“Sebab alasan itu suah hilang,
sebab memang tak lagi mau saling menggenggam.
Melepaskan adalah pilihan.”
***
Derit ayunan besi mengiring hening di antara sepasang kekasih itu. Devan, duduk diam di sisi ayunan lainnya membiarkan Yasnina berayun-ayun seorang diri di taman kota dengan langit merona menemani. Devan tersenyum memandang pada gadis yang memejamkan matanya menikmati angin saat ayunannya bergerak.
Berat memang, tapi keputusan tetap harus dibuatnya. Tali ayunan Devan tahan agar Yasnina berhenti. “Ayo bicara?”
“Aku tidak mau!”
“Yas?”
Yasnina memandang Devan lembut. “Apa kamu lelah karena untuk waktu yang lama harus bertahan denganku?”
“Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin kisah kita hanya berjalan dengan pincang.”
“Aku sudah bilang kalau kamu meminta aku untuk berhenti aku tidak melakukannya. Kalau kamu lelah dengan bapak yang juga tidak merestui kita, sebenarnya aku juga lelah, tapi aku memilih bertahan.” Yasnina kembali berayun-ayun. “Yang sakit di sini bukan hanya kamu.”
Devan menghela nafasnya. Sudah sejak kelas dua SMP dia bersama Yasnina, gadis itu menjadikan pundaknya sebagai sandaran. Hanya saja Devan merasa lelah dan terhina sekaligus karena Handoko tidak pernah sekalipun menganggap dirinya hanya karena perbedaan kasta yang menurut Handoko dirinya berada jauh di bawah Yasnina.
Devan bukan lelaki b******k yang bisa menjalani hubungan tanpa restu dari orang tua gadis yang dikencaninya. “Aku diterima kerja di Kalimatan.”
Kaki Yasnina otomatis menginjak tanah menahan ayunannya untuk berhenti. Mata sendunya memandang pada Devan. “Kalimantan? Apa enggak bisa kerja di Jakarta saja?”
“Aku ikut dengan kakakku Yas, dia menawarkan aku pekerjaan di sana.Mama juga akan ikut Yas, kita akan pindah ke sana.”
Yasnina diam memandangi Devan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kesal perasaannya membawa Yasnina pergi dari taman, Devan mengejarnya menahan tangan gadis itu.
“Kamu enggak mikirin aku? Selama ini aku hanya punya kamu,Van. Kalau kamu pergi, aku sama siapa?” tanya Yasnina dengan air mata yang menggenang.
“Tapi, kamu juga harus mengerti perasaanku setiap kali direndahkan oleh bapak kamu. Apalagi kalau mama juga ikut direndahkan, aku juga terluka.”
“Bertahanlah, aku mohon. Aku juga akan memperjuangkan kita di hadapan bapak.” Yasnina mengiba pada Devan yang selama ini membuatnya bertahan. Cinta yang ia kira hanya cinta monyet namun ternyata sudah bertahan sampai sejauh ini, hanya saja sekarang seperti berdiri di ujung tanduk.
“Tapi, sabarku juga ada batasnya. Aku lelah.” Devan menundukkan kepalanya menatap pada sepatunya yang lusuh. “Aku juga enggak suka dengan kamu yang selalu memberikan aku barang-barang mahal. Itu seperti….”
“Menjatuhkan harga diri kamu, begitu?” tanya Yasnina kecewa. Apalagi saat Devan mengangguk. “Maaf kalau itu menyinggung kamu, tapi aku memberikan itu karena aku ingin. Aku sama sekali enggak bermaksud untuk merendahkan kamu. Aku melakukan itu karena aku sayang dengan kamu.”
“Yas…”
“Udah ya, enggak perlu dibahas lagi. Aku mohon.”
Devan memilih diam, menghadapi Yasnina memang tidak mudah. Gadis itu keras kepala dengan keinginanya. “Ya udah ayo aku antar kamu pulang.”
Meski lebih kaya dari Devan, Yasnina tidak pernah protes perihal motor matic yang mengantar Yasnina kemanapun, atau perihal makan di warung-warung pinggir jalan. Yasnina juga menyusaikan dirinya dengan keadaan Devan. Tidak menuntut banyak hal dari lelaki itu.
Devan selalu menghormati Yasnina sebagai perempuan, menjaga gadis itu dengan tidak menyentuhnya terlalu jauh. Hanya saja ego dirinya juga sama besar seperti Yasnina. Devan lelaki ingin dominan dalam segala hal terhadap perempuannya, tapi dia dikalahkan Yasnina dari segi materi. Itu membuat harga dirinya tercabik, apalagi saat materi menjadi alasan kisah cinta mereka tak direstui.
***
“Baru pulang, Yas?” tanya Tantri saat Yasnina melewati ruang tamu.
