Mereka naik pada hari keempat puluh—bukan karena selesai, tetapi karena rumah ini sekarang punya dua lantai, dan orang yang tinggal di lantai bawah boleh sesekali melihat langit.
Matahari menampar mereka di mulut tambang seperti ibu menampar anak yang hilang seharian—dulu Roswitha yang merasakannya pertama; sekarang mereka bertiga berdiri di cahaya itu, kuyu dan pucat dan buta sebentar, tiga orang yang sebulan hidup di bawah batu. Pelajar-pelajar penjaga bersorak. Raga, di kursinya, tidak bersorak—ia hanya mengangguk dalam, sekali, seperti orang yang pesanan tempat duduknya ditepati.
“Sembilan hari minyak,” katanya. “Kalian pakai empat puluh. Aku sudah menghitung kalian akan turun-naik. Orang yang mengisi lampu tidak pernah terjebak gelap—itu aturan tambang yang pertama, dan kalian mematuhinya tanpa pernah kuberi tahu.”
“Kau memberi tahu kami,” kata Kiyo. “Sebelum turun. *Jangan padamkan dirimu bersamanya.* Kami menyalinnya.”
“Kalimat yang bagus memang harus disalin,” kata Raga. “Itu sebabnya aku mengatakannya keras-keras.”
---
Majelis bersidang tiga hari, dan dari sidang itu lahir jadwalnya—karena Meridien adalah kota yang menyelesaikan segala hal dengan jadwal dan buku.
Namanya resminya tidak ada—yang suci tidak perlu nama, dan Kiyo menjaga itu tetap benar. Tetapi isinya sederhana, dan ditulis penjaga buku kesembilan di papan aula teras satu dengan huruf-huruf besar yang tidak gemetar:
*Setiap hari ada yang turun. Bukan untuk membuka, bukan untuk menutup, bukan untuk memeriksa—untuk mengunjungi. Dua orang setiap giliran, karena yang turun tidak boleh sendirian, seperti yang di bawah tidak boleh sendirian. Membawa: cerita, kabar, pertanyaan. Tidak membawa: tuntutan, lagu, beludru. Aturan pertama: datang. Aturan kedua: jangan menjawab apa yang meminta dijawab. Aturan ketiga: jangan pergi sebelum waktunya. Aturan keempat, kiriman adipati kecil di utara: kalau anaknya menangis, duduk.*
Di bawahnya, kecil, ditulis kemudian, oleh tangan yang sama:
*Aturan kelima, kiriman orang yang turun pertama: yang naik harus menceritakan matahari dengan benar, karena ada yang belum pernah melihatnya dan sedang menabung kesabaran.*
---
Surat-surat berangkat dengan burung-burung ke segala arah—ke Osseran, ke kerajaan sungai garam, ke pesisir barat, ke dua puluh dua lingkaran lain di peta Raga yang satu per satu sudah dijaga orang—dan yang paling tebal, yang paling lama ditulis, ke ibu kota.
