Shalter berdiri dengan bola di depan perut ketika Peter masuk ke halaman. Ia memandang ayahnya, kemudian jam pada dinding dekat pintu. Jarum baru mendekati pukul empat. Sabelle melihat gerakan itu dan tidak menambahkan apa pun. Anak tersebut sedang memeriksa sendiri apakah sesuatu yang dijanjikan benar-benar terjadi.
'Halo,' kata Peter.
'Daddy sudah datang.'
Ucapan itu terdengar seperti pemberitahuan kepada dirinya sendiri. Peter mengangguk, mengatakan sudah datang dan siap mengikuti permainan yang dipilih Shalter. Ia tidak menyebut kesempatan kerja yang dilewatkan. Halaman ini tidak perlu diisi orang dewasa yang ingin dipuji sebelum mulai memberikan waktunya.
Frank muncul pada pintu belakang bersama Emily. Peter menyapa dan mengucapkan terima kasih karena tempatnya dapat digunakan. Pria yang lebih tua menerima dengan anggukan pendek. Ia mengatakan bola jangan dimainkan ke arah jendela dan jalur pintu harus tetap dapat dilewati, lalu memberi ruang tanpa berpura-pura hubungan mereka sudah kembali seperti dahulu.
Sabelle duduk pada tempat yang dapat dilihat anak, membantu meletakkan air serta barang yang dibawa. Emily menemaninya sambil merapikan beberapa hal kecil. Keduanya tidak terus memberi arahan dari samping. Shalter sudah mempunyai gagasan sendiri: melempar, menerima, lalu mencoba memantulkan pada bagian yang cukup luas tanpa mengenai tanaman Nanny.
Peter mengikuti dengan lebih hati-hati daripada penampilan musik yang sudah dilakukannya berkali-kali. Ia salah memperkirakan satu pantulan dan bola bergerak ke samping. Shalter tertawa, menunjukkan di mana biasanya Mien berdiri, lalu memintanya mencoba dari jarak itu. Nama temannya dapat disebut tanpa membuat ayah berhenti bermain.
'Begini lebih gampang,' kata Shalter setelah menerima bola.
'Baik. Kamu yang tunjukkan dulu.'
Anak itu mencoba memperlihatkan gerakan yang dilatih. Tangannya belum selalu mengikuti keinginan dan satu kali bola terlepas. Ia menunduk kesal, lalu memandang Peter seperti menunggu komentar. Lelaki itu mengambil benda yang menggelinding dan mengembalikan tanpa menilai apakah ia berbakat atau tidak. Mereka dapat mengulang selama waktu serta tenaga masih ada.
Setelah beberapa kali, Shalter berhasil dan tertawa dengan suara yang membuat Sabelle menoleh. Ia mengenal kegembiraan itu, tetapi tetap merasakan sesuatu bergerak pada dadanya setiap kali mendengarnya kembali. Bertahun-tahun ia ingin putranya mempunyai ayah yang hadir. Melihat satu sore berjalan baik tidak membuat seluruh keinginannya sendiri kembali sama, tetapi kegembiraan anak tidak perlu ditahan agar luka ibu tetap dianggap nyata.
Peter menunggu ketika Shalter meminta minum. Mereka duduk pada kursi yang disediakan, dengan bola diletakkan agar tidak menggelinding. Anak itu bertanya apakah Daddy juga sering lelah ketika bernyanyi. Peter mengatakan iya, lalu menjelaskan secara sederhana bahwa bekerja membutuhkan latihan serta istirahat seperti kegiatan lain.
'Kalau capek, kamu boleh berhenti?'
'Aku perlu mengatur kapan beristirahat dan membicarakan dengan orang yang bekerja bersama. Kalau aku mengabaikannya, bisa membuat pekerjaan berikutnya lebih sulit.'
