“Memecah sepi, mengaung bak amarah singa.
Tapi, tak satupun telinga mendengarnya.
Hanya kini ruang sepi tanpa pelita.
Aku sendiri mengubur diri berteman hampa.
Lukaku menganga, aku terlena.
Hingga berkawan sepi tak lagi dirasa, sepi adalah biasa,
Untuk duniaku yang tanpa asa.”
***
Dua hari setelahnya semuanya kembali terlihat baik-baik saja. Meja makan itu lengkap dengan hidangan untuk sarapan, terlihat bahagia dan hangat. Mikhaila bercerita tentang teman di sekolahnya. Handoko dan Tantri menanggapi dengan tawa yang hangat. Hati Yasnina tercubit-cubit kecil, perih.
Rasa itu dia abaikan dengan sibuk mengunyah nasi goreng buatan mbok Ijah. Asisten rumah tangga yang setia mengabdi pada keluarga Handoko. Lebih dulu Yasnina selesai makan, dia beranjak. “Pak, aku mau cari pekerjaan dulu.”
“Hmmm.” Hanya gumaman kecil yang terdengar seolah Handoko malas meladeni Yasnina.
Gadis itu keluar dari rumahnya tanpa mobil yang diberikan Handoko padanya. Sungguh pada kemewahan itu tak sekali pun Yasnina merasa bahagia. Langkah kakinya ia bawa menuju rumah bibi Merry sebelum mencari pekerjaan yang ia jadikan alibi agar bisa keluar rumah.
Bibi Merry terlihat tengah menyapu halaman rumah. “Selamat pagi bibi Merry yang cantik.” Sapa Yasnina hangat.
Kekehan terdengar dari mulut wanita tua itu. “Mau kemana pagi-pagi begini sudah rapi?”
“Cari pekerjaan bi.” Yasnina melongok ke dalam rumah. “Delia ada?”
“Ada. Sedang sama ibunya. Katanya hari ini ada pentas seni di sekolah, jadi dia minta diantar karena harus banyak membawa perlengkapan.”
Delia satu sekolah dengan adiknya Mikhaila, sama-sama masih berusia dua belas tahun. Hanya saja Yasnina lebih dekat dengan Delia. Gadis itu selalu menyapanya dengan riang, berbeda dengan Mikhaila yang terkadang menatapnya dengan malas. Padahal saat Mikhaila lahir Yasnina senang, dia sering mengasuh adiknya itu. Namun waktu membawa banyak perubahan.
“Kak Yas!” Delia menyapanya saat baru saja keluar dari rumah.
Di belakang gadis itu ada Ambar—ibunya membawa sebuah kotak besar di pelukkannya. “Kamu mau kemana?” tanya Ambar kemudian.
“Cari kerjaan, kayaknya.”
Ambar tertawa, dia meminta tolong pada Delia untuk membuka pintu belakang mobil. Kotak besar itu ia simpan di sana. “Punyanya bocah tuh, isinya banyak banget.”
“Memang ada pentas apa?”
“Pekan olahraga dan seni sekolah, kak. Aku jadi bagian dekorasi, acara resminya sih nanti tiga hari lagi. Hari ini mau hias-hias sekolah dulu.”
Jika Delia bisa menceritakan banyak hal pada Yasnina tentang kegiatan sekolahnya, lain halnya dengan Mikhaila yang lebih memilih diam saat berada di dekatnya. Padahal sejauh yang Yasnina ingat saat Mikhaila masih berusia tujuha tahun mereka begitu dekat. Entah hal apa yang meracuni pikiran Mikhaila sehingga kini terasa ada banyak jarak di antara mereka.
“Kamu sama tante aja yuk berangkatnya.”
****
Dibandingkan dengan Tantri, Yasnina lebih nyaman membagi kisahnya bersama Ambar. Wanita itu juga banyak tahu tentang kehidupan Yasnina dan keluarganya. Mereka berbincang setelah mengantarkan Delia ke sekolah, karena tujuan Yasnina adalah kafenya Jenahara yang satu arah dengan Ambar maka, dengan senang hati Yasnina diantar oleh Ambar.
Ada banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin Yasnina tanyakan, dia merasa bahwa sekarang adalah waktu yang tepat. “Tante, aku boleh tanya sesuatu enggak soal ibu aku?”
“Memangnya kamu mau tanya apa?”
“Soal ibu yang selingkuh. Apa itu benar?”
Ambar tersenyum sudah menduga kalau Handoko akan meracuni puterinya dengan perkataan yang tidak-tidak tentang Miranda. “Kamu sudah besar sekarang, tante rasa kamu harus tahu kebenarannya. Kamu bisa ikut tante sebentar?”
“Kemana?”
“Kamu ingin tahukan alasan mengapa ibu kamu pergi dan juga tuduhan perihal ibu kamu itu?”
