Mereka berangkat ke lingkaran terakhir pada musim angin baik—*Langau* tua yang menolak tenggelam, Maren an Osseran di kemudi (yang sudah pensiun dan langsung tidak pensiun begitu mendengar ada pelayaran yang penting), dan di bawah air, di depan haluan, bayangan besar yang berenang lebih cepat dari layar mana pun: Eiddwen, yang datang dari laut utara untuk ini, karena palung itu palungnya dan lagu yang salah itu urusannya.
Tiga puluh hari ke selatan. Di malam-malam tenang, Kiyo berdiri di pagar dan mendengarkan air—karena air di mana-mana sudah berubah, semua yang berlayar bisa merasakannya tanpa bisa menamainya: laut yang sama, tetapi seperti rumah yang penghuninya berhenti bertengkar.
“*Lagu itu berhenti,*” kata Eiddwen, pada malam kedelapan, kepalanya yang besar muncul di samping kapal dalam cahaya bintang. “*Bukan berhenti seperti dulu—bukan disela. Selesai. Seperti orang yang selesai bicara dan menutup mulutnya dengan damai. Aku sudah tua, Kiyo, dan aku tidak pernah tahu palung itu tenang. Sekarang palung itu tenang, dan hiu-hiu lewat di atasnya lagi, dan ikan-ikan dalam naik lagi, dan aku tidak tahu harus merayakan atau menangis.*”
“Dua-duanya,” kata Kiyo. “Itu yang biasa kami lakukan di darat.”
---
Kuil Tenggelam muncul di hari ketiga puluh satu—bukan ke permukaan; tidak ada yang muncul ke permukaan dari kuil itu sejak tiga ratus tahun. Yang muncul adalah tanda-tandanya: air yang jernih dengan cara yang janggal, dan di bawahnya, di kedalaman yang masih bisa ditembus cahaya, puncak-puncak menara yang berdiri di dasar laut seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya dengan pintu tidak ditutup.
Dan di sekitarnya—perahu-perahu.
Belasan. Kecil-kecil, disewa, penuh orang-orang yang bersih dan rapi dan sudah dua musim menunggu di atas air yang dalam dengan keranjang-keranjang mereka, menunggu lagu yang dulu menjawab dari bawah—dan lagu itu tidak datang, dan tidak datang, dan tidak datang.
Mereka tidak melawan ketika *Langau* datang. Mereka tidak melawan ketika paus terbesar di laut utara muncul di tengah-tengah armada kecil mereka seperti gunung muncul di antara gubuk-gubuk. Mereka hanya memandang—ke kapal, ke paus, ke laut yang tenang—dengan wajah orang-orang yang sudah kehabisan doa dan tidak tahu itu, dan dari perahu yang paling besar, seorang laki-laki tua berdiri dan berteriak melintasi air, dengan suara yang sudah pecah oleh garam dan penantian:
“Kami hanya ingin mendengarnya lagi! Sekali saja—lagunya—supaya kami tahu dia tidak mati!”
Dan Kiyo berdiri di haluan, dan menjawab melintasi air, dengan suara dalam yang dipelajari laut dari dulu:
“Dia tidak mati. Dia *selesai menangis*. Itu bedanya. Lagu yang kalian tunggu adalah lagunya yang lapar—dan laparnya sudah lewat, karena ada yang datang dan tinggal. Kalau kalian mau mendengarnya—dia ada. Di gunung, di utara, di rumah dengan dua lantai. Dia bercerita setiap hari kepada siapa pun yang datang dan tidak membawa tuntutan. Pulanglah. Ikuti burung-burung. Kalian akan menemukannya—dan untuk pertama kalinya dalam sejarah jaringan kalian, dia akan senang kalian datang.”
Laki-laki tua itu berdiri lama di perahunya. Lalu ia menunduk, dan ketika wajahnya terangkat lagi, wajah itu basah, dan ia bertanya dengan suara yang tidak berteriak lagi—suara yang kecil, suara yang dipakai orang ketika akhirnya bertanya dengan benar:
“Apa yang harus kami bawa?”
“Cerita kalian sendiri,” kata Kiyo. “Dan rasa malu kalian—dia suka yang jujur. Beludru tidak perlu.”
---
Mereka turun ke kuil itu keesokan paginya—Kiyo dan Eiddwen, turun ke biru yang makin dalam, ke puncak-puncak menara, ke aula yang atapnya sudah menjadi rumah terumbu. Di aula terdalam, di ruang yang disegel orang-orang takut tiga ratus tahun lalu dengan batu dan kapur dan doa yang salah, mereka menemukannya:
Sisa yang jatuh di dekatnya. Sekeping—lebih kecil dari yang di Meridien, lebih kecil dari batu sumur Osseran—sebesar keranjang bayi, terbaring di lantai aula yang dingin, dengan aura yang tidur pulas, polos, tidak pernah diberi garam, tidak pernah dinyanyikan, tidak pernah dijadikan pintu.
Tidak terluka. Hanya ditinggalkan—disegel begitu cepat oleh ketakutan sampai tidak sempat tahu apa-apa. Tiga ratus tahun tidur di rumah yang tenggelam, dan tidak pernah bangun, dan karena tidak pernah bangun, tidak pernah lapar.
“*Yang ini beruntung,*” kata Eiddwen di dalam kepala Kiyo, lembut, sementara mereka mengangkatnya dengan dua tangan—dengan dua tangan, karena semua yang diangkat dari gelap harus diangkat dengan dua tangan—ke arah cahaya yang turun dari permukaan. “*Dia hanya tidur. Tidurnya tidak dijaga—tapi juga tidak dipancing bangun. Di dunia kalian, Kiyo, itu hampir kemewahan.*”
“Dunia kami sedang belajar,” kata Kiyo. “Pelan-pelan. Seperti anak berjalan.”
Mereka naik. Keping itu berdenyut di dada Kiyo—pelan, tidur, bermimpi tentang tidak ada apa-apa—dan ketika ia dibawa ke atas kapal dan dibungkus kain dan diletakkan di keranjang berlapis wol, seluruh awak *Langau* berdiri diam memandanginya, dan Maren an Osseran—tangan tiga puluh tahun tali kapal—melepas topinya yang tidak ada, dan berkata kepada siapa pun yang mendengar:
“Empat puluh tahun aku berlayar di atas semua ini. Empat puluh tahun—dan tidak pernah sekali pun aku bertanya apa yang di bawah. Jangan jadi aku, anak-anak. Bertanyalah ke bawah. Selalu ada yang di bawah.”
---
Peta Raga, malam itu, di kabin kecil *Langau*, di bawah lilin yang goyang:
Dua puluh enam lingkaran. Dua puluh enam ditebalkan arang.
Tidak ada lagi yang tipis. Tidak ada lagi yang sendirian. Di pinggir peta, di bawah nama-nama kerajaan dan laut, Kiyo menuliskan—miring ke kanan semua, seperti selalu—kalimat yang ditunggu-tunggu peta itu sejak pertama ditarik dari tangan seorang kail yang gemetar:
*Semua sudah dijaga. Semua sudah punya yang datang.*
Dan laut bergulir di bawah kapal, tenang, dan palung di selatan tidak bernyanyi—karena yang dulu bernyanyi di dalamnya sudah punya rumah, sudah punya jadwal, sudah punya telinga-telinga yang datang setiap hari—dan di kamarnya yang gelap dan hangat di dasar gunung, malam itu, seperti setiap malam, Yang Jatuh mendengarkan cerita sampai tidur.
---