"Piknik."
Adalah 'tumben-tumbenan' kata yang bisa Maha sematkan untuk istrinya, Pulung Rinjani. Nyonya rumahnya itu sedang kesambet entah apa. Pokoknya dari pagi, dari bangun tidur sampai Maha akan berangkat ke kantor, merengek minta piknik.
"Ke mana?" balas Maha seusai melepas kancing teratas kemejanya. Bokongnya duduk di sisi ranjang dengan Pulung yang tersenyum semringah.
"Yogyakarta, Dieng ... ehm ke mana lagi, ya?"
Rengekan Pulung nyatanya masih diikuti dengan pilihannya akan bertandang ke mana.
"Ini aneh, loh. Kamu nggak biasanya minta piknik bahkan ke luar kota."
"Pengen saja. Kamu harus ada waktu, ya! Nggak mau tahu!"
Perempuan kalau sudah berkata A maka harus A. Tidak bisa dirubah segampang balikin tempe dalam wajan penggorengan.
"Nanti di cek dulu. Di sesuaikan sama kon