Frank menutup bagian pekerjaan yang tidak aman didekati sebelum Shalter masuk ke area yang disiapkan untuknya. Bengkel masih menerima pelanggan, tetapi cucunya tidak diberi kebebasan bergerak di antara kendaraan yang sedang dikerjakan. Sebuah meja kecil diletakkan jauh dari jalur orang membawa alat. Di atasnya ada mobil karton yang pernah dibuat bersama, kini sudah mempunyai roda yang dapat berputar dan pita kuning yang mulai kusut pada satu sisi.
Shalter membawa mobil tersebut karena ingin memperbaiki bagian samping yang tertekan. Ia tidak meminta Grandpa membuat dari awal. Ada bekas lem serta garis yang sengaja ingin dipertahankan. Frank menanyakan bagian mana yang boleh dibuka sebelum menyentuhnya. Anak itu menunjuk sambungan tertentu, lalu segera mengatakan roda jangan diganti karena sekarang sudah dapat berjalan lebih baik.
'Kita periksa bodinya saja,' kata Frank.
'Dan pitanya. Tapi jangan dibuang.'
Frank mengambil bahan seperlunya. Mereka menguatkan bagian yang lemah, menunggu lem cukup melekat, lalu mencoba gerak pendek di atas meja. Shalter terlalu cepat mendorong hingga mobil hampir mencapai tepi. Frank mengulurkan tangan untuk menahan, menarik napas, kemudian meminta cucunya mencoba lagi dari posisi yang lebih aman. Tidak ada bentakan bahwa ia selalu membuat barang rusak.
Sabelle datang membawa kebutuhan makan yang telah dibicarakan sebelumnya. Ia melihat ayahnya sedang mendengarkan penjelasan panjang tentang roda yang menurut Shalter tampak miring tetapi justru paling lancar. Pemandangan tersebut hangat dan sedikit menyakitkan. Melihat kelembutan Frank tidak sepenuhnya menghapus ingatan tentang tangannya yang pernah terangkat di rumah sakit ketika semua orang sedang ketakutan.
Mereka makan pada jeda yang tidak mengganggu pekerjaan pelanggan. Setelah itu seorang pekerja meminta keputusan mengenai kendaraan yang belum siap diserahkan. Frank hampir menjawab dengan janji selesai lebih cepat, lalu meminta pemeriksaan ulang sebelum memberi kepastian. Shalter menunggu, sementara Sabelle melihat ayahnya kembali dengan kabar bahwa pelanggan telah menerima waktu yang lebih realistis.
'Grandpa kerja lagi?' tanya anak itu.
'Ada yang perlu kuperiksa sebentar. Kamu tetap di meja ini. Kalau ingin keluar, bilang dulu kepada Mommy.'
Shalter setuju dan mengeluarkan kertas gambar. Sabelle tidak menganggap pengaturan tersebut kegagalan Frank menjadi kakek karena tidak dapat bermain setiap menit. Yang penting ia mengatakan dengan jelas kapan pergi, siapa yang bersama anak, serta tempat yang boleh digunakan. Janji kecil itu dipenuhi ketika ia kembali setelah menyelesaikan urusan yang disebutkan.
Sore hari Emily datang untuk membawa Shalter melanjutkan kegiatan yang sudah direncanakan. Anak itu mengangkat mobil karton dengan kedua tangan, memastikan pita tidak tersangkut pada tas. Frank mengingatkan agar barang tersebut tidak diletakkan di tempat yang dapat terinjak. Setelah mereka pergi, Sabelle membantu merapikan meja dan menanyakan apakah ayahnya mempunyai waktu berbicara sebentar sebelum pekerjaan berikut.
Frank mengangguk. Ia menduga percakapan berkaitan dengan Peter, tetapi putrinya justru menyebut hari di rumah sakit ketika dirinya ditampar. Ayahnya menegang sebelum Sabelle mengatakan ia mengetahui permintaan maaf sudah pernah diberikan. Ia tidak sedang meminta kejadian itu diperlakukan seolah baru diakui sekarang. Ada perasaan lain yang ingin disampaikan setelah banyak masa lalu kembali dibicarakan.
