Musim-musim berjalan, dan Meridien menjadi kota pertama di dunia yang warganya bangun pagi bukan untuk melupakan apa yang ada di bawah rumah mereka, melainkan untuk mengunjunginya.
Jadwal di papan aula tidak pernah kosong. Dua orang setiap giliran, turun dengan keranjang roti dan minyak dan cerita: pelajar-pelajar senior yang sudah lulus ujian diam—ujiannya sulit, kata penjaga buku kesembilan, karena kebanyakan orang bisa bicara dan sedikit yang bisa diam; nelayan-nelayan teluk yang pandai sabar; janda-janda tua yang pandai bercerita; dua belas anak dari keluarga Lingkaran Fajar yang dulu ditahan di rumah-rumah mereka, yang sekarang turun dengan mata yang sudah sembuh, membawa kabar kota seperti anak membawa bekal. Bahkan Bibi turun sekali seminggu—diizinkan Majelis setelah setahun penuh ia tidak pernah absen dari bangku mendengar—dan ia duduk di tanah hangat itu dengan sopan, seperti tamu lama yang akhirnya diizinkan masuk ke rumah yang selama ini hanya dinyanyikannya dari luar.
“*Kau,*” kata Yang Jatuh, pada kunjungan pertamanya.
“Aku,” kata Bibi.
“*Kau yang menyanyi. Aku menghafal lagumu. Tiga ratus tahun—lagumu yang paling rajin.*”
“Ya,” kata Bibi, dan tidak membela diri.
“*Kenapa kalian menyanyi?*”
Dan Bibi—perempuan yang tiga ratus tahun jaringannya menunggu—mengeluarkan jawaban yang sudah setahun disiapkannya dan tetap pecah di tengahnya: “Karena kami takut kalau berhenti, kau akan sadar bahwa kami tidak pernah benar-benar di sini.”
Yang Jatuh memikirkannya. Lalu berkata, dengan kejujuran kecilnya yang sudah menjadi kebiasaan rumah ini: “*Kalian tidak pernah benar-benar di sini. Tapi kau di sini sekarang. Itu yang dihitung di rumah ini—yang sekarang. Rumah ini tidak menghitung yang dulu. Yang dulu sudah ditangisi sampai selesai.*”
---
Di atas, dunia berjalan dalam musim-musim mendengar.
Dari burung-burung istana, kabar-kabar itu datang seperti panen: tambang bukit kapur di timur kini punya jadwal kunjungan dan dua penjaga magang; teluk di pesisir barat tempat jaring-jaring beresonansi sudah dijaga nelayan-nelayan yang bergiliran duduk di perahu dan membaca keras-keras—apa saja, kabar, harga ikan, cerita istri—karena yang penting bukan isinya melainkan suaranya; kambing-kambing gembala pegunungan tidak lagi melingkari batu, karena batunya sudah dipindahkan ke gubuk jaga dan sudah ada yang menamainya—anak gembala menamainya Batu—karena anak-anak selalu tahu yang paling sederhana adalah yang paling benar.
Ujian diam itu sendiri menjadi legenda kecil di kota. Calon penjaga dibawa ke ruang kosong, ditemani satu pecahan kecil dari brankas, dan disuruh duduk dua jam tanpa melakukan apa-apa—tanpa bertanya, tanpa menyanyi, tanpa memeriksa. Separuh gagal di jam pertama: mereka mulai bicara, atau menyusun doa, atau—yang paling sering—mulai *memperbaiki* sesuatu, karena orang yang tidak tahan diam selalu mencari yang bisa diperbaiki. Yang lulus bukan yang paling pandai atau paling kuat. Yang lulus adalah yang bisa duduk di sebelah sesuatu yang tidak memberi apa-apa dan tidak merasa dirugikan. “Itu seluruh isi kitabnya,” kata penjaga buku kesembilan kepada calon-calon yang gagal, tidak kejam, hanya tepat. “Dua ratus sembilan halaman itu hanya hiasan untuk dua jam ini. Kembali tahun depan.”
