'Aku mencintaimu, Sabelle.'
Damien mengatakannya tanpa meraih tangan perempuan di depannya. Kalimat tersebut tidak keras, tetapi mengubah sesuatu yang selama ini mudah disimpan di antara bantuan, perhatian, serta waktu bermain bersama Shalter. Sabelle sudah dapat menebak arah pembicaraan. Mendengar kata yang dipilih dengan jelas tetap membuatnya perlu menunggu sebelum mampu mengangkat wajah.
Damien mengatakan ia tidak mengetahui satu hari tertentu ketika perasaan tersebut dimulai. Ada kedekatan yang tumbuh melalui percakapan serta kehadiran, dan ada saat ia menikmati kebersamaan lebih daripada yang dapat dijelaskan sebagai membantu seorang teman. Ia tidak ingin terus membiarkan semuanya tampak tanpa harapan sementara dirinya diam-diam menunggu sesuatu yang tidak pernah diminta Sabelle untuk dijanjikan.
'Aku tidak mengatakan ini karena sekarang kau sedang berpisah,' lanjutnya. 'Aku sudah mempunyai perasaan itu sebelum prosesnya dimulai. Tapi aku juga tidak ingin memakainya sebagai alasan mendorongmu memilih lebih cepat.'
Sabelle menatapnya. Ia teringat bunga merah pada kunjungan rumah sakit, percakapan di toko, permainan basket, serta cara Damien tersenyum ketika dirinya datang menonton pertandingan terlambat. Tidak semua kenangan tersebut harus diberi satu makna baru. Ada bantuan yang tetap bantuan dan ada ketertarikan yang pernah dirasakannya sendiri, meskipun waktu itu belum siap disebut dengan nama.
'Mengapa baru kaukatakan sekarang?'
'Karena aku mulai mengerti diamku tidak selalu membuat keadaan lebih mudah. Kadang aku hadir sambil berharap kau menebak. Itu tidak adil untukmu, dan tidak baik untukku.'
Ia mengakui bahwa mengatur jarak beberapa waktu terakhir juga berkaitan dengan kebutuhan tersebut. Pekerjaannya sungguh memerlukan waktu, tetapi ia tidak ingin menjadikan pekerjaan satu-satunya penjelasan sambil menyimpan rasa kecewa yang tidak pernah dibicarakan. Ia perlu bertanggung jawab atas harapannya sendiri, termasuk menerima bila Sabelle tidak mempunyai perasaan atau keinginan yang sama.
Sabelle meminta waktu untuk memikirkan kata-katanya. Damien mengangguk dan membiarkan keheningan berlangsung. Ia tidak mengeluarkan daftar semua hal yang telah dilakukan. Tidak ada perhitungan mengenai siapa menemani rumah sakit lebih lama atau siapa bermain dengan anak lebih sering. Yang ditawarkannya adalah perasaan kepada perempuan dewasa, bukan tagihan atas kehidupan yang pernah dibantu.
'Aku tidak ingin kau merasa harus memilihku karena aku dekat dengan Shalter,' katanya. 'Aku menyayanginya sebagai anak yang sudah kukenal. Tapi dia tidak perlu mengatakan sesuatu supaya kau menerima perasaanku.'
Sabelle menarik napas. Bagian tersebut penting baginya, karena begitu banyak keputusan mudah dibungkus dengan alasan terbaik untuk anak. Ia menyukai kenyamanan putranya bersama Damien. Ia juga tahu kenyamanan anak tidak dapat mengambil alih pertanyaan apakah dirinya ingin menjadi pasangan lelaki itu, pada waktu yang sanggup dipilihnya sendiri.
'Aku menghargai kau mengatakan itu,' ujarnya. 'Aku juga tidak mau menjawab hanya karena takut kau pergi kalau aku belum bisa memberi hubungan.'
'Kalau aku perlu mengatur jarak, aku akan mengatakannya dengan jelas. Itu bukan ancaman agar kau mengatakan ya.'
