Musim-musim itu dijahit oleh surat-surat—karena dunia ini tidak disatukan oleh pasukan atau perjanjian, melainkan oleh orang-orang yang menulis kepada satu sama lain dan tidak pernah berhenti.
Dari Merle, kepada pamannya, disalin juga untuk Kiyo:
*Kitabnya selesai. Bukan selesai-selesai—penulis tidak pernah selesai; selesai itu kata yang dipakai orang untuk berhenti—tapi jilid pertamanya sudah bisa berdiri sendiri. Tiga ratus salinan pertama habis dalam semusim. Ada yang membacanya di rumah gadai tua di pelabuhan bawah Osseran—rumah gadai Mester Colm, bayangkan, sekarang jadi rumah baca; ada yang membacanya keras-keras di gubuk-gubuk jaga; ada satu yang dibawa pelaut ke seberang laut dan kembali dengan halaman-halaman penuh catatan pinggir dalam bahasa yang tidak bisa kubaca. Paman, orang-orang tidak hanya membaca kitab itu. Mereka *menulisinya terus*. Mungkin itu yang dimaksud kitab: buku yang tidak pernah selesai karena yang membacanya ikut menjaga.*
Dari Bastian, pendek, seperti orangnya:
*Raja lambat tapi bahagia. Dia berjalan ke pelataran setiap sore dengan tongkat dan tidak mau dibantu, dan penjaga-penjaga sudah belajar pura-pura tidak melihat dengan sangat terlatih. Akar di bawah aula—kau harus pulang untuk yang ini, anak batu. Penjaganya melaporkan sesuatu yang tidak bisa kutulis di surat. Bukan bahaya. Sebaliknya. Pulang dan lihat sendiri. P.S. Lenard tumbuh satu jengkal tahun ini dan memakai jubah duke yang sekarang kependekan, dan Emeteria menggerutu sambil menjahit, dan istana ini penuh.*
---
Dan surat yang paling tipis, dari rumah jaga pelataran timur, bukan tulisan Ottilie—tulisan penjaganya, dengan kesedihan yang sopan:
*Nyonya Ottilie meninggal pada tidurnya, malam dua belas. Sebelumnya ia meminta satu hal dan permintaannya dikabulkan Raja: satu pecahan dari peti menara, di bawah pengawasan, untuk dipegang. Ia memegangnya dengan dua tangan dari sore sampai malam, dan para penjaga bersumpah pecahan itu berdenyut—pelan, teratur, seperti orang mengantar tidur. Ia meninggal tanpa melepaskannya. Di mejanya ada tulisan terakhirnya, ditujukan kepada anak batu, dan kami mengirimkannya dengan burung tercepat:*
*Anak batu. Tiga puluh tahun aku menyimpan mereka di beludru dengan label dan tanggal, dan tidak pernah sekali pun kugenggam satu sampai hangat. Malam ini aku menggenggamnya sampai hangat. Kau benar—mereka tidak ingin dilebur, tidak ingin pulang ke satu tubuh; pulang adalah tangan. Sekarang aku tahu, dan tanganku tahu, dan tangan ini sudah tiga puluh tahun dipakai jaringan itu dan malam ini, di jam-jam terakhirnya, akhirnya dipakai untuk hal yang benar. Aku tidak takut. Orang yang memegang sesuatu yang hangat tidak pernah takut. Jaga yang di gunung. Jaga yang kecil-kecil. Dan ingatkan anak-anak penjaga: menyimpan dan menjaga itu bukan kata yang sama, dan seluruh hidupku adalah bedanya.*
*— Ottilie. Pulang.*
Kiyo membaca surat itu dua kali, di tepi tempat tidurnya di rumah jaga Meridien, dan pecahan hangatnya di dadanya berdenyut pelan—berduka dengan cara pecahan berduka: satu denyut panjang, dalam, lalu tenang—dan jauh di bawah, di dasar rumah dua lantai, Yang Jatuh berkata pelan ke dalam gelapnya, kepada diri sendiri, kepada semua yang mendengar:
“*Satu tangan lagi yang benar di dunia. Catat.*”
---
Dan di ibu kota, di bawah aula istana, akar itu mekar.
