Lara berjalan sambil mendorong koper besarnya.
"Selamat datang nyonya Lara," tunduk pak Ari
"Terima kasih Pak Ari sudah menjemput saya!"
"Ini atas perintah Tuan Stefan."
Lara tersenyum. "Rupanya dia masih ingat."
"Saya akan bawa kopernya Nyonya."
"Tentu."
Lara mengikuti Pak Ari masuk ke dalam mobil, mereka melaju cepat menuju ke rumah kediaman Raveno. Saat di jalan, sesekali Lara melihat dari balik jendela, suasana kota Jakarta yang padat hari ini. Sudah hampr 5 tahunan ia tak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.
"Nyonya terlihat sangat cantik, sama seperti sebelum saya mengantar nyonya waktu itu " ucap pak Ari di sela-sela mengemudi.
"Terima kasih pak Ari. Oh ya bagaimana keadaan Malika? Apa dia belum sadarkan diri?"
"Sepertinya begitu nyonya, benturan di kepalanya membuat Nyonya Malika hampir kehilangan nyawanya, beruntung masa kritisnya sudah lewat," kata pak Ari.
"Malika, sudah lama aku tidak menemuinya, dia melakukan pekerjaan yang luar biasa dengan merawat dua anak sekaligus."
"Oh ya Pak Ari, apakah Ray baik-baik saja, bagaimana kabar dia sekarang?" Lara tampak bersemangat untuk segera melihat anaknya itu.
"Tuan Ray? Dia sangat baik, bahkan terlihat sangat baik sejak kedatangan nona Angel di kehidupannya."
"Angel? Siapa dia?"
"Pacar tuan Ray."
Lara tertawa kecil. "Anak itu, sudah dewasa juga rupanya. Saya jadi penasaran siapa perempuan yang bisa menaklukkan hati Ray."
"Angel?" Lara penasaran.
***
Tengah malam itu, Lara telah sampai ke rumah, suasana kediaman Raveno cukup sepi. Lara disambut beberapa pelayan terlebih Stefanus yang sudah menunggunya dari tadi. Sebuah pelukan diterima Lara.
"Aku merindukanmu sayang!"
"Aku juga."
"Kamu baik-baik di sana?"
"Tentu, kamu lihat sendiri. Aku membuka cabang bisnis makanan di Singapura."
"Di mana Ray? Apa dia sudah tidur?"
"Dia sudah tidur sejak tadi."
"Aku ingin menemuinya." Lara kemudian berjalan menuju ke kamar Ray. Tanpa diberitahupun, Lara telah tau kamar Ray sekarang.
Kriet, Lara pelan membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Ia mendapati Ray terlelap di kasurnya, terlihat wajahnya tenang. Lara mendekat dan duduk di samping kasurnya.
"Ray!" Lara membenarkan selimut yang melorot di tubuh Ray dan menyelimuti sampai batas leher.
"Selamat malam anakku!"
Mata Ray berkedip seperti terusik sesuatu. Lara yang melihat Ray mengalami mimpi buruk langsung menyentuh dahinya menggunakan telunjuk—sama persis seperti yang pernah dilakukan Angel dahulu.
Perlahan Ray mulai tenang.
"Mama sudah kembali sayang."
"Mama akan membawamu kembali sama mama."
Saat lara akan bangkit dan keluar dari kamar Ray, tetiba tangan Ray menahan Lara untuk beranjak. Walau matanya masih tertutup.
"Mama, jangan tinggalin Ray!"
Lara menoleh saat Ray memanggilnya. Namun saat melihat Ray yang masih tertidur, ia pelan-pelan melepaskan tangan Ray. "Mama ada di sini sayang, Ray nggak sendirian lagi."
"Mama..." Ray mulai melonggarkan cengkramannya dan kembali terlelap.
Hari berikutnya
Saat bangun, Angel yang masuk ke dapur mencium bau harum dari dalam." Siapa yang pagi-pagi udah masak seharum ini?"
Angel bergegas masuk ke dapur, dan mendapati seorang wanita sedang memasak di sana. Bahkan beberapa pelayan berdiri di samping tanpa mengusik wanita yang sedang memasak itu. Angel mendekat.
"Anda siapa ya?"
Lara berbalik, ia melihat gadis muda dsn cantik yang masih memakai piyama. Ia langsung tau siapa gadis itu.
"Angel kan?"
"Kenapa Anda tahu nama saya?"
"Sangat mudah ditebak." Lara berjalan kearah Angel.
Angel masih tak mengenal wanita itu. Menyiapkan makanan dan dia mengetahui namanya, ini aneh.
"Tante!" Panggil Angel, "tante ini siapa? Kenapa tiba-tiba menyiapkan makanan di rumah ini?" Angel masih penasaran.
"Huaaa, Angel kenapa berisik banget pagi-pagi." Ray yang baru bangun dan masih mengenakan celana pendek dan kaos oblong hitam terusik dengan suara di dapur.
Angel menoleh ke belang, begitu juga denga Ray yang masih meregangkan kedua tangan saat masuk ke dapur. Ia mengerjapkan mata melihat sosok yang tak asing berdiri di sana.
"Kamu baru bangun Ray?"
"Ma-mama!!"
Lara tersenyum, ia meletakkan piring hasil masakannya di meja, dan mulai berjalan mendekati Ray. Sementara Ray antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya—mamanya tepat berdiri di depannya.
"Mama!"tanpa pikir panjang, Ray langsung berhambur berlari dan memeluk mamanya—sosok orang yang selama ini ia tunggu kini berada di depannya.
Pelukan Ray benar-benar erat, saking eratnya Lara sempat kesakitan. "Ray!"
"Ray kangen banget sama mama!"
"Iya, mama tahu!"
"Kenapa nggak bilang kalau mama sudah pulang? Ray kan bisa jemput mama ke bandara."
"Mama ingin memberimu kejutan!"
Angel ikut tersenyum melihat Ray yang akhirnya bisa bertemu dengan mamanya kembali.
"Ray rindu banget sama mama!"
"Mama jangan pergi lagi."
Angel tertawa kecil melihat tingkah Ray yang begitu manja saat bersama mamanya. Bahkan suara tawa kecil Angel terdengar oleh Ray sendiri.
"Hei, kenapa tertawa? Apa lucu?"
Angel pura-pura diam seakan tak tahu apa-apa. Tiba-tiba saja Ray menarik tangan Angel dan memperkenalkannya pada mamanya.
"Mah, kenalin ini Angel!"
Angel tampak malu-malu. Bahkan beberapa kali mencubit tangan Ray saking malunya.
"Cantik seperti namanya." Lara tersenyum.
"Dia ini pac—"
"Kakak kita!" Muncul Julian yang masuk dan langsung menyahut.
"Kakak?" Lara menautkan kedua alis bingung, "maksud kalian?"
"Iya tante, Angel adalah kakak kita, dia kakakku."
Lara tak paham apa yang sedang mereka bicarakan. "Tunggu-tunggu? kakak?"
"Dari mama Malika."
Deg!
"Malika? Apa yang kalian bicarakan?"
Angel terdiam, sementara Ray tak bisa berbicara apapun.
"Bukan begitukan Kak Angel?" Julian menatap Angel sinis.