Shalter bertanya ketika Sabelle sedang merapikan pakaian yang sudah kering. Tidak ada tanda ia telah menyiapkan percakapan berat. Ia duduk di lantai dengan kaus yang diminta dilipat, mencoba mempertemukan ujungnya, lalu menanyakan apakah Mommy akan memilih Mien sebagai Daddy baru. Sabelle menghentikan tangannya dan duduk lebih rendah supaya jawaban tidak diberikan dari atas kepala anak yang sedang menebak banyak hal.
'Mengapa kamu menanyakan itu?'
'Kalau Mommy tidak sama Daddy, berarti sama orang lain?'
Sabelle mengatakan tidak ada aturan bahwa dirinya harus segera mempunyai pasangan lain. Mien tetap teman mereka, dan belum ada perubahan yang perlu diumumkan. Perpisahan Mommy serta Daddy tidak membuat seorang ayah hilang lalu harus diganti dengan orang yang datang berikutnya. Peter tetap ayah Shalter, sekalipun hubungan orang tuanya sebagai pasangan sedang diakhiri.
Shalter menarik kaus yang lipatannya kembali terbuka. Ia mengatakan menyukai bermain dengan Mien, tetapi tidak ingin Daddy mengira dirinya telah memilih orang lain. Ia juga takut Mommy sedih bila dirinya lebih ingin bertemu Daddy pada hari tertentu. Sabelle meletakkan pakaian di samping dan membiarkan pekerjaan rumah menunggu. Pertanyaan seperti itu tidak perlu dijawab sambil berulang kali mengingatkan anak agar segera selesai melipat.
'Kamu tidak sedang memilih pasangan untuk Mommy,' katanya. 'Kamu boleh menyukai Mien sebagai temanmu. Kamu juga boleh merindukan Daddy. Itu tidak memutuskan dengan siapa aku harus menjalani hidup.'
'Tapi kalau aku bilang mau Daddy tinggal lagi?'
'Aku akan mendengar bahwa kamu merindukan rumah dengan kami bersama. Aku tidak akan marah. Tapi keputusan hubungan orang dewasa tetap harus kami yang mengambil.'
Anak itu menunduk, lalu mengatakan ia memang ingin hal tersebut kadang-kadang. Sabelle merasakan keinginan lama menenangkan dengan kata mungkin. Ia menahannya karena kemungkinan samar akan membuat Shalter menyimpan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikannya: menjadi cukup baik, cukup lucu, atau cukup sedih agar orang tuanya kembali. Ia mengatakan keinginan anak dapat dimengerti tanpa menjanjikan hasil yang tidak sedang mereka rencanakan.
Mereka duduk sampai Shalter memilih melanjutkan lipatan. Kali ini Sabelle menunjukkan satu gerakan, kemudian membiarkan kausnya tidak serapi miliknya. Tidak setiap kebutuhan harus berubah menjadi pelajaran panjang. Anak itu menanyakan kapan bertemu Daddy berikut, dan ibunya menunjukkan rencana yang sudah pasti. Di sana ada sesuatu yang dapat ditunggu tanpa harus menambahkan harapan mengenai pernikahan.
Sesudahnya Sabelle menghubungi Peter untuk menyampaikan pokok percakapan yang berkaitan dengan pengasuhan. Ia tidak menceritakan setiap kata seolah menyerahkan catatan rahasia putranya. Ia mengatakan anak sedang mengira kedekatan dengan Damien dapat berarti mengganti ayah. Mereka perlu memberi jawaban yang konsisten, tanpa menggunakan pertanyaan tersebut sebagai kesempatan membujuk mengenai hubungan orang dewasa.
Peter diam sebelum mengakui ada bagian dirinya yang ingin mendengar Shalter meminta mereka kembali. Sabelle mengatakan ia mengerti keinginan itu ada, tetapi tidak dapat membiarkannya menjadi tugas anak. Peter menerima. Ia tidak meminta Sabelle meneruskan kalimat bahwa Daddy juga menginginkan hal sama. Putranya membutuhkan orang tua yang sanggup menanggung jawaban sendiri, bukan dua harapan yang diletakkan di bahunya.