Tidak ada kata lain untuk itu, dan para penjaga mencoba banyak kata sebelum menyerah pada kata itu. Akar yang berdenyut delapan puluh satu kali sehari, yang diam seperti orang mendengarkan sejak malam tanpa bulan bertahun-tahun lalu—pada suatu pagi musim semi, di tanah dalam ruang bawah aula, akar itu membuka sesuatu dari dalam dirinya: satu keping kecil, sebesar telur, hangat, dengan denyut yang *tidak takut*—tidak seperti semua pecahan yang pernah ada, yang bangun dalam takut atau lapar atau janggal—keping ini bangun seperti anak bangun di pagi libur: pelan, manja, dan yakin pada rumahnya.
Lenard—sembilan tahun sekarang, tinggi, serius, dengan jubah duke yang sudah dijahit ulang—turun sendiri ke ruang bawah aula itu dengan keranjang kecil berlapis kain, dan duduk bersila di depan keping itu, dan tidak menyentuhnya dulu, karena aturannya: tidak menyentuh tanpa perlu.
“Hai,” katanya. “Aku Lenard. Aku yang menjaga rumah di atasmu. Kau bangun dengan benar—tidak ada yang menakutimu, tidak ada yang memancingmu—karena rumah di atasmu dijaga dengan benar. Paman Kiyo bilang itu yang kami semua harus buktikan: bahwa yang retak, kalau dijaga dengan benar, bangunnya tidak menangis.”
Keping kecil itu berdenyut—hangat, penasaran, *pagi*.
“Kau mau lihat matahari?” tanya Lenard. “Aku tidak akan mengangkatmu kalau kau belum mau. Tapi kalau kau mau, ada taman di atas sana, dan kucingku—kucingku namanya Kucing Sumur, aku yang menamai—sedang berjemur di situ, dan dia gemuk, dan dia tidak takut pada apa pun.”
Dan keping itu berdenyut dua kali, cepat, seperti anak mengangguk sebelum diajak bicara dua kali—dan Lenard mengangkatnya dengan dua tangan, ke dalam keranjang berlapis kain, dan membawanya naik melalui aula yang cahaya paginya turun dari jendela-jendela tinggi, dan semua penjaga dan pelayan dan penasihat berhenti di tempat mereka berdiri ketika adipati kecil itu lewat membawa keranjang, seperti prosesi yang tidak diumumkan, seperti fajar yang memutuskan untuk lewat lewat lorong.
Di taman, Kucing Sumur mengangkat wajahnya dari rumput, memandang keranjang itu, lalu berbaring kembali—karena kucing selalu tahu lebih dulu, dan tidak pernah menganggap penting apa yang sudah diketahuinya—dan keping kecil itu, di pangkuan adipati sembilan tahun, untuk pertama kalinya merasakan matahari.
Denyutnya berhenti sebentar—heran—lalu kembali, lebih cepat, lebih hangat, seperti tawa.
Di suratnya ke Meridien malam itu, Lenard menulis, dengan huruf yang besar karena penting: *DIA SUKA MATAHARI. BILANG PADA YANG DI GUNUNG: YANG INI SUKA MATAHARI. JADI DIA JANGAN KHAWATIR SOAL ITU.*
*P.S. Kami menamainya bukan aku yang menamai—kami menamainya bersama, satu istana memilih. Namanya Akar. Karena dia datang dari akar, dan akar tidak pernah ke mana-mana, akar hanya menjaga rumah dari bawah. Emeteria bilang itu nama yang jelek untuk sesuatu yang lucu. Emeteria salah. Itu nama yang benar.*
---