Damien mengabarkan bahwa beberapa jadwal pekerjaannya berubah dan ia tidak dapat selalu mengikuti latihan basket seperti sebelumnya. Ia menyampaikan kepada Sabelle sebelum menjawab undangan Shalter, supaya anak tidak mengira satu pesan singkat berarti ia tiba-tiba ditinggalkan. Ada pekerjaan penjualan properti yang memerlukan waktu, tetapi Damien juga mengakui dirinya membutuhkan pengaturan yang lebih jujur mengenai kedekatannya dengan keluarga.
Sabelle membaca pesan tersebut dua kali. Ia ingin langsung mengatakan tidak perlu menjauh karena dirinya sedang mengurus perpisahan. Namun kalimat itu terlalu mudah terdengar seperti meminta lelaki tersebut tetap menunggu di tempat yang sama, siap hadir tanpa mengetahui apa yang boleh diharapkan. Ia menelepon pada waktu yang ditawarkan dan menanyakan apa yang sebenarnya dibutuhkan Damien, bukan terlebih dahulu menjelaskan mengapa dirinya belum siap memberi jawaban.
'Aku tetap ingin berteman,' kata Damien. 'Tapi aku perlu menjaga caraku hadir. Kadang aku menawarkan bantuan sebelum tahu apakah aku sanggup menerimanya kalau hubungan kita tidak berubah.'
Sabelle duduk lebih tegak. Tidak ada pengakuan cinta yang menuntut jawaban saat itu. Namun kata-kata tersebut membuat hal yang selama ini terasa di antara mereka tidak dapat ditutupi hanya dengan istilah membantu keluarga. Ia menghargai Damien bersedia mengatakannya tanpa membawa Shalter sebagai alasan mengapa ia harus terus berada dekat.
'Apa kau ingin berhenti bertemu Shalter?'
'Aku tidak ingin membuatnya merasa semua hubungan hilang karena keputusan orang dewasa. Aku hanya tidak bisa menjanjikan jadwal yang sama terus-menerus. Kalau ada waktu bermain, aku ingin itu sungguh waktu yang dapat kuberikan.'
Mereka membicarakan jadwal yang masih mungkin. Ada satu latihan yang dapat diteruskan dan satu yang perlu dibatalkan dengan pemberitahuan cukup awal. Sabelle meminta Damien menjelaskan langsung kepada Shalter pada kesempatan yang sesuai, dengan kata sederhana mengenai waktu serta pekerjaan. Anak itu tidak perlu diberi rincian harapan orang dewasa terhadap ibunya.
Ketika pembicaraan disampaikan, Shalter segera menanyakan apakah ia melakukan kesalahan. Damien menggeleng dan mengatakan perubahan bukan karena permainan atau sikapnya. Ia mempunyai pekerjaan serta kebutuhan sendiri yang harus diatur. Mereka masih dapat bermain pada waktu yang telah diperiksa. Jika suatu minggu tidak bisa, ia akan memberi tahu, bukan membuat Shalter mencari di taman tanpa kepastian.
'Mien bosan main sama aku?'
'Tidak. Aku senang bermain denganmu. Tapi aku tidak selalu bisa datang. Dua hal itu bisa benar bersamaan.'
Shalter memikirkan jawaban tersebut sambil memutar bola. Ia menanyakan apakah boleh berlatih sendiri dengan Grandpa ketika Mien tidak ada. Sabelle mengatakan mereka dapat membicarakan waktu yang sesuai dengan Grandpa, bukan menganggapnya otomatis pengganti setiap kali orang lain sibuk. Anak itu mengangguk dan mulai menyebut latihan yang mungkin dilakukan tanpa membutuhkan semua orang hadir.
Pada pertemuan berikut yang memang diteruskan, Damien datang sesuai waktu. Ia tidak bersikap dingin untuk membuat Sabelle menebak. Ia bermain bersama Shalter, memberi jeda ketika perlu, dan tidak memperpanjang pertemuan hanya karena suasananya menyenangkan. Sebelum pergi ia mengingatkan kapan mereka belum mempunyai jadwal lagi. Kepastian tentang ketidakhadiran ternyata lebih dapat dipahami anak daripada janji samar akan datang kalau sempat.
