"Aku adalah kisah dalam alur waktu yang tentu.
Aku adalah lara dalam setia kata yang tertahan.
Aku adalah bagian dari egois.
Dan kita adalah apa-apa yang tidak pernah sampai."
***
Langit menggelegar malam itu Yasnina kecil tengah duduk menatap ke luar jendela. Berharap hujan segara turun dengan deras agar bisa meredam suara-suara bising dari luar kamarnya. Yasnina sudah ingin terlelap tapi, dia tak bisa tidur nyenyak karena suara-suara kaca yang beradu dengan lantai begitu memekakan telinga. Teriakan-teriakan saling menyalahkan pun kencang menggema.
Yasnina tak mengerti mengapa kedua orang dewasa itu terus bertengkar padahal malam kian larut. Yasnina terus saja menatap jendela meski gelap di luar sana. Terus berharap hujan akan turun, tapi Tuhan tidak mengabulkan. Sepanjang malam Yasnina duduk di dekat jendela mendengarkan orang tuanya bertengkar hingga saat pagi menyambut, Yasnina perlahan membuka mata.
Kilau keemasan cahaya Matahari mengusiknya. Yasnina ternyata masih berada di dekat jendela, semalam dia berbaring di lantai tanpa bantal dan selimut. Tak ada yang membangunkannya. Perlahan tubuh kecil itu beranjak, pintu kamarnya dibuka. Baru saja melangkah Yasnina memekik kesakitan karena pecahan kaca menancap pada telapak kakinya.
“Ibu!” Yasnina berteriak sambil menangis memanggil ibunya, tapi hanya hening yang menyapa.
Yasnina duduk di ambang pintu dengan kaki yang berdarah tak berani melangkah sebab hampran pecahan kaca tersaji di depan matanya. Dia terisak-isak memanggil ibunya, juga ayahnya. Tangisan itu tak didengar selain dinding-dinding rumah yang membisu. Matanya nanar menatap kaki kecilnya yang berdarah dengan pecahan kaca yang masih menancap. Tangan kecil gemetar saat akan menarik kaca yang menancap itu. Baru di sentuh saja rasanya sudah sakit. Yasnina kembali menjauhkan tangannya dari pecahan kaca yang menancap di kakinya itu.
“Hick.. hick.. ibu, kaki Yas sakit.”
Terus saja Yasnina menangis sampai darah di kakinya mewarnai lantai putih itu menjadi merah pekat. Dia tetap duduk di ambang pintu, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, tapi sepi rumahnya seolah menjadi jawaban bahwa dia sendiri. Yasnina berdiri memaksa dirinya berjalan masuk kembali ke kamarnya dengan kaki kira yang diangkat dan ia melompat-lompat kecil dengan satu kaki menuju jendela kamarnya.
Jendela itu tanpa teralis itu dia buka dengan kuat. Yasnina berteriak pada bibi Merry tetangganya. “Bi! Bibi Mery!”
Dari jendela kamar Yasnina bisa melihat bagian belakang rumah bibi Merry. Biasanya dia juga melihat bibi Merry yang tengah memasak di dapur. Tangis Yasnina langsung terhenti saat melihat bibi Merry ada di dapur. Sekali lagi gadis kecil itu berteriak.
“Bibi tolongin Yasnina!”
Bibi Merry melongok dari jendela dapur, berteriak sama seperti yang Yasnina lakukan. “Kamu kenapa?”
“Kaki Yas kena beling bi! Ibu enggak ada!”
Mendengar penuturan bocah kecil itu bibi Merry langsung tergopoh-gopoh menghampiri Yasnina, pintu dapurnya dibuka dengan cepat tanpa ditutup kembali hanya agar bisa melihat keadaan Yasnina. Jendela kamar yang sedikit lebih tinggi dari Yasnina membuat bibi Merry harus menundukkan kepalanya untuk melihat kondisi Yasnina.
bercak-bercak tetesan dari terlihat oleh pandangan bibi Merry. “Astaga! Yas! Kenapa bisa begini?”
Bibi Merry mengangkat tubuh kecil Yasnina lewat jendela untuk dia bawa ke rumahnya. Yasnina dalam gendongan bibi Merry tersenyum. “Yas senang karena bibi Merry selalu bantuin Yas.”
Bibi Merry mengusap pipi Yasnina yang bulat. Semalam dia juga mendengar pertengkaran orang tua Yasnina, tapi tidak berani untuk ikut campur karena itu urusan keluarga mereka. Bibi Merry hanya akan membantu jika itu sudah melibatkan Yasnina. Bukan sekali dua kali bibi Meryy melihat Yasnina menjadi korban kekerasan ayahnya. Sayangnya bibi Merry awam perihal hukum, ditambah tak berani melawan ayahnya Yasnina.
