Raja Aldric menunggu satu orang sebelum ia pergi.
Tabib-tabib sudah menggeleng dengan cara tabib menggeleng—lembut, terlatih, tanpa kata. Bastian sudah berdiri di luar pintu seperti gerbang yang kedua. Para penasihat sudah menyiapkan surat-surat suksesi dengan tangan yang mereka usahakan tidak gemetar: takhta akan ke keponakan yang sudah disiapkan tujuh tahun, perempuan dua puluh enam tahun yang tenang dan pandai mendengar, yang datang ke kamar itu setiap pagi untuk menerima satu pelajaran terakhir, dan yang akan dinobatkan pada musim semi dengan nama yang sudah dipilih raja tua itu sendiri.
Dan Raja Aldric menunggu. Setiap hari ia bertanya, dengan suara yang makin tipis tetapi masih suara raja: “Sudah sampai di mana?”
Pos berkuda menjawab dari etape ke etape: sudah di sungai garam. Sudah di perbatasan. Sudah di bukit utara.
Pada sore yang cerah, dengan jendela kamar dibuka ke arah taman, kereta kecil dari selatan masuk ke gerbang istana tanpa bendera—dan Kiyo turun darinya, dengan debu seribu mil di bajunya dan pecahan hangatnya di dadanya, dan berjalan melalui lorong-lorong yang sudah mengenalnya, dan masuk ke kamar itu, dan berlutut di samping tempat tidur sehingga matanya setinggi mata raja tua itu, seperti dulu, seperti selalu.
“Kau datang,” kata Raja Aldric.
“Aku datang,” kata Kiyo.
“Bagus. Aku punya satu pertanyaan terakhir, dan aku tidak mau menanyakannya kepada orang yang lebih muda dariku.” Raja tua itu menarik napas—pelan, penuh, seperti orang menikmati sesuatu yang sederhana. “Kau seratus tahun di dasar laut. Lalu diangkat. Lalu hidup. Sekarang katakan padaku, penjaga—dan jangan menghiasnya, aku sudah enam puluh tahun menjabat dan aku tahu bedanya hiasan dan kabar: apa yang menunggu di seberang? Gelap? Tidur? Atau—?”
Kiyo memandangnya lama. Ia bisa mengarang jawaban yang megah. Tetapi ia sudah berdiri di atas terlalu banyak orang yang mengarang jawaban megah untuk luka yang sederhana.
“Aku tidak tahu apa yang menunggu,” kata Kiyo. “Tidak ada yang pernah kembali dan bercerita—kecuali aku, dan aku bukan orang, aku batu yang retak. Tapi aku tahu ini, Baginda, dan aku mengetahuinya bukan dari kitab melainkan dari tangan Aryeh dan dari tangan-tangan setelahnya: yang di seberang itu lebih mudah dimasuki kalau di sini ada yang menunggumu pulang. Kau punya itu. Kau punya itu lebih banyak dari kebanyakan raja—ada anak sembilan tahun di kamar sebelah yang menyuruh kucing menjaga surat-suratmu, dan ada raja baru besok yang akan memerintah dengan pelajaranmu, dan ada seorang batu retak di samping tempat tidurmu yang datang seribu mil karena kau menunggu.” Ia mengambil tangan tua itu dengan dua tangannya. “Kalau di seberang gelap—kau sudah tahu aturannya, Baginda. Kau yang mengajarkannya ke istana ini: jangan takut dulu. Duduk. Dan dengarkan. Dan kalau ada yang mengetuk—”
“—jawab kalau aku mau,” kata Raja Aldric, dan tersenyum, dan untuk sesaat ia terlihat seperti anak kecil yang baru saja mengingat sesuatu yang menyenangkan. “Aku boleh. Aku bukan pintu siapa-siapa.”
---
Raja Aldric meninggal pada fajar, dengan jendela terbuka ke arah taman, dengan tangan yang tidak dilepaskan, dengan wajah orang yang berjalan masuk ke gelap yang sudah menjadi miliknya.
Lonceng istana berbunyi—pelan, beraturan, bukan panik—dan kota itu tahu sebelum kabar sampai, seperti kota-kota selalu tahu. Di pelabuhan, para nelayan menambatkan perahu-perahunya dan tidak melaut hari itu. Di pelataran timur, di rumah jaga yang penghuninya sudah pindah, burung-burung tua Ottilie datang dan bertengger di atapnya, diam, sampai senja—mereka selalu tahu juga; burung-burung selalu tahu.
Lenard menangis di kamar peta, di depan peta Raga yang lingkaran-lingkarannya sudah ditebalkan semua, dengan Sultan di pangkuannya—ikan kayu oranye dengan mata yang agak miring—dan ketika Kiyo datang, anak sembilan tahun itu tidak menyembunyikan wajahnya, karena di rumah ini menangis bukan pelanggaran.
“Dia menunggumu,” kata Lenard. “Sebelas hari. Aku menghitung.”
“Aku tahu,” kata Kiyo. “Pos-pos memberitahuku. Aku tidak tidur di tiga etape terakhir.”
“Kau selalu datang,” kata Lenard, dan suaranya pecah di tengahnya dan ia tidak memperbaikinya, seperti pamannya. “Itu yang kupikirkan waktu lonceng berbunyi. Di dunia ini ada perang, ada laut, ada batu-batu yang menunggu tiga ratus tahun—tetapi Paman Kiyo selalu datang. Kalau itu tetap benar, yang lain bisa kutanggung.”
Kiyo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia duduk di lantai kamar peta, bersandar ke dinding, dan Lenard duduk di sampingnya, dan untuk waktu yang lama mereka hanya dua orang yang memandang peta di mana semua lingkaran sudah ditebalkan—dua orang, satu sembilan tahun dan satu seratus lebih, yang sama-sama tahu bahwa duka tidak diobati; duka ditemani.
---
Pemakaman itu sederhana, atas wasiatnya sendiri: tanpa arak, tanpa emas, dengan peti yang dibawa orang-orang yang dipilihnya satu per satu—Bastian yang pincang, Emeteria yang lurus, Francis yang membaca rumah, Merle yang menulis rumah, Lenard yang mewarisi bukan takhta melainkan rumah—dan Kiyo, yang berjalan paling belakang dengan pecahan hangatnya berdenyut pelan, seperti genderang yang sangat jauh dan sangat kecil.
Di atas nisan, sesuai wasiat, tidak ditulis gelar. Hanya satu kalimat, yang dipilih raja tua itu bertahun-tahun sebelum ia membutuhkannya, yang dibacakan penjaga buku kesembilan—yang datang jauh-jauh dari Meridien, karena Meridien mengirim penjaganya ke pemakaman raja yang menolongnya—dengan suara yang mengisi pelataran tanpa perlu dikeraskan:
*Di sini berbaring orang yang menunggu. Kalau kau lewat dan mendengar ketukan—jawab kalau kau mau. Dia boleh. Dia bukan pintu siapa-siapa.*
Dan malam itu, di menara istana, empat belas pecahan di dalam peti tiga kunci berdenyut pelan serentak—satu kali, dalam, seperti satu jantung yang dibagi empat belas dan masih mengenali iramanya sendiri—dan Lenard menuliskannya di buku catatan peti, dengan tangan yang masih basah tetapi tidak goyang:
*Malam ini mereka berbunyi untuk raja. Semua yang dijaga tahu kalau yang menjaga pergi. Maka kami yang tinggal harus lebih rajin datang. Itu bukan duka. Itu jadwal.*
---