Pada pertemuan berikut, Peter memberi kesempatan Shalter membicarakan hal yang diinginkan. Ketika anak mengatakan masih ingin Mommy bersama Daddy, ia menjawab dengan hati-hati. Ia senang mereka pernah mempunyai waktu sebagai keluarga, tetapi keadaan kini berbeda. Ia sedang berusaha tetap hadir sebagai ayah. Shalter tidak harus memperbaiki hubungan perkawinan agar dapat disayanginya.
'Kalau aku main sama Mien, Daddy marah?'
'Tidak. Kamu tidak mengambil sesuatu dariku dengan bermain bersama orang yang kamu percaya.'
'Dia bisa lempar lebih jauh.'
Peter tertawa kecil, menerima bahwa pernyataan tersebut mungkin memang benar. Ia tidak menawarkan perlombaan untuk membuktikan diri. Ia menanyakan latihan apa yang sedang disukai Shalter, lalu mendengarkan penjelasan yang bergerak cepat dari cara memegang bola kepada sepatu yang terasa kurang nyaman. Percakapan kembali menjadi kebutuhan anak, bukan penilaian tentang lelaki mana yang seharusnya berada dekat ibunya.
Sabelle juga membicarakan batas yang sama dengan Damien ketika ada kesempatan. Ia tidak meminta lelaki itu menjelaskan seluruh perasaannya. Ia hanya mengatakan Shalter perlu tidak dijadikan pengantar pertanyaan tentang masa depan mereka. Damien menerima dan memastikan tidak akan menanyakan apakah Mommy pernah menyebut namanya ketika sedang membicarakan perpisahan. Bila ada urusan orang dewasa, ia akan menghubungi Sabelle langsung.
Sebelum latihan berikut, Sabelle juga menyampaikan keluhan mengenai sepatu. Mereka akan memeriksa kesesuaian alas kaki dan tidak meneruskan latihan bila Shalter merasa sakit. Damien mengatakan tidak ada alasan memaksa bermain demi jadwal yang sudah dibuat. Informasi tersebut cukup untuk menjaga kebutuhan anak, tanpa membuka percakapan yang tidak perlu tentang pertemuannya bersama Peter. Sabelle mengonfirmasi waktu, lalu membiarkan rencana tetap sederhana.
Beberapa hari kemudian Shalter memperlihatkan gambar bola kepada Damien, lalu bercerita bahwa Daddy masih belajar menggunakan tangan lain. Tidak ada keheningan canggung yang membuat anak menarik kembali nama ayahnya. Damien menanggapi latihan tersebut sebagaimana biasa, memberi satu saran, kemudian bertanya apakah kaki Shalter masih terganggu sepatu. Sabelle melihat putranya dapat bercerita tanpa memeriksa dahulu wajah setiap orang dewasa.
Malam itu ia menyimpan pakaian yang telah dilipat bersama. Ada satu kaus dengan sisi tidak rata, tetapi sudah cukup rapi untuk masuk lemari. Ia membiarkannya. Hari tersebut tidak menghasilkan anak yang langsung memahami semua perubahan keluarga, sebagaimana beberapa percakapan sebelumnya juga belum menutup semua pertanyaan. Namun satu hal sudah diucapkan berulang dengan jelas: Shalter boleh menyayangi, merindukan, bahkan berharap, tanpa diberi tanggung jawab memilih kehidupan ibunya.
Ketika lampu akan dipadamkan, anak itu bertanya apakah besok boleh membawa bola yang sama. Sabelle mengatakan boleh bila sesuai kegiatan, lalu mengecek tempat menyimpannya. Tidak ada pertanyaan baru mengenai Daddy atau Mien. Ia mengecup kening putranya dan keluar setelah memastikan kebutuhannya selesai. Di balik pintu, ia membiarkan kesedihan mengenai harapan anak menjadi perasaan yang harus diurusnya sendiri, bukan alasan kembali menjanjikan sesuatu yang tidak ingin dijalaninya.