Tubuh kecil Yasnina dibawa masuk ke rumah. Didudukan pada kursi dengan alas duduknya yang sudah berlubang sehingga busa-busa yang menjadi isi dalam kursi itu terlihat. Tangan kecil Yasnina mengoreknya, menarik kain perca yang dijejalkan bibi Merry untuk menambal lubang dikursinya tanpa sempat ditutup lagi.
“Bibi kakinya enggak sakit kok, Yas menangis hanya karena kaget saja.”
Bibi Merry tersenyum, lantas ia berlalu untuk mengambil kotak PK3. Bibi Merry saat masih muda adalah seorang perawat, jadi dia tahu dan faham cara mengobati dan membalut luka di telapak kaki Yasnina. Pelan-pelan pecahan kaca itu ia cabut dari kaki Yasnina.
Yasnina menjerit, lalu kembali menangis. Bibi Merry tersenyum. “Katanya enggak sakit, tapi kok menangis?”
“Kaget bibi, bukan sakit.”
Lukanya memang tidak dalam, tidak perlu jahitan tapi, untuk gadis kecil seperti Yasnina tentu saja itu terasa sangat menyakitkan. Pelan-pelan bibi Merry mengobati kaki Yasnina. Mengoleskan cairan antiseptic yang membuat Yasnina kembali meringis setiap kali kapas itu menekan-nekan pelan bagian lukanya. Cairan pengering luka dioleskan setelahnya sambil ditiupi pelan-pelan luka di telapak kaki kecil itu. Terakhir kaki itu ditempel oleh kapas lalu dibalut kasa yang membelit melingkar bagian tengah kaki Yasnina.
“Nah, sudah selesai. Sekarang kamu sarapan dulu ya, bibi buat nasi goreng.”
“Mau.”
***
Saat kembali ke rumah Yasnina melihat ayahnya bersama Tantri wanita yang dia kenal sebagai tantenya. Yasnina tidak mengerti apa pun jadi dia menurut saja ayahnya meminta ia mendekat. Yasnina menatap bingung pada keduanya.
“Pak, ibu dimana?” tanyanya polos.
“Mulai sekarang tante Tantri yang akan mengurus kamu. ibumu pergi bersama selingkuhannya.”
“Selingkuhan itu apa?”
“Penjahat. Kamu tetap di sini dengan bapak, jangan tinggalkan bapak seperti ibu kamu meninggalkan bapak.”
“Baik pak.”
Yasnina menurut dengan segala titah Handoko. Sejak ia pertama kali bertemu dengan Tantri sejak saat itu juga dia tidak pernah lagi melihat ibunya. Yasnina tumbuh dengan baik dibawah asuhan Tantri dan Handoko. Gadis kecil itu begitu penurut, segala hal yang Handoko larang dia menjauhinya.
Namun ada masa dimana Yasnina ingin mempunyai pilihan sendiri. Waktu membawanya beranjak remaja. Yasnina saat SMP menjalani hari-harinya dengan suka cita. Melupakan segala kesakitannya, Yasnina jatuh cinta pada sosok Devan. Cintanya bersambut dengan baik, tapi Yasnina menyembunyikan hubungannya dari Handoko.
Yasnina tahu bahwa Devan bukan dari kalangan keluarga berada, tidak seperti dirinya. Handoko sudah sering kali mewanti-wanti dirinya agar tidak dekat dengan mereka yang menurut Handoko miskin. Pola pikir Handoko tidak pernah sejalan dengan Yasnina, tapi gadis itu memilih untuk menahan diri.
Walau kehidupan Yasnina terasa berat, tapi kehadiran Devan selalu membuat dirinya lebih baik. Di sekolah dia bisa tertawa dengan riang tanpa beban, tapi lain halnya saat berada di rumah. Tantri ternyata menikah dengan ayahnya, dan mempunyai anak bernama Mikhaila puteri. Yasnina harus rela menjadikan gadis cilik itu adiknya, walau terasa berat.
Yasnina harus menerima apapun yang sudah Handoko tetapkan baginya. Tidak ada penolakan sama sekali. Yasnina tidak boleh menentukan pilihan hidupnya sendiri, namun Handoko tidak menyadari bahwa seseorang bisa saja jenuh. Bisa jadi apa yang Handoko lakukan terhadapa Yasnina menjadi bom waktu bagi lelaki itu sendiri.