"Ayah Angel tak lain adalah masa lalu mama.”
“Benarkah?” Angel muncul masuk ke dalam walau sudah dicegah kedua temannya untuk tidak masuk.
“Ayah dan tante Malika?”
***
Angel berlari keluar dari ruangan itu setelah apa yang barusaja didengarnya. Ray yang melihatnya segera mengejar Angel. Julian mematung di tempat, sementara teman-temannya tak bisa berbuat banyak apalagi menyangkut orang tua mereka.
Ray mengejar Angel, "Angel!" teriaknya kencang.
Angel menghentikan larinya tanpa berbalik ke belakang. Tak disangka air matanya menetes saat tahu kenyataan itu.
"Angel!" Ray langsung menarik tangannya dan memeluknya.
"Ray, apa benar? Aku sama Julian itu saudara?"
Ray membisu dan masih memeluknya. "Itu artinya kita saudara juga?"
Ray melonggarkan pelukannya dan menatap Angel tajam. Ia menggelengkan kepala. "Aku yakin ada kesalahpahaman di sini."
"Tapi kalau itu benar?"
Ray menyentuh pucak kepala Angel pelan sambil berbicara dalam hati. "Aku justru berpikir kamu adalah Mika." Ray kembali memeluknya.
Kondisi Malika berlangsung mulai menunjukkan kestabilan bahkan ada pergerakan dari tangannya.
Kondisi canggung terlihat saat di rumah Raveno saat Stefanus ikut makan malam bersama mereka tanpa Julian. Tak ada suara diantara mereka.
"Ray!" Stefanus berucap.
"Besok Mama kamu akan pulang ke Indonesia."
"Mama?"
"Kamu pasti merindukannya kan?"
Ray masih tak percaya dengan apa yang barusaja diucapkan ayahnya itu.
"Beneran Pah?"
"Bukankah kamu ingin bertemu dengannya bukan? Mama kamu ingin melihat kondisi mama Malika."
Tak disangka Ray diam-diam tersenyum senang mendengar berita itu. Mamanya akan pulang—bukankah itu kabar yang bagus. Ray bahkan menunggu momen untuk bisa bertemu dengan mamanya lagi.
Selesai makan malam, Ray membawa Angel ke balkon atas. Awalnya Angel menolak karena jam sudah menunjukkan pukul 21.09 WIB.
"Ray, ini udah malam!" gumamnya
"Aku tahu kok!"
"Terus buat apa bawa aku ke sini, aku ngantuk Ray mau tidur." Saat Angel akan berbalik, Ray menahannya.
"Tunggu, aku pengen nunjukkin kamu sesuatu," ujarnya.
"Sesuatu?" Angel tak tahu.
Ray mendorong Angel ke depan, "Tutup mata kamu."
Angel menurut saja ucapan Ray dan mulai menutup matanya. Selama mata Ray tertutup, Ray mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya—sebuah kalung berbentuk bintang. Ray menunjukkan tepat di hadapannya. Lantas memakaikannya di leher Angel.
Angel yang melihat kalung yang kini melingkar di lehernya sangat cantik. "Ini cantik Ray?"Angel tersenyum senang.
Ray ikut tersenyum. Melihat kalung yang saat ini dikenakannya membuat Angel teringat akan kalungnya yang ia simpan dulu. “Ray!”
“Iya?”
“Kalung ini, kenapa kamu memberikan padaku?”
Ray menghela nafas panjang, “Pakai nanya lagi, apa itu penting untuk aku jawab. Kenapa harus ada alasan saat memberi sesuatu pada orang yang kita sayang?”
Angel menggaruk tengkuknya, diam-diam malu dengan ucapan Ray barusan. Dari kejauhan Julian yang lewat saat keluar dari kamarnya tak sengaja melihat pemandangan itu di balkon atas.
Saat Angel kembali menuju ke kamarnya, Julian telah berada di depan kamar seakan menunggu kedatangannya. Rasa canggung saat melihat Julian membuat Angel enggan untuk masuk ke dalam kamar. Julian yang saat ini bersandar mulai mendekati Angel.
“Julian?!”
“Apa kamu cukup bahagia sekarang?” bisik Julian pelan di telinga Angel.
Angel tak tahu maksud ucapannya. “Maksud kamu?”
“Angel, kamu tahu posisimu sekarang kan, kamu bukan lagi orang asing di rumah ini, lebih tepatnya bagian dari keluarga ini, Kakak!” Julian sengaja menekan kalimat akhirnya di hadapan Angel.
