnya syok. “Lo bilang apa tadi?”
“Angel adalah mama, itu yang gue tahu!”
Ray setengah tak percaya, ia malah tertawa keras. “Saudara? Lo gila ya. Bagaimana mungkin Angel itu anak mama.”
“Kenapa nggak mungkin, kita juga saudara beda mama kan, dan Angel juga begitu.”
“Ayah Angel tak lain adalah masalalu mama.”
“Benarkah?” Angel muncul masuk ke dalam walau sudah dicegah kedua temannya untuk tidak masuk.
“Ayah dan tante Malika?”
To be continued