KEVAN P.o.V
Lima tahun berlalu, semua sudah berubah. Tapi satu yang tidak berubah. Perasaanku padanya. Hatiku masih tertutup rapat, menyimpan kenangan dan semua perasaanku untuknya, untuk dia kekasihku, Kian. Mungkin bagi sebagian orang, cinta yang terhalang jarak dan waktu itu berat, tapi bagaimana jika terpisah oleh semesta. Kehidupan dan kematian. Ingin bersama, tapi takdir tidak mengijinkan. Aku yang saat ini sedang merasakannya, saat aku merindukannya. Hanya gundukan tanah dan satu batu nisan dengan nama KIANDRE ALDEVARO. Yang bisa aku lihat. Kulampiaskan semuanya pada gundukan tanah itu, rasa rinduku yang begitu membuncah di hatiku. Dan saat itu, atas ketidak berdayaanku, aku hanya bisa menangis. Menahan sesaknya d**a, menahan sesuatu yang tidak bisa aku lampiaskan dengan memeluknya seperti dulu.
Aku selalu datang pagi-pagi. Bukan karena apa-apa, hanya karena pagi adalah waktu ketika dia paling sering ada di sisiku. Dulu, setiap pagi, aku yang bangun lebih dulu. Aku yang membuat omelet, aku yang menyeduh kopi yang selalu dia bilang kurang pahit, aku yang mengetuk pintu kamar sambil berteriak supaya dia tidak terlambat.
Sekarang aku masih bangun pagi. Bedanya, tidak ada lagi yang perlu dibangunkan.
Aku duduk bersila di samping nisannya. Rumputnya sudah rapi, Tante Helena pasti datang kemarin. Aku mengambil vas kecil yang selalu kutinggal di sini, membuang air lamanya, lalu menggantinya dengan yang baru dari botol yang kubawa. Bunga lili putih kutata satu per satu, pelan-pelan, seperti orang yang punya banyak waktu.
"Aku bawain lili lagi," kataku. "Aku tahu, kamu pasti mau protes. Katanya bosen. Ya udah, protes aja, aku dengerin kok."
Angin lewat. Daun-daun di pohon kamboja di belakangku bergesekan. Aku pura-pura itu jawaban.
"Aku baru pulang dari sana, Ki. Dari kota kamu."
Aku bercerita seperti biasa. Tentang jalan yang sama yang kususuri lagi, tentang kampusmu yang sekarang catnya sudah diganti dan jadi jelek, tentang kafe yang kopinya masih sepahit yang kamu ceritakan. Tentang Viery yang jaga malam terus sampai matanya panda, yang tetap sok tahu meskipun sudah lima tahun lewat, yang masih membuatkan aku teh setiap kali aku diam terlalu lama.
"Dia baik, Ki. Kamu gak salah pilih temen."
Aku berhenti sebentar. Bagian ini yang selalu paling susah.
"Tapi aku belum bisa. Aku udah coba, sumpah aku udah coba. Aku gak mau jadi orang yang nahan hidup orang lain. Cuma tiap kali aku mau ngasih jawaban, yang keluar dari kepalaku selalu kamu."
Aku menunduk, mengusap huruf-huruf timbul di batu nisan itu dengan ibu jari. K-I-A-N-D-R-E. Sudah ratusan kali aku melakukannya, dan tetap saja setiap kali rasanya seperti menyentuh sesuatu yang seharusnya hangat tetapi tidak pernah hangat.
Kamu tahu apa yang paling lucu?
Dulu aku pernah jadi orang yang tak dianggap. Aku pernah punya status, punya sebutan, punya seseorang yang orang-orang bilang milikku, tapi aku tidak pernah benar-benar ada di matanya. Aku menunggu di depan sekolah sampai gerbangnya dikunci. Aku menghapal semua alasannya sampai aku hapal juga nada suaranya ketika dia berbohong. Aku pikir waktu itu tidak ada yang lebih sakit daripada dicintai setengah-setengah.
Lalu kamu datang. Kamu marah-marah setiap kali aku menangis. Kamu memaksaku makan. Kamu menungguku di depan kelas padahal kamu sudah lulus. Kamu membuat aku merasa, untuk pertama kalinya, bahwa aku ini ada. Bahwa aku dianggap.
Dan sekarang aku tahu, ternyata ada yang lebih sakit. Dianggap, dijaga, dicintai habis-habisan, lalu ditinggal oleh alasan yang tidak bisa dimarahi siapa-siapa.