“Selamat Angel!” ucap Julian setengah hati. ia masih tak terima dengan kenyataan kalau Angel adalah kakaknya.
Setelah selesai mengatakan itu, Julian beranjak pergi. Namun saat itu, Angel menahannya.
“Aku nggak tahu kenapa kamu bisa semarah itu sama aku Julian, jujur aku nggak tahu apa-apa soal ini. ayah juga nggak pernah cerita soal ini, dan soal tante Malika…” Angel menggantungkan kalimatnya.
“Dia..dia sangat baik, bahkan saat aku masih kecil, aku nggak pernah bertemu dengan ibu kandungku sendiri.”
“Sekarang kamu bisa menemuinya setiap saat.”
“Bukan Julian, aku ngerasa ini ada kesalahpahaman. Aku senang tante Malika jadi ibu aku, tapi… aku ngerasa orang yang kamu maksud itu bukan aku, tapi kakakku, Angel!”
Jullian menautkan kedua alis bingung, “Maksud kamu, siapa Angel yang kamu maksud?”
“Dia…dia…” Angel enggan untuk menjawab
Julian yang diambang batas kesabaran mulai memaksa Angel. “Jawab aku Angel, siapa kamu sebenarnya?”
Angel menggelengkan kepala, “Aku…aku…”
“ANGEL!”
“Julian!” teriak Ray dari kejauhan saat melihat keduanya. Tak pikir panjang Ray langsung menghampiri mereka dan menarik Angel dari cengkraman Julian. “Apa yang lo lakuin sama Angel?”
Terlihat Angel ketakutan, ia pun bersembunyi di belakang Ray. “Segitu marahnya lo sama Angel, hah?!”
“Bukan urusan lo!”
“Urusan Angel, urusan gue juga. Kalau lo macam-macam sama Angel, lo berurusan sama gue.”
Keduanya kembali bersitegang, “Biarin gue bicara sama Angel, Ray!”
Namun Ray tetap menghalanginya, digenggam erat tangan gadis itu yang gemetar karena takut. Julian terus mendesaknya hingga kesabaran Ray habis dan langsung mendorong laki-laki itu. Sialnya hal itu dilihat langsung oleh omanya yang tak sengaja lewat.
“RAY!”
Ketiganya menoleh ke belakang, kedatangan oma secara tiba-tiba membuat mereka terkejut, terlebih Ray.
“Oma!”
Plak, satu tamparan diterima Ray cukup keras di hadapannya, Ray tak bisa berkutik. “Apa yang kamu lakukan pada Julian?”
Sakit, tentu saja, bahkan memar terlihat di sudut bibir Ray setelah mendapat tamparan itu.
“Oma!” ucap Angel
Kini pandangan oma teralih pada Angel, “kamu juga gadis pembawa sial di rumah ini.”
Angel tertunduk takut, terlihat Ray mengeratkan kepalan tangannya kesal, namun laki-laki itu tak bisa berbuat apa-apa untuk membela diri. Oma kembali beralih pada Julian.
“Julian, kamu baik-baik saja kan?”
“Nggak papa oma!”
Angel dapat melihat raut wajah Ray yang seakan iri melihat Julian selalu dibela omanya.
***
Di kamar Ray
Ray membaringkan tubuhnya di kasur sembari melihat foto album masa kecilnya dulu. Pesta ulang tahun, liburan keluarga, bahkan saat kelulusan sekolah dulu, terlihat Julian selalu bersama omanya. Dari mendapatkan bingkisan, bunga, bahkan ucapan selamat selalu diterima Julian. Sementara dirinya, hanya sebatas bunga dari ayahnya.
Bahkan di satu foto bersama dengan keluarga, terlihat Julian begitu diperhatikan oleh ayah dan mama Malika, sedangkan dirinya, walaupun ikut berfoto dirinya tampak tak begitu bahagia. Dilihat kembali foto lamanya yang lain, ada satu foto saat ulang tahunnya yang ke 5 tahun, hari itu untuk pertama kalinya mamanya pulang dan memberikan kejutan untuknya. Saat itu Ray begitu sangat bahagia.
“Mama!” Ray merindukan sosok ibunya.”Ray rindu mah, mama kapan pulang?”
….
Di salah satu bandara penerbangan, terlihat seorang wanita muda dengan pakaian kasual dengan jaket cokelatnya tengah berjalan dengan membawa kopernya. Tampak dari kejauahan, seorang laki-laki berjas hitam menyambut kedatangannya.
Wanita itu menmbuka kacamata hitamnya dan tersenyum.
“Selamat datang kembali nyonya Lara.”