'Aku ingat Papa marah karena takut kehilangan Shalter,' katanya. 'Tapi waktu itu aku juga sedang ketakutan. Aku perlu tahu bahwa kalau nanti aku membuat keputusan yang tidak Papa sukai, tanganku tidak harus siap melindungi wajah.'
Frank menatap meja. Ia tidak mengatakan putrinya terlalu lama menyimpan sesuatu yang sudah selesai. Permintaan maaf dahulu tidak membuat Sabelle kehilangan hak membicarakan dampaknya. Ia mengakui dirinya memukul, bahwa tindakan itu salah, dan bahwa ketakutan bukan alasan membebankan kekerasan kepada orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
'Aku tidak dapat meminta kau lupa karena aku sekarang lebih tenang,' katanya. 'Kalau aku mulai marah, aku yang harus berhenti. Bukan kau yang harus memilih kata supaya aku tidak menyakitimu.'
Sabelle meletakkan sisa pita pada kotak. Ia tidak langsung merasa seluruh ingatan menjadi ringan. Namun jawaban tersebut berbeda dari kebiasaan menjelaskan bahwa semuanya dilakukan demi dirinya. Ia mengatakan ingin didengarkan ketika membahas perpisahan, termasuk bila Frank tidak menyukai cara proses berjalan. Bantuan keluarga tidak boleh berubah menjadi hak memilihkan pasangan atau menekan keputusan putrinya.
Frank menerima, lalu menanyakan apakah pernah membuatnya merasa arah keputusan sudah ditentukan keluarga. Sabelle menyebut beberapa nasihat yang terdengar seperti tugas untuk segera memilih jalan paling aman menurut orang tua. Ayahnya mendengarkan tanpa menyela setiap contoh. Ada bagian yang menurutnya tidak dimaksudkan begitu, tetapi ia menahan pembelaan cukup lama untuk memahami bagaimana ucapan tersebut sampai kepada putrinya.
'Kau boleh mengatakan tidak ingin mendengar nasihatku pada saat tertentu,' ujarnya akhirnya. 'Aku mungkin masih perlu diingatkan. Tapi aku harus mendengar ketika kau mengatakannya.'
Sabelle meminta satu hal lagi: bila ayahnya perlu waktu meredakan kemarahan, cukup katakan akan melanjutkan percakapan sesudah tenang. Jangan pergi dengan ancaman bahwa bantuan keluarga akan hilang. Frank menyetujui dan mengatakan pekerjaan serta kebutuhannya sendiri tetap boleh dibicarakan sebagai batas yang jelas. Mereka tidak perlu menggunakan kasih sayang untuk membuat orang lain takut mengatakan tidak. Sabelle mengangguk, merasa kali ini permintaannya benar-benar didengar.
Mereka tidak menutup pembicaraan dengan pelukan yang diwajibkan. Sabelle mengatakan terima kasih sudah mendengarkan, lalu menyelesaikan pekerjaan merapikan meja. Sebelum berangkat ia meminta salinan catatan pengeluaran yang pernah disepakati. Frank menyerahkan bagian yang telah ditemukan dan menandai yang masih dicari, tanpa menulis tuduhan kepada Peter di sela angka.
Di rumah, Shalter menunjukkan mobil yang kini tidak mudah melengkung ketika diangkat. Ia senang rodanya tetap milik yang lama. Sabelle mendengarkan cerita mengenai percobaan di meja dan larangan berdiri dekat pekerjaan bengkel. Malam itu ia memikirkan tangan ayahnya yang menahan mobil agar tidak jatuh, juga tangan yang pernah melukainya. Mengakui perubahan yang sedang diusahakan tidak mengharuskannya menghapus ingatan. Ia hanya perlu menjaga agar kata maaf diteruskan oleh cara memperlakukan keluarga pada hari berikutnya.