Damien membeli rangkaian kecil untuk kebutuhan pekerjaannya dan menunggu Sabelle menyelesaikan kartu sebelum mengajukan pertanyaan yang berbeda. Ia tidak meminta Shalter menyampaikannya, tidak membuat janji seolah kegiatan anak akan berubah menjadi kesempatan mereka berdua. Ia ingin bertemu Sabelle sebagai orang dewasa, pada waktu yang tidak bergantung pada kunjungannya membantu toko atau bermain basket.
'Ada yang ingin kubicarakan tentang diriku dan cara kita berteman,' katanya. 'Kalau kau bersedia, kita cari waktu. Kalau belum, aku tidak ingin menyelipkannya saat kau sedang bekerja.'
Sabelle meletakkan gunting. Ia dapat menebak arah pembicaraan, tetapi menghargai Damien menyebut keperluannya tanpa berpura-pura hanya ingin membawa makan malam. Ia menanyakan apakah ada keputusan mendesak mengenai jadwal Shalter. Lelaki itu menjawab tidak. Urusan anak tetap terpisah dan tidak akan dibatalkan karena Sabelle belum memberi waktu untuk percakapan lain.
'Aku sedang menjalani proses yang belum selesai,' ujarnya.
'Aku tahu. Aku tidak meminta kau datang sebagai seseorang yang sudah bebas dari semuanya.'
Sabelle tidak langsung menjawab. Ada bagian dirinya ingin menerima karena merindukan kedekatan yang beberapa waktu terakhir lebih terbatas. Ada pula bagian yang takut sebuah pertemuan akan dianggap permulaan hubungan yang belum siap dijalaninya. Ia mengatakan perlu memeriksa waktu serta memikirkan kesediaannya sendiri. Damien menerima, membayar rangkaian yang sudah dipesan, lalu pergi setelah memastikan kartu sesuai kebutuhan pelanggan propertinya.
Pada sore itu, Sabelle meninjau undangan tanpa menuliskan jawaban agar rasa tidak enak segera berhenti. Ia teringat percakapan dengan Teressa dan keputusan memberi Damien ruang untuk mengurus hidupnya. Menolak mendengar selamanya juga dapat membuat mereka terus hidup di antara dugaan. Ia tidak harus berjanji menjadi pasangan untuk bersedia mendengar sesuatu yang ingin disampaikan temannya secara langsung.
Ia memilih waktu dua hari kemudian, setelah toko tutup lebih awal sesuai jadwal yang memang sudah direncanakan. Pengasuhan Shalter diperiksa, bukan diasumsikan. Emily bersedia menemani pada rentang tersebut dan menanyakan apakah putrinya ingin bercerita tentang rencana. Sabelle mengatakan akan bertemu Damien untuk berbicara, lalu meminta tidak ada kesimpulan yang lebih jauh sebelum mereka sendiri memahami maksud pertemuan.
'Aku tidak akan mengatakan kepada Shalter bahwa kalian berkencan,' jawab Emily. 'Kau belum mengatakan itu.'
'Terima kasih. Aku juga tidak ingin ada lelucon yang membuatnya menunggu kabar mengenai ayah baru.'
Mereka mengatur waktu pulang dan kebutuhan anak, kemudian pembicaraan selesai. Sabelle mengirim jawaban kepada Damien dengan batas yang jelas: dirinya bersedia bertemu dan mendengar, tetapi belum menjanjikan hubungan baru. Ia ingin tempat yang tenang tanpa kejutan atau orang lain yang sengaja diundang. Damien menyetujui dan menawarkan pilihan yang dapat diperiksa bersama.
Sebelum hari tersebut tiba, Sabelle menyelesaikan pesanan acara kecil yang pernah diterima. Warna pengganti sudah disetujui, jumlah diperiksa, dan uang muka dicocokkan dengan catatan. Ia menyiapkan sisa tagihan serta petunjuk pengambilan. Ketika pelanggan datang, rangkaian diterima dengan baik setelah satu kartu dipindahkan sesuai keinginan. Pekerjaan selesai tanpa dirinya harus meninggalkan semuanya di tangan Emily demi sebuah pertemuan pribadi.
