Biar semua tahu , kematian tak mengakhiri cinta.
Kevan berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU. Semalam, setelah Kian merasakan kembali rasa sakitnya, Kian tak sadarkan diri.
Dan tadi pagi, Kian mengalami kejang-kejang. Dokter langsung memindahkan Kian ke ruang ICU.
Kevan masih belom tenang, bahkan Helena sudah pasrah. Helana sudah siap menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Apa pun itu, asal Kian tidak merasakan sakit lagi, Helena rela. Jika boleh memilih, Helena ingin Kian sembuh. Helena ingin Kian seperti sedia kala. Tapi, inilah takdir. Tak akan pernah ada yang bisa menebak dan mengelak dalam menjalaninya.
Kevan sendiri bingung, ia sendiri saja tidak bisa menenangkan hatinya, apa lagi menenangkan Helena. Dia benar-benar gila. Gila karena keadaan.
"Gue harap lo udah siapin hati lo, Van."
Kevan berhenti melangkah. Ia menoleh, mendapati Viery berdiri di ujung lorong dengan jas putih yang kusut dan wajah yang tidak berani menatapnya lama-lama.
"Maksud lo apa?"
"Gue ngomong sebagai dokter." Viery mendekat. "Bukan sebagai temen Kian."
"Kalau gitu ngomong sebagai temen dia." Suara Kevan naik. Seorang perawat yang lewat menoleh sebentar lalu berlalu. "Ngomong sebagai temen dia, Vie. Jangan pakai bahasa yang gue gak ngerti."
Viery menelan ludah. "Kejangnya tadi pagi bukan yang pertama. Semalem dua kali. Otaknya udah gak sanggup nahan tekanan." Ia berhenti, mencari kata yang paling tidak menyakitkan dan tidak menemukannya. "Kalau dia bangun lagi, itu bonus. Bukan kesembuhan."
Kevan diam. Lantai rumah sakit terasa miring di bawah kakinya.
"Gue gak minta lo nyerah," Viery melanjutkan pelan. "Gue cuma gak mau lo hancur karena gak siap."
"Gue gak akan pernah siap." Kevan tertawa, tawa yang keluar salah, lebih mirip isakan. "Lo pikir ada orang yang bisa siap?"
Di ujung lorong, Helena duduk di bangku besi dengan kepala tertunduk. Tasbih di tangannya bergerak sangat pelan, hampir tidak terlihat. Perempuan itu sudah tidak menangis sejak subuh. Air matanya habis, dan yang tersisa hanya doa yang diulang-ulang.
Pukul sebelas, pintu ICU terbuka. Dokter Andreas keluar, melepas maskernya.
"Pasien sadar," katanya. "Tapi lemah sekali. Keluarga bisa masuk, bergantian, sebentar saja."
Helena berdiri terlalu cepat sampai harus berpegangan pada lengan Kevan. Perempuan itu masuk lebih dulu. Dari balik kaca, Kevan melihat Helena membungkuk, mencium kening anaknya lama sekali, bibirnya bergerak tanpa suara. Ketika keluar, Helena menepuk pipi Kevan dua kali.
"Masuk, Nak. Dia nyariin kamu."
Kevan masuk.
Ruangan itu dingin dan penuh bunyi. Bunyi mesin, bunyi napas yang dibantu, bunyi detak yang muncul di layar sebagai garis hijau yang naik turun terlalu lambat. Kian terbaring di sana, lebih kecil dari yang Kevan ingat kemarin. Selang di hidungnya, plester di punggung tangannya, dan wajah yang sudah kehilangan hampir seluruh warnanya.
Kevan duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam jemari Kian, dan jemari itu dingin.
"Aku di sini, Ki."
Kelopak mata Kian bergerak. Perlahan terbuka, hanya sedikit, tapi cukup untuk menemukan wajah Kevan.
"Kamu... nangis lagi." Suaranya nyaris tidak ada, hanya udara yang dibentuk jadi kata.
"Enggak." Kevan mengusap pipinya cepat-cepat. "Ini keringat."
Kian tersenyum. Senyum itu masih senyum yang sama, meski cuma tersisa seujungnya.
"Bohong kamu payah banget."
"Aku belajar dari kamu."
Hening sebentar. Mesin di samping mereka terus berbunyi, sabar, seperti tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Van."
"Iya."
"Maaf ya." Kian menarik napas, dan napas itu terdengar berat. "Aku dulu marah tiap kali kamu nangis gara-gara cinta. Terus aku yang bikin kamu nangis paling banyak."
Kevan menggeleng. Ia mendekatkan punggung tangan Kian ke pipinya sendiri, menahannya di sana.
"Ki, dengerin aku dulu. Sekali ini aja."
Kian menunggu.