Yasnina mengangguk lalu setelahnya dia membiarkan Ambar membawanya menjauh dari tujuannya semula. Ambar mengarahkan mobilnya ke kediaman lamanya di daerah Kemang. Saat sampai Yasnina mengikuti langkah Ambar sampai mereka masuk ke dalam rumah. Kehadiran mereka di sambut oleh mertua Ambar—ibu Marisa.
Yasnina dipersilahkan duduk. “Bu, ini Yasnina anaknya Miranda. Ibu masih ingatkan?”
Marisa mengangguk. “Tentu, dia sangat mirip dengan Miranda.” Pandangan Marisa tak lepas dari Yasnina. “Tanyakanlah apapun yang ingin kamu tanyakan.”
Lewat Marisa ada banyak hal yang Yasnina tanyakan. Marisa membeberkan alasan dibalik pertengkaran orang tuanya selama ini. Bukan Miranda yang berselingkuh, melainkan Handoko yang berselingkuh dengan adik kandung Miranda, lalu Marisa menunjukan secarik surat dengan tulisan tangan.
“Itu adalah surat dari nenekmu untuk Tantri, tantemu. Bacalah.”
Dengan tangan gemetar Yasnina mengambil sepucuk surat yang usang itu. Tulisan tangan neneknya jelas terbaca. Di dalam surat itu nenek Yasnina menunjukan kemurkaannya terhadap Tantri karena tak mendengarkan kata-katanya untuk tidak pergi ke Jakarta. Dari sana Yasnina menyimpulkan bahwa baik Tantri maupun Handoko—ayahnya sama-sama salah.
“Ibumu tidak salah nak, dia pergi bukan untuk menelantarkan dirimu melainkan untuk mengobati hatinya. Tidak ada seorang istripun yang rela suaminya menikah lagi dengan wanita lain apalagi itu adalah adik kandungnya sendiri.”
Yasnina menangis kembali menahan rasa sesaknya. “Nenek tahu kemana ibu pergi?”
“Untuk hal itu nenek tidak tahu, tapi jika Tuhan berkehendak kalian pasti dipetemukan lagi. Bersabarlah, Yas.”
Atas rasa sakitnya Yasnina memaksa dirinya lagi untuk tetap kuat. Setelah sedikit fakta yang dia ketahui tentang kepergian ibunya, Yasnina beranjak bersama Ambar kembali mereka keluar dari rumah itu. Yasnina menyalami Marisa, berterima kasih pada wanita itu karena sudah menunjukan siapa yang salah dan yang benar. Surat dari neneknya ia bawa. Surat itu seharusnya untuk Tantri, namun Tantri membuangnya tanpa mau dibaca.
Marisa yang saat itu berada di rumah besannya—Merry melihat hal itu. Dia mengambil surat tersebut. Bagiamanapun bagi Marisa, ibu dari Yasnina juga anaknya. Miranda pernah bekerja dengannya di salah satu butik miliknya. Melihat Miranda terluka sama seperti melihat anaknya sendiri terluka.
***
Yasnina menyapa Devan yang sudah menunggunya di kafe milik Jenahara salah satu teman dekatnya. Senyuman di wajah Yasnina mengembang saat melihat ternyata Devan tak sendiri, kekasihnya itu duduk bersama Kale—sepupu tersayangnya. Mereka nampak berbincang diiringi tawa, Yasnina menepuk punggung Kale.
“Sudah dari tadi?”
“Lumayan, kamu kelamaan. Habis dari mana?” tanya Kale memandang Yasnina lembut.
“Ada urusan dengan tante Ambar.” Yasnina lalu duduk di sisi Devan. “Oh iya, kamu ada apa kok tiba-tiba ngajak aku ketemu juga?”
Sebelum bicara Devan sekali lagi meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang diambilnya sudah benar. “Ayo kita akhiri hubungan kita.”
Yasnina tidak lagi membantah seperti kemarin. “Oke kalau itu membuat kamu merasa lebih baik.”
Namun kali ini Devan yang tercengang. Yasnina pasrah begitu saja, tapi dia juga tidak bisa menarik lagi kata-katanya. “Hubungan kita diawali dengan baik-baik, maka aku juga harus mengakhirinya baik-baik. Maafkan aku kalau selama ini aku banyak salah padamu, Yas.”
“Aku juga minta maaf karena selalu merepotkan kamu.”
Sebenarnya dalam hati Yasnina sudah menangis pilu. Berpisah adalah bukan maunya. Ditinggalkan bukan inginnya, tak sekali pun terbersit dalam benakanya untuk mengakhir hubungannya. Yasnina mencintai dengan sangat, tapi juga dia tak akan membuat yang dicintainya merasa terluka dengan kebersamaan mereka. Kini hanya tinggal menerima kenyataan bahwa hubungan mereka usai. Devan lebih dulu pamit dan keluar dari kafe. Yasnina masih bertahan bersama Kale. “Le, aku ke Bandung. Mau cari ibu.” Ujar Yasnina penuh keyakinan.