Melbourne, Lima tahun kemudian.
Dia duduk menerawang, menatap landscap kota Melbourne dengan segala bangunannya. Kota yang lima tahun terakhir ini selalu ia kunjungi. Lebih tepatnya saat angin musim gugur berhembus di kota Melbourne. Entah mengapa saat itu begitu tepat sekali dengan segala hal yang menimpanya. Mungkin Tuhan memberinya sebuah hadiah, sentuhan untuk menemani kegundahan yang menyelimutinya.
Matanya masih menatap dedaunan yang gugur dan berserakan di trotoar jalan. Dari balik kaca apartemen Eureka Tower, dia menerawang membandingkan nasib dirinya seperti pohon yang harus merelakan daunnya gugur diterpa angin.
Lelaki itu mengeratkan dekapan di kedua lututnya, penghangat ruangan yang sedari tadi menyala seolah tak berarti apa-apa. Ia masih merasa kedinginin, lebih tepatnya bukan tubuhnya yang kedinginan, melainkan sesuatu di dalam dadanya yang sejak lima tahun lalu tidak pernah benar-benar hangat lagi.
Di meja kecil di sampingnya, secangkir teh sudah lama berhenti mengepul. Di sebelah cangkir itu ada sebuah pembatas buku dari kertas tebal, dan di dalamnya terselip selembar daun kering yang warnanya sudah berubah cokelat pucat. Daun itu ia bawa dari tanah pemakaman, di hari ketika hujan turun sepanjang pagi. Sudah lima kali daun itu ikut menyeberangi laut, dan sudah lima kali pula ia kembali dibawa pulang.
Kevan menyandarkan kepalanya ke kaca. Dingin kaca itu menempel di dahinya, dan ia membiarkannya.
Lima tahun. Angka yang terdengar panjang kalau diucapkan, tapi tidak terasa apa-apa kalau dijalani. Ia tetap bangun pagi. Ia tetap bekerja. Ia tetap menjawab telepon ibunya setiap akhir pekan dan berkata semuanya baik-baik saja, dan ibunya tetap pura-pura percaya. Ia tetap tersenyum di depan orang, senyum yang sekarang lebih rapi daripada dulu, karena senyum yang sering dipakai memang jadi lebih rapi.
Hanya satu yang tidak berubah. Setiap musim gugur, kakinya membawa dirinya kembali ke kota ini.
Terdengar bunyi kunci diputar di pintu depan.
"Lo belum tidur?" Viery masuk, melepas mantelnya, menaruh kantong belanja di meja dapur. Wajahnya lelah, jaga malam di rumah sakit rupanya baru selesai. "Jam segini di sini dingin banget, Van. Pemanasnya udah lo nyalain kan?"
"Udah dari tadi."
"Terus kenapa lo masih meluk lutut kayak anak ilang?"
Kevan tertawa kecil. Tawa yang pendek, tapi asli.
Viery menuang air panas, membuat dua cangkir baru, lalu duduk di lantai tidak jauh dari Kevan. Ia tidak duduk terlalu dekat. Lima tahun ini Viery selalu begitu: ada, tapi menjaga jarak yang cukup supaya Kevan tidak merasa didesak.
"Besok lo mau ke mana?"
"Kampusnya dia." Kevan menerima cangkir itu dengan dua tangan. "Terus perpustakaan yang dia bilang paling sepi. Terus kafe yang kopinya dia bilang pahit banget tapi tetep dia beli tiap pagi."
"Rute yang sama tiap tahun."
"Rute yang sama tiap tahun," Kevan mengulang.
Ponsel di pangkuannya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Tante Helena, seperti yang selalu terjadi setiap tanggal ini. Sebuah foto: gundukan tanah yang sudah rapi, rumput yang baru dipangkas, dan sebuket bunga lili putih yang diletakkan miring di dekat batu nisan.
Bunga lili. Perempuan itu masih ingat, karena Kevan pernah bercerita bahwa Kian pasti bosan kalau tiap hari dibawakan mawar.
Kevan menatap foto itu lama sekali, lalu mengetik balasan dengan jempol yang tidak stabil.
Makasih, Tante. Nanti Kevan gantiin airnya pas nyampe.
Balasannya datang cepat. Hati-hati di jalan, Nak. Mamah tunggu di rumah.
Kevan menaruh ponselnya terbalik di lantai. Ada yang menekan pangkal hidungnya dari dalam, dan ia menunggu sampai tekanan itu lewat.