Aku tidak bisa marah pada penyakit. Aku tidak bisa mengirim pesan pada kematian dan menuntut penjelasan. Aku bahkan tidak bisa membencimu, dan itu yang paling tidak adil, Ki. Kalau saja kamu jahat sedikit saja, mungkin aku sudah selesai dari lama.
"Kamu inget gak, di bandara?" Aku tertawa sendiri, dan air mataku jatuh di saat yang sama. "Aku teriakin nama lengkap kamu di depan orang sebanyak itu. Malu banget aku. Tapi kamu berhenti. Kamu nengok."
Aku menyeka mata dengan lengan bajuku.
"Sekarang aku teriak sekeras apa pun, kamu gak bakal nengok lagi ya?"
Hening. Hanya suara burung dan suara kendaraan jauh di balik pagar pemakaman.
Aku merogoh saku, mengeluarkan pembatas buku itu, membuka lipatannya. Daun kering itu masih ada di dalamnya, semakin rapuh setiap tahun. Aku memungutnya dari tanah ini di hari mereka menguburmu. Sekarang warnanya sudah hampir hilang, dan aku takut suatu hari daun itu akan hancur jadi serbuk di tanganku.
Aku takut sekali, Ki. Bukan takut kehilangan daunnya. Takut kalau ternyata ingatanku juga bisa serapuh itu.
"Aku belum lupa suara kamu," bisikku. "Belum. Tapi kemarin aku sempet bingung sebentar. Terus aku panik seharian."
Aku menaruh daun itu di atas nisan, menahan ujungnya dengan sebutir kerikil kecil supaya tidak diterbangkan angin.
Aku ingat kalimat terakhirmu. Jangan berhenti hidup gara-gara aku. Kamu boleh sedih, tapi jangan berhenti.
Aku sudah menjalankannya, Ki, dengan caraku sendiri. Aku bekerja. Aku makan tepat waktu, sebagian besar. Aku menelepon ibu setiap minggu. Aku tertawa, kadang-kadang tawa yang sungguhan. Aku tidak berhenti.
Aku cuma jalan lebih pelan, karena ada bagian dari aku yang tertinggal di sini, dan aku tidak tega meninggalkannya terlalu jauh.
Matahari pagi mulai naik, dan cahayanya jatuh miring di rumput, memanjangkan bayanganku sendiri sampai menyentuh nisannya.
Aku ingat satu pagi, di apartemen, ketika aku duduk di lantai dapur karena baru saja menangisi orang lain. Kamu jongkok di depanku, memegang kedua pipiku, dan bicara dengan nada yang tidak pernah kamu pakai ke siapa pun selain aku.
"Kamu itu bukan bayangan siapa-siapa, Van."
Aku menggeleng waktu itu. Aku bilang, aku ini cuma bayangan. Aku ada kalau dibutuhin, hilang kalau lampunya dimatiin.
"Bayangan itu ada karena ada cahaya," katamu. "Dan kamu itu cahayanya. Cuma kamu terlalu sibuk ngeliatin punggung orang, jadi kamu gak pernah lihat bayangan kamu sendiri jatuh ke mana."
Aku tidak mengerti kalimat itu selama bertahun-tahun. Baru sekarang aku paham. Bayanganku jatuh ke arahmu. Selalu ke arahmu. Bahkan ketika kamu sudah tidak ada di sini untuk menangkapnya.
Matahari terus naik. Bayangan nisan itu memendek pelan-pelan, dan aku tahu sebentar lagi penjaga makam akan lewat dan menyapaku seperti biasa, karena wajahku sudah terlalu dikenal di tempat ini.
Aku berdiri, membersihkan celanaku dari tanah.
"Aku pulang dulu."
Aku membungkuk, mencium batu itu di tempat yang sama seperti dulu aku mencium keningnya.
"Morning kiss," bisikku. "Kayak biasa."
Aku melangkah pergi, dan seperti biasa juga, di langkah ketujuh aku menoleh ke belakang. Aku selalu menoleh di langkah ketujuh. Entah kenapa. Mungkin karena sebagian kecil dari diriku masih menunggu ada suara yang memanggil namaku dari arah sana, menyuruhku kembali, mengatakan bahwa semua ini salah paham yang panjang sekali.
Tidak ada suara.
Cuma angin, dan bunga lili yang bergoyang sedikit, dan sehelai daun kering yang tetap tinggal di tempatnya karena ditahan sebutir kerikil.
Aku tersenyum. Lalu aku berjalan lagi, keluar dari pemakaman, menuju hidup yang harus tetap kujalani.
Sampai tahun depan, Ki.
Aku pasti datang lagi.