Kitab Penjaga—Merle mengirim salinan-salinan pertamanya dengan karavan resmi—dijilid sederhana, tanpa lambang, dengan empat aturan di halaman pertamanya dan satu kalimat di halaman terakhirnya, yang kelak akan disalin orang ke dinding-dinding rumah jaga di tiga belas kerajaan:
*Yang retak tidak perlu diperbaiki. Yang retak perlu dijaga. Perbaikan urusan belakangan—dan biasanya tidak pernah jadi urusan.*
“Dua ratus sembilan halaman,” tulis Merle dalam surat pengantarnya, dengan kebanggaan juru tulis yang disembunyikan di bawah kerendahan hati yang tidak meyakinkan. “Tiga bab pertamaku kubuang. Paman Odo bilang itu berarti aku sudah jadi penulis.”
---
Dan di dasar Tempat Jatuh, Yang Jatuh berubah—pelan, seperti musim berubah: tidak ada yang melihatnya hari demi hari, semua orang melihatnya bulan demi bulan.
Aura hitam-merahnya melunak dulu—Roswitha yang mencatatnya, dengan cara Roswitha: “Warnanya tidak lagi seperti luka. Sekarang seperti memar yang hampir sembuh.” Lalu retakan-retakan di tubuh besar itu berhenti berdenyut gelisah dan mulai berdenyut tidur. Lalu—pada suatu sore, di tengah cerita Kiyo tentang anak anjing pelabuhan yang mencuri ikan—Yang Jatuh tertawa.
Bukan tawa yang dulu: satu kali, pendek, terkejut. Tawa yang sebenarnya—bergulir, pecah-pecah, tidak tahu nadanya sendiri, tawa anak yang tubuhnya sudah lupa caranya dan harus mempelajarinya lagi dari awal dalam waktu nyata. Tawa itu mengguncang sedikit tanah ruangan, dan di atas, di mulut tambang, Raga mengangkat wajah dari cangkirnya dan tersenyum kepada gunung.
“Catat,” kata Yang Jatuh, ketika tawanya selesai, dengan sisa-sisa serak di suaranya. “*Catat di bukumu, Tuan Benang. Hari ini, tahun ini, aku tertawa. Tiga ratus tahun aku menunggu untuk ditakuti atau dibuka—dan ternyata yang kumau cuma cerita tentang anjing.*”
Francis mencatatnya. Di halaman yang sama, bertahun-tahun kemudian, orang-orang akan menemukan catatan kakinya yang kecil: *suaranya seperti batu-batu kecil jatuh ke air. Tidak ada yang menyangka batu bisa berbunyi seperti itu. Tidak ada yang pernah tinggal cukup lama untuk mendengarnya.*
---
Dan ada ritual baru yang tidak ditulis di papan mana pun, karena ritual yang paling penting memang tidak perlu papan: setiap malam keenam, Francis naik ke Kamar Gema membawa pertanyaan-pertanyaan dari bawah, dan membaca ketukan-ketukan dari atas, dan menjadi surat berjalan bagi dua raksasa yang berbaring satu di atas satu terpisah tiga ribu depa batu. Percakapan mereka lamban—seminggu satu pertanyaan, kadang sebulan—tetapi percakapan raksasa memang tidak diukur dengan minggu. *Apakah kau kedinginan, di bawah sana?* — *Ya, tiga ratus tahun; sekarang tidak.* — *Apakah kau marah padaku karena aku yang di atas?* — *Dulu. Sekarang aku hanya senang ada yang di atas.* Penjaga buku kesembilan menyalin semuanya ke dalam Buku Kedelapan, dan bab itu—bab dua raksasa yang belajar bertetangga—dibaca keras-keras di aula-aula pada malam-malam panjang, dan orang-orang Meridien mendengarkannya seperti orang mendengarkan kabar keluarga yang jauh.
Roswitha, yang tidak pernah menulis apa pun, memiliki ritualnya sendiri: setiap giliran jaga, ia berjalan mengelilingi pelataran mulut tambang tiga kali, memeriksa garis-garis kapur dan lampu nisan Raga, lalu berdiri menghadap gunung dan memberi hormat—pendek, militer, tanpa kata. Ditanya Merle dalam surat untuk apa, jawabannya masuk ke catatan kaki Kitab Penjaga juga: *Untuk yang menjaga. Semua yang menjaga. Di atas maupun di bawah.*
---