Teressa mengirim kabar singkat menanyakan hasil pesanan. Sabelle membalas sesuai keadaan dan menyebut rencana berbicara dengan Damien. Temannya tidak membalas dengan deretan ucapan selamat. Ia menanyakan apakah Sabelle merasa memilih waktu tersebut dengan tenang. Setelah menerima jawaban ya, ia mengatakan semoga percakapan berlangsung jujur, apa pun hasilnya. Tidak ada tugas menjadi bahagia agar semua orang yang selama ini membantu merasa usahanya berhasil.
Pada hari pertemuan, Sabelle memilih pakaian yang membuatnya nyaman tanpa meminta seseorang menentukan apakah terlihat seperti hendak berkencan. Ia memberitahukan kepada Shalter bahwa akan pergi sebentar setelah kebutuhan mereka selesai. Anak itu menanyakan apakah Mien akan datang bermain. Sabelle mengatakan pertemuan kali ini untuk pembicaraan orang dewasa dan tidak mengubah jadwal bermain yang sudah diketahui.
'Aku harus ikut?'
'Tidak. Kamu bersama Nanny sesuai rencana. Aku pulang sesudah urusanku selesai.'
Shalter memeriksa waktu pada jam, kemudian kembali pada kegiatannya. Sabelle menyadari betapa mudahnya permintaan orang dewasa berubah menjadi sesuatu yang dianggap anak harus dihadirinya. Ia senang pertanyaan tersebut memperoleh jawaban sederhana. Tidak ada alasan membawanya ke meja yang mungkin berisi perasaan mengenai ibunya, lalu berharap ia cukup sibuk untuk tidak mendengar.
Damien tiba di tempat pertemuan lebih dahulu. Tidak ada bunga di kursi Sabelle, tidak ada hadiah yang membuat penolakan terasa kasar. Ia menyambut, memastikan tempat duduk sesuai, lalu memberi kesempatan perempuan itu memesan minuman. Mereka berbicara sebentar mengenai pesanan toko serta pekerjaan yang membuat jadwalnya berubah, bukan untuk menunda selamanya, melainkan agar keduanya benar-benar tiba di percakapan tersebut.
'Aku senang kau bersedia datang,' kata Damien setelah pelayan pergi.
'Aku ingin mendengar. Tapi aku mungkin belum punya jawaban untuk semua yang ingin kaukatakan.'
'Aku menerima itu.'
Damien sempat menanyakan apakah ia ingin makan. Sabelle memilih menunggu sebentar karena ingin percakapan dimulai sebelum perhatiannya habis pada pesanan. Lelaki itu mengangguk dan meletakkan daftar menu di samping. Di meja dekat mereka seseorang tertawa keras, membuat Sabelle menoleh. Damien menawarkan berpindah jika tempat tersebut terlalu ramai, tetapi ia mengatakan masih nyaman. Pilihan kecil itu menolongnya merasa sungguh hadir, bukan hanya mengikuti pengaturan orang lain. Ia mengambil minum, meletakkannya kembali, lalu mengatakan dirinya sudah siap mendengarkan. Damien tidak lagi mengisi jeda dengan pertanyaan tentang toko atau Shalter. Ia memandang Sabelle dan memilih kata yang selama ini belum pernah diucapkannya secara langsung.
Sabelle menyandarkan tas pada sisi kursi dan memandang lelaki yang selama ini hadir dalam begitu banyak bagian hidupnya. Ia tidak ingin duduk sebagai orang yang sedang diselamatkan atau sebagai ibu yang harus memilih seseorang karena putranya merasa nyaman. Ia datang dengan status yang belum selesai, perasaan yang belum seluruhnya dipahami, serta kesediaan mendengar tanpa menjadikan keduanya alasan berbohong. Damien menunggu sampai ia siap, lalu mulai berbicara tentang sesuatu yang selama ini lebih sering ditunjukkannya melalui kehadiran daripada disebut dengan kata.