Shalter sempat memperlihatkan latihan yang dicobanya bersama Daddy. Damien mendengarkan tanpa mengubahnya menjadi perbandingan. Ketika lemparan berikut meleset, ia meminta anak memperhatikan arah tangan dan mencoba lagi. Sabelle melihat putranya dapat membawa cerita dari satu hubungan ke hubungan lain tanpa harus menyembunyikan nama orang yang bermain dengannya. Ia ingin ruang seperti itu tetap ada, sekalipun jadwal serta kedekatan orang dewasa berubah.
Sabelle merasa kehilangan ketika kendaraan Damien pergi lebih cepat daripada biasanya. Tidak ada kunjungan tambahan ke toko pada sore itu, tidak ada percakapan yang berlanjut sampai ia menutup pintu. Ia tidak marah, tetapi menyadari betapa banyak rasa aman yang telah diletakkannya pada kesediaan lelaki tersebut untuk selalu mendekat ketika hidupnya terasa berat.
Ia menahan keinginan mengirim pesan meminta ditemani malam itu tanpa kebutuhan yang jelas. Sebagai gantinya ia menyelesaikan rencana bertemu Teressa yang telah dibicarakan. Mereka memilih waktu yang sesuai dan duduk bersama ketika Shalter berada dalam pengasuhan yang sudah diatur. Kali ini Sabelle menanyakan kabar temannya lebih dahulu, kemudian benar-benar mendengarkan cerita yang tidak berkaitan dengan Peter.
Teressa bercerita mengenai Brian yang keliru mengingat kebutuhan sebuah acara, membuat mereka datang membawa barang yang tidak diperlukan. Sabelle tertawa, lalu mengakui dirinya hampir lupa betapa menyenangkan percakapan kecil tanpa keputusan besar. Ketika akhirnya membicarakan Damien, ia tidak meminta Teressa memastikan lelaki itu akan tetap menunggu. Ia hanya mengatakan ada jarak yang membuatnya merasa sedih meskipun memahami alasannya.
'Kau boleh sedih karena perubahan itu,' kata Teressa. 'Tapi kalau kau belum dapat memberi hubungan yang mungkin dia inginkan, sulit juga meminta semuanya tetap persis sama.'
'Aku tahu. Aku sedang mencoba tidak menjawab rasa takutku dengan janji yang belum kumengerti.'
Sore itu tidak menghasilkan keputusan romantis. Sabelle pulang dengan perasaan yang masih bercampur, tetapi tidak menggunakannya untuk mempercepat proses perpisahan atau menyuruh Damien datang kembali. Ia ingin mengenali keinginannya ketika tidak sedang panik kehilangan pertolongan. Lelaki tersebut juga berhak mempunyai kehidupan yang tidak seluruhnya menunggu kapan keluarga Clark membutuhkan dirinya.
Beberapa hari kemudian Damien mengirim kabar mengenai waktu latihan berikut yang mungkin tersedia. Sabelle memeriksa kegiatan Shalter sebelum menjawab. Ia tidak menambahkan pesan panjang tentang rasa rindu untuk mengembalikan kedekatan tanpa membicarakan artinya. Mereka menyepakati bagian yang jelas, lalu membiarkan bagian lain tetap mempunyai waktu sendiri.
Ketika Shalter menanyakan apakah Mien masih temannya, Sabelle menjawab bahwa perubahan jadwal tidak menghapus pertemanan. Ia mengingatkan bahwa Mien telah menerangkan waktunya dan tetap menepati yang dapat disetujui. Anak itu menerima sambil membawa bola kembali ke tempat biasa. Sabelle melihatnya, memahami bahwa dirinya juga sedang mempelajari hal serupa: hubungan dapat tetap berarti tanpa satu orang harus selalu tersedia, dan jarak yang dijelaskan tidak sama dengan pergi tanpa mengatakan apa-apa.