Mereka berbicara tentang kedekatan yang sudah ada tanpa mencoba meresmikannya malam itu. Damien mengatakan dirinya tidak meminta akses lebih besar ke rumah, urusan anak, atau toko karena telah mengucapkan cinta. Ia tetap perlu meminta izin sebagaimana sebelumnya. Sabelle mendengar dengan hati yang mulai hangat sekaligus takut. Kehangatan tidak selalu berarti kesiapan, dan ia ingin cukup jujur membedakannya.
Ia mengatakan menyukai waktu bersama Damien. Ia merasa didengarkan, terkadang merindukan percakapan yang kini lebih jarang, dan menyadari bahwa memikirkan masa depan tidak selalu membawanya kembali kepada Peter. Namun ia belum selesai dengan proses perkawinan, dan masih perlu memahami perasaan tanpa membuat hubungan baru menjadi jalan menghindari sedih yang belum diurus.
'Aku tidak ingin menggunakanmu untuk membuktikan aku sudah baik-baik saja,' katanya.
'Aku juga tidak ingin mendapat jawaban yang lahir dari kebutuhan membuktikan sesuatu kepada Peter.'
'Dan aku tidak ingin kau menganggapku selalu mudah ditemani,' Sabelle menambahkan. 'Ada hari ketika aku terlalu banyak diam atau menolak bantuan dengan cara yang tidak enak.'
'Aku juga bisa tidak sabar. Kau pernah melihatku kesal ketika jadwal pekerjaan berubah.'
Ia tersenyum kecil, teringat Damien mengeluh panjang sebelum menyadari Shalter sedang menirukan wajahnya. Pengakuan itu tidak membuat mereka saling menjanjikan tidak akan pernah bertengkar. Justru ada kelegaan karena keduanya tidak harus datang sebagai orang paling baik dalam hidup seseorang. Bila kelak ada hubungan yang dipilih, mereka perlu mengenal cara berbeda pendapat, bukan hanya cara saling menolong pada hari yang berat.
Setelah itu mereka akhirnya memesan makanan sederhana. Keputusan makan tidak dijadikan tanda bahwa pengakuan diterima sebagai hubungan. Sabelle memang masih ingin duduk serta berbicara, dan Damien memastikan waktunya sesuai sebelum memesan. Percakapan bergerak pada hal lain sesaat: pesanan bunga yang hampir tertukar kartunya, pekerjaan melihat properti yang membuatnya menunggu orang terlalu lama, serta kebiasaan Shalter memberi petunjuk dengan sangat serius ketika bermain.
Ada tawa di antara mereka, bukan untuk menghapus kata cinta yang baru diucapkan, melainkan untuk mengingat bahwa hubungan mereka mempunyai banyak hal selain ketegangan keputusan. Sabelle tidak perlu menjadi perempuan yang seluruh keberadaannya dijelaskan melalui luka Peter. Damien juga tidak hanya lelaki yang berdiri di pintu membawa pertolongan. Mereka dapat saling mengenal melalui pendapat, kesalahan kecil, pekerjaan, serta kesenangan yang tidak selalu membutuhkan seseorang diselamatkan.
Menjelang waktu pulang, Damien menanyakan apakah Sabelle ingin melanjutkan percakapan pada kesempatan lain. Ia tidak meminta tanggal ketika jawaban cinta harus diberikan. Sabelle mengatakan ya untuk berbicara lagi, dengan pemahaman bahwa ada batas yang masih perlu dijaga. Ia tidak menjanjikan hasil akhir sebelum mengetahui apa yang benar-benar diinginkannya.
Mereka meninggalkan meja tanpa pelukan yang diminta sebagai pengesahan. Damien menemani sampai tempat yang disetujui, lalu membiarkan Sabelle pulang dengan pengaturannya sendiri. Dalam perjalanan, perempuan itu mengingat kalimat pembuka yang kini tidak lagi harus ditebak. Ia merasa tersentuh dan belum siap sekaligus. Untuk malam tersebut, ia ingin membiarkan keduanya ada tanpa memaksa satu perasaan berubah menjadi keputusan yang lebih cepat daripada langkah hidupnya.