Shalter mengangguk, kemudian mengatakan ia tadi sempat ingin duduk tetapi takut waktu bermain cepat habis. Peter mengatakan beristirahat juga bagian dari waktu bersama. Mereka tidak harus melempar bola setiap detik agar sore tersebut dianggap berguna. Anak itu tampak memikirkan, lalu bersandar sambil meminum air lebih pelan.
Emily membawa makanan ringan setelah menanyakan yang diperlukan. Shalter berterima kasih dan meminta satu bagian kepada ibunya sesuai kebiasaan. Ia menunjukkan kepada Peter potongan yang bentuknya sedikit miring, lalu tertawa ketika ayahnya memilih yang sama. Beberapa remah jatuh pada meja dan mereka membereskannya bersama sebelum kembali memegang bola. Percakapan kecil itu membuat jeda terasa bagian dari permainan, bukan waktu yang terbuang. Peter melihat betapa banyak hal kecil yang sudah mempunyai cara tanpa dirinya. Ia tidak mencoba menggantinya agar merasa menjadi orang yang memegang keputusan. Ia menanyakan yang belum diketahui, lalu mengikuti tanpa komentar bahwa dulu dirinya biasa melakukan berbeda.
Pada bagian berikutnya, Shalter ingin mencoba permainan menebak arah bola. Sabelle menanyakan apakah mereka sudah mempunyai cukup ruang dan menyingkirkan satu barang yang dapat tersenggol. Setelah itu ia kembali duduk. Tidak ada foto yang sengaja diambil untuk dikirim kepada orang kerja, dan telepon Peter tetap berada di saku sampai ada kebutuhan yang benar-benar perlu ditangani.
Frank sempat berdiri di pintu, memandang cucunya berbicara dengan tangan bergerak cepat. Peter melihat dan menyapa dengan tatapan, lalu tidak memanggil untuk ikut agar semua tampak satu keluarga yang rukun. Pria itu sendiri yang bertanya apakah bola akan disimpan setelah selesai atau dibawa pulang. Shalter menjawab ingin membawa, sebab latihan bersama Mien masih ada pada jadwal berikutnya.
Menjelang waktu berakhir, Sabelle mengingatkan beberapa menit tersisa. Shalter mengeluh pelan, lalu meminta satu percobaan terakhir. Peter mengikuti setelah memastikan memang terakhir, kemudian membantu mengambil bola ketika jatuh terlalu dekat pintu. Anak itu tertawa dan mengatakan sekarang sudah tahu tempat berdiri yang lebih cocok.
'Kita bisa main lagi nanti?' tanyanya.
'Kita bicarakan waktu bersama Mommy,' jawab Peter. 'Aku ingin, tapi kita pastikan dulu.'
Shalter mengangguk tanpa meminta janji selamanya. Ia mendekat dan memeluk singkat, lebih berani daripada di bangku taman. Peter membalas, melepaskan ketika anak bergerak mundur, lalu berterima kasih telah diajak bermain. Tidak ada permintaan supaya ciuman atau kata maaf diberikan sebelum ayah pergi.
Peter berpamitan kepada Emily dan Frank, mengikuti Sabelle sampai bagian yang ditunjukkan. Ia mengatakan terima kasih untuk pengaturan yang membuat anak lebih nyaman. Perempuan itu mengangguk, lalu menerima ketika ia berjanji akan menunggu pembicaraan berikutnya, bukan datang sendiri karena merasa satu sore telah membuat pintu selalu terbuka.
Sesudah kendaraan Peter pergi, Shalter duduk di dekat Sabelle dengan bola di pangkuan. Ia mengatakan senang, kemudian menambahkan masih kadang marah. Ibunya mengusap rambutnya dan menjawab keduanya boleh ada. Mereka membereskan sebelum makan sesuai rencana keluarga. Sore itu tidak menghapus tiga tahun yang hilang. Sore itu hanya menambahkan pengalaman baru yang benar-benar dijalani, cukup nyata untuk diingat Shalter ketika kelak menanyakan lagi apakah seorang ayah dapat belajar hadir.