"Aku belum pernah ngomong ini ke kamu." Kevan menarik napas dalam-dalam, seperti orang yang mau melompat. "Aku cinta sama kamu. Dari kamu maksa aku makan waktu aku kurus banget, dari kamu nungguin aku di depan kelas padahal kamu udah lulus, dari kamu marah-marah di bandara. Aku cinta sama kamu, Kian. Aku cuma kelamaan takut ngomongnya."
Mata Kian berair. Ia tidak bisa mengangkat tangannya, jadi Kevan yang mendekatkan wajah, membiarkan jemari itu menyentuh lesung pipinya untuk terakhir kali.
"Kamu tahu paling nyebelin apa?" bisik Kian.
"Apa?"
"Kamu ngomong itu sekarang." Sudut bibirnya terangkat. "Pas aku udah gak bisa jawab lama-lama."
"Jawab pendek aja."
"Aku juga." Kian memejamkan mata sebentar, mengumpulkan sisa tenaga. "Aku juga, Van. Dari dulu. Sampai nanti."
Kevan mengangguk berkali-kali, tidak sanggup bersuara.
"Van, satu lagi." Napas Kian tersendat. "Jangan berhenti hidup gara-gara aku. Kamu boleh sedih. Tapi jangan berhenti."
"Aku gak janji."
"Kamu harus."
"Aku gak janji, Ki." Kevan menangis sekarang, tanpa suara, air matanya jatuh di punggung tangan Kian. "Aku cuma bakal usaha."
Kian tersenyum lagi. "Ya udah. Itu cukup."
Genggaman itu melemah pelan-pelan, seperti orang yang mengantuk dan tidak mau mengakuinya.
"Van."
"Iya, Ki."
"Aku capek banget."
"Tidur aja." Kevan mencium kening Kian, lama, sampai bibirnya sendiri gemetar. "Tidur aja. Aku jagain kamu di sini. Aku gak ke mana-mana."
Garis hijau di layar itu melambat. Melambat lagi. Lalu berhenti menjadi garis yang lurus dan panjang, dan alarm berbunyi memenuhi ruangan.
Kevan tidak berteriak. Ia hanya tetap memegang tangan itu ketika Viery dan dua perawat berlari masuk, ketika seseorang menyuruhnya minggir, ketika Helena menjerit di ambang pintu. Ia tetap memegangnya sampai ada tangan lain yang melepaskannya dengan paksa.
Pukul sebelas lewat empat puluh dua, dokter Andreas menyebut sebuah waktu dengan suara datar, dan semua orang di ruangan itu menunduk.
Kevan keluar dari ruangan itu paling akhir. Ia duduk di lantai lorong, punggungnya menempel di dinding yang dingin, dan di situ ia sadar tangannya masih berbau antiseptik. Orang-orang berlalu-lalang, ada yang menangis di ujung sana karena alasan lain, ada perawat yang mendorong troli obat seperti hari ini hari biasa. Dunia ternyata tidak ikut berhenti.
Helena datang, jatuh terduduk di sampingnya, lalu memeluk Kevan tanpa suara. Dua orang yang paling mencintai Kian, duduk di lantai rumah sakit, kehilangan hal yang sama pada menit yang sama.
"Makasih ya, Van," bisik Helena parau. "Kamu satu-satunya yang bikin dia betah hidup lama-lama."
* * * *
Hujan turun di hari pemakaman.
Orang-orang datang dengan payung hitam, berdiri berdesakan di tanah yang becek. Helena dipapah oleh ibunda Kevan. Dion berdiri paling belakang, wajahnya kaku, sesekali mengusap mata dengan punggung tangan dan pura-pura itu air hujan. Viery berdiri di samping Kevan, tidak berkata apa-apa sepanjang upacara.
Kevan tidak menangis. Semua orang menganggapnya kuat. Padahal Kevan hanya sedang tidak merasakan apa-apa, seperti tubuhnya lupa cara.
Ia baru menangis ketika gundukan tanah itu selesai dirapikan, dan seseorang menancapkan papan nama sementara di ujungnya. Kevan berlutut di tanah basah, tidak peduli celananya kotor, tidak peduli siapa yang melihat.
"Aku belum selesai ngomong sama kamu," bisiknya.
Payung Viery bergeser, menaungi kepala Kevan.
"Van."
Kevan tidak menoleh.
"Kamar dia di sana masih kayak dulu," kata Viery pelan. "Gue belum berani bereksin. Kalau suatu hari lo mau lihat, gue anterin."
Kevan tetap diam. Hujan menipis menjadi gerimis, lalu berhenti sama sekali.
Di atas gundukan tanah itu, angin menjatuhkan beberapa helai daun dari pohon di dekatnya. Kevan memungut satu, memasukkannya ke saku, dan tidak pernah membuangnya sampai bertahun-tahun kemudian.