Viery menghela napas. "Lo tahu gak, sebagai dokter gue harusnya bilang ini gak sehat."
"Terus sebagai temen?"
Viery diam agak lama. "Sebagai temen, gue cuma mau tanya. Lo ke sini buat inget dia, atau buat mastiin lo masih sakit?"
Kevan tidak menjawab. Ia memandang keluar, ke deretan lampu kota yang berpendar di bawah sana, ke pohon-pohon di tepi trotoar yang sedang melepas daunnya satu per satu tanpa perlawanan.
"Dua-duanya kali," katanya akhirnya.
Di sudut ruangan, di atas rak, ada sebuah laptop tua yang sudah lama tidak dinyalakan. Kevan tahu apa yang ada di dalamnya. Ia pernah membukanya sekali, di tahun pertama, dan menemukan sebuah folder tanpa nama berisi foto-foto dirinya sendiri. Kevan yang sedang tertawa. Kevan yang sedang makan. Kevan yang tidak pernah tahu sedang dipotret. Foto-foto yang dikirimkan diam-diam oleh seseorang selama bertahun-tahun, disimpan oleh seorang lelaki yang tidak pernah sekali pun mengaku sedang menunggu.
Setelah hari itu, Kevan tidak pernah membuka laptop itu lagi. Bukan karena tidak mau. Karena tidak sanggup.
"Vie."
"Hmm?"
"Dia pernah minta lo janji, kan?"
Tangan Viery berhenti di udara. Cangkirnya turun perlahan ke lantai.
"Gue denger semuanya waktu itu," lanjut Kevan tenang. "Di depan pintu kamar rawatnya. Dari awal sampai akhir."
"Van..."
"Gue gak marah." Kevan menoleh, dan untuk pertama kalinya malam itu ia menatap Viery lurus-lurus. "Gue cuma pengen lo tahu, lo udah nepatin janji lo. Lima tahun lo jagain gue. Lo anter gue ke sini tiap tahun, lo bikinin gue teh, lo dengerin gue ngomongin dia berulang-ulang sampai lo hapal. Itu udah lebih dari cukup."
"Tapi?"
Kevan tersenyum tipis. Viery memang selalu tahu ada kata "tapi".
"Tapi janji itu gak berlaku buat hati gue, Vie. Kian gak berhak nyerahin itu ke siapa pun. Bahkan ke lo. Bahkan ke dirinya sendiri."
Viery menunduk. Lama sekali. Ketika ia mengangkat wajahnya lagi, ada sesuatu yang seperti lega dan patah pada saat yang bersamaan.
"Gue tahu," katanya. "Gue udah tahu dari dulu."
"Terus kenapa lo masih di sini?"
"Karena gue gak pernah minta jadi pengganti dia." Viery mengangkat bahu, mencoba tertawa dan gagal. "Gue cuma gak mau lo sendirian pas lo lagi nangis. Itu aja. Boleh kan?"
Kevan tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengulurkan tangan, menepuk punggung tangan Viery satu kali, lalu menariknya kembali.
Malam itu mereka duduk berdua di lantai sampai teh yang kedua ikut dingin, tanpa banyak bicara lagi. Di luar, angin musim gugur terus menggugurkan daun, sabar dan tidak pernah selesai.
Sebelum tidur, Kevan berdiri di depan jendela untuk terakhir kalinya malam itu. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca, tepat di titik di mana embun napasnya membentuk lingkaran kecil.
"Aku ke tempat kamu lagi, Ki," bisiknya. "Tiap tahun aku ke tempat kamu. Kamu tahu kan?"
Tidak ada yang menjawab. Tidak pernah ada.
Tapi di bawah sana, sehelai daun terakhir lepas dari rantingnya, melayang panjang, dan mendarat di trotoar bersama daun-daun lain yang sudah lebih dulu jatuh. Dan entah kenapa, malam itu Kevan merasa sedikit lebih hangat.
Lusa ia akan pulang. Akan ada penerbangan panjang, akan ada bandara yang selalu membuat dadanya sesak karena satu kenangan tentang seseorang yang pernah ia kejar di sana. Lalu ia akan langsung pergi ke satu tempat, membawa bunga, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali kakinya kembali menginjak tanah air.
Karena orang yang ia cintai memang sudah tidak ada di mana-mana.
Dan justru karena itu, Kevan mencarinya di semua tempat.