Di atas meja dan kursi Yasnina melihat banyak kantong-kantong belanjaan milik Tantri. Adik kecilnya duduk di sana tengah membongkar salah satunya. “Mama habis belanja kok enggak ajak aku?”
“Lho kamu kan sudah dikasih uang sama bapak, belanja sendiri kan bisa.” Tutur Tantri lembut, tapi bukan itu yang ada dalam pikiran Yasnina.
“Bapak belum kasih aku uang bulan ini.” Yasnina ingin jujur perihal Handoko yang akhir-akhir ini tidak memberikannya uang.
“Kamu kan sudah selesai kuliah, ya cari kerja. Tante juga gitu, dulu bahkan tante cari uang sejak SMP. Sekarangkan jaman lebih maju, lebih gampang.”
“Yas juga lagi cari kerjaan kok.”
Tantri tersenyum. “Emang harus begitu biar kamu enggak terus-terusan bergantung sama bapak, kamu juga harus mandiri.”
“Ya udah kalau gitu Yas ke kamar dulu.”
Di dalam kamar Yasnina menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan keras. Matanya menatap pada langit-langit kamar. “Bu, ibu dimana?”
Ponselnya berdering menampilkan nama Ale alis Kale sepupunya. “Yas?” sapa Kale dari seberang sana.
“Kenapa, Le?”
“Lusa gue ke Jakarta, mau sekalian mampir.”
“Boleh, nanti ketemuan aja dimana. Jangan di rumah, aku malas.”
“Iya, di kafenya Jena aja gimana?”
“Boleh-boleh!” Yasnina lalu beranjak dari tempat tidurnya. “Le, kamu belum dapat kabar apa-apa tentang ibu?”
Helaan nafas berat terdengar dari sana. “Belum Yas. mama juga udah tanya-tanya ke teman-temannya, tapi ya gitu ibu kayak menghilang ditelan bumi. Apalagi sekarang kakek dan nenek juga sudah meninggal, mau bagaimana lagi. Kamu yang sabar ya?”
Hanya sabar yang tersisa hingga membuat Yasnina terus bertahan. Kepergian ibunya melemahkan Yasnina, tapi juga dia tak berani bertanya pada Handoko yang otoriter. Yasnina banyak mengalah, banyak menahan segala keinginannya. Dia menghela nafas tak kalah berat dari Kale sebelumnya.
“Le, bawa peyeum ya yang dijual di sekitar Tagogapu.”
“Itu aja? Enggak mau yang lain?”
“Enggak deh.” Yasnina suka dengan rasa asap dari tapai singkong dikelola secara tradisional. Peyeum Bandung adalah kesukaannya, tapi kemudian dia teringat akan makanan khas Cianjur. “Kamu berarti nanti lewat Cianjur kan?”
“Iyalah, kenapa?”
“Bawain Taucho juga, hehehe.”
“YASNINA!” teriakan Handoko dari luar kamarnya membuat Yasnina terlonjak kaget sampai ponsel di tangannya meluncur bebas ke lantai.
Pintu kamarnya dibuka dengan kasar. Handoko dengan muka memerah menghampirinya lalu dengan kuat menamparnya. Suara telapak tangan yang beradu dengan kulit pipi Yasnina terdengar nyaring bahkan Kale pun bisa mendengar suara jeritan Yasninan dari sambungan gelombang yang belum diputus.
“Bapak sudah bilang berapa kali sama kamu jauhi lelaki itu! tadi ada teman bapak yang lihat kamu lagi di taman! Memalukan!”
Yasnina terisak. “Maaf, Pak.”
“Kamu seharusnya berpikir untuk lebih baik dari ibu kamu itu. Bapak sudah capek-capek mengurus kamu dari kecil, masa iya kamu tidak mendengarkan bapak? Bukankah selama ini bapak selalu memenuhi kebutuhan kamu. Apa ini balasan kamu?”
Tak ada bantahan yang keluar dari mulut Yasnina. Gadis itu hanya terisak-isak. Sementara Kale mendengar jelas semuanya dari panggilan yang belum sempat diakhiri itu.
“Janji sama bapak kalau kamu tidak akan mengulanginya lagi.”
“Janji, Pak. Maafkan aku.”
“Awas kalau bapak masih dengar kabar kamu dengan Devan lagi. Bapak yang akan turun tangan langsung menyingkirkan pemuda miskin itu.”
Jika harta adalah ukuran bahagia. Jika harta adalah jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja, lalu mengapa Yasnina merasa begitu terluka. Sakit bukan pada pipinya yang baru saja ditampar melainkan pada sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya. Hatinya, terluka namun tak berdarah. “Sebab alasan itu suah hilang,
sebab memang tak lagi mau saling menggenggam.
Melepaskan adalah pilihan.”