Balasan Lenard datang sembilan hari kemudian, dan Kiyo membacanya di tangga rumah Odo, dan tertawa dua kali, dan satu kali harus berhenti membaca karena ada sesuatu di matanya:
*Untuk Paman Kiyo yang di gunung.*
*AKU MAU LIHAT DIA. Aku tahu aku tidak boleh sekarang. Aku tahu aku harus menunggu sampai dia siap. Aku menaruhnya di daftar: nomor satu, lihat Yang Jatuh; nomor dua, melihat Paman Kiyo pulang; nomor tiga, makan kukis. Daftar itu tidak berurutan.*
*Kabar rumah: Raja Aldric sehat tapi lambat, seperti kapal tua kata Bastian, dan Bastian tahu kapal. Akar di bawah aula tidak berdenyut lagi sama sekali—penjaganya bosan dan aku bilang bosan itu bagus, bosan itu tanda kita menang. Emeteria membuat lilitan baru untuk kotak. Saudara pecahanmu baik-baik. Dia menunggu. Aku membacakan cerita untuknya malam-malam supaya dia tahu saudaranya pulang bawa cerita—kau mengajarkanku begitu, aku hanya menurunkannya.*
*P.S. Merle sudah menulis dua ratus halaman. Dia bilang kitab itu belum selesai karena ceritanya belum selesai. Bilang pada Yang Jatuh: cepatlah selesai, tapi pelan-pelan saja, Merle bisa menunggu, dia penulis, penulis pekerjaannya menunggu.*
*P.P.S. Kucing Sumur bertambah gemuk. Dia menjaga kakiku setiap malam. Kalau Yang Jatuh nanti mau kucing, kami punya lebih.*
---
Dari Osseran datang surat pendek dengan stempel lilin tebing putih, ditulis dua tangan yang berbeda—yang pertama rapi dan dewasa, yang kedua besar-besar dan berjatuhan:
*Sumur kami baik. Airnya tidak bernyanyi lagi—dia tidak perlu. Keluarga batu di bawah tidur semua. Kami yang menjaga bergantian: Ibu pagi, aku siang, adikku sore, karena adikku tidak bangun pagi dan tidak akan pernah bisa. Raja Theron mengirim tiga orang ke tambang-tambang utara dengan aturan-aturan, dan ketiganya pulang dengan kabar baik dan cerita aneh. Kalau anak yang di gunungmu itu nanti mau berkunjung, sumur kami tahu cara menerima tamu. Semua sumur tahu sekarang. Itu yang kalian ajarkan.*
*— Ilse, Penjaga Tutup. Dan anak-anak.*
Dan ada satu surat lagi—tipis, hati-hati, dari rumah jaga pelataran timur, dengan tulisan tangan yang sudah mulai goyang oleh umur:
*Anak batu. Burung-burungku masih pulang, dan sekarang mereka membawa kabar yang membuatku tidak mengenali dunia: batu-batu di mana-mana dijaga oleh orang-orang yang datang. Bukan ditimbun. Bukan dijual. Dijaga. Aku membaca surat-surat itu di jendelaku dengan batu biasa di ambangnya, dan aku memikirkan tiga puluh tahun yang kupakai untuk menyimpan, dan aku tidak menyesal—penyesalan itu rumah yang penghuninya sudah pindah, kata seorang yang bijak—tetapi aku berterima kasih, karena tangan-tangan yang dulu dipakai jaringan itu sekarang, di tahun-tahun terakhirnya, bekerja melawannya, dan ada damai di dalam pekerjaan itu yang tidak pernah kukenal sebelumnya. Jaga dirimu di dalam gelap. Jangan lupa makan. Yang tua sering lupa bahwa yang di bawah tanah tetap butuh makan.*
*— O.*
---
Malam terakhir sebelum turun lagi, Kiyo berdiri di teras tertinggi Meridien, dan memandang kota berundak itu—lampu-lampu, buku-buku, jadwal yang menjaga orang tetap datang—dan gunung berbahu bundar di belakangnya, yang sudah bukan gundukan kuburan lagi melainkan rumah dengan dua penghuni yang saling mengetuk.
Di sakunya, peta Raga terlipat. Lingkaran-lingkarannya sudah ditebalkan hampir semua—dua puluh lima dari dua puluh enam, dijaga, dikunjungi, didengar, oleh orang-orang yang tidak punya nama perkumpulan tetapi punya aturannya.
Satu lingkaran masih tipis. Sendirian di birunya laut, jauh dari daratan mana pun.
Kuil Tenggelam. Di atas palung tempat lagu yang salah pernah bernyanyi—tempat ikan-ikan besar turun dan tidak naik. Dari sanalah belasan orang-orang bersih berjalan ketika meninggalkan kemah gunung, membawa keranjang-keranjang mereka, ke selatan, ke arah laut. Kabar terakhir dari burung-burung pesisir: mereka menyewa perahu. Mereka menunggu sesuatu di atas air yang dalam.
“Satu lagi,” kata Kiyo pelan, kepada malam, kepada peta, kepada paus tua yang di suatu tempat di utara sedang mendengarkan seluruh lautnya. “Satu lingkaran lagi. Lalu semua yang retak punya yang menjaga.”
Dan jauh di bawah kakinya, di dasar rumah dua lantai itu, Yang Jatuh sedang berlatih sabar—dan menabung, malam demi malam, cerita tentang matahari.