Minggu-minggu berikutnya di dasar Tempat Jatuh punya bentuk—bentuk yang dibuat oleh orang-orang yang memutuskan untuk tinggal.
Pagi—menurut jam saku Francis—mereka makan. Lalu Kiyo bercerita, atau Yang Jatuh bercerita, atau keduanya diam dengan cara dua orang diam bersama, yang berbeda sama sekali dari satu orang diam sendirian. Siang, tali turun membawa roti dan minyak dan surat-surat: dari Majelis, dari penjaga buku kesembilan (yang menuliskan segalanya ke dalam Buku Kedelapan dengan huruf yang makin mantap), dari Bibi yang sudah belajar bertanya dengan sopan dan tidak pernah menuntut dijawab. Sore, Francis naik-turun antara dasar dan kubah, membawa ketukan-ketukan dua arah—*penerjemah gunung*, begitu Roswitha menamainya, dan Francis, yang seumur hidup tidak pernah diberi gelar yang disukainya, diam-diam menuliskan gelar itu di halaman belakang bukunya.
Dan lapar itu surut.
Kiyo melihatnya seperti orang melihat air pasang berbalik: bukan dari satu tanda, dari banyak. Denyut hitam-merah yang dulu rakus itu melambat. Bau manis-busuk yang dulu naik dari retakan-retakan itu menipis, minggu demi minggu, sampai pada suatu pagi Francis mengangkat wajah dari bukunya dan berkata, “Baunya hilang,” dan mereka berdua diam menyadarinya, seperti orang menyadari hujan sudah berhenti entah sejak kapan. Ruang itu tidak lagi terasa seperti mulut. Ruang itu terasa seperti kamar.
“*Aku tidak lapar lagi,*” kata Yang Jatuh suatu malam, dengan nada orang yang memeriksa gigi tanggal—heran, menyentuh-sentuh tempat yang dulu sakit. “*Tiga ratus tahun aku lapar. Aku kira lapar itu aku. Ternyata lapar itu hanya—tidak ada yang datang. Sekarang ada yang datang, dan laparnya tidak tahu mau ke mana.*”
“Lapar itu bukan kau,” kata Kiyo. “Lapar itu yang terjadi padamu.”
“*Maka tinggal pertanyaan yang terakhir,*” kata Yang Jatuh. Dan suaranya turun, dan menjadi sangat kecil, dan sangat jujur—pertanyaan yang sudah dibawanya sejak tangisnya selesai, yang menunggu di ujung semua percakapan seperti tamu yang menunggu di ambang:
“*Kalau lapar bukan aku—dan pintu bukan aku—dan lagu manis itu bukan aku—apa yang tersisa dari aku?*”
---
Kiyo tidak menjawab malam itu.
Ada pertanyaan yang tidak boleh dijawab cepat, dan ia sudah tiga ratus tahun—tidak, seratus tahun—menunggu jawaban untuk versinya sendiri. Ia naik ke atas dengan tali pada giliran berikutnya, dan berjalan sendirian di teras-teras Meridien di bawah bintang-bintang, dan duduk di gubuk batu Nenek Suri sampai larut, dan tidak banyak bicara, dan Nenek Suri—yang tahu bedanya orang diam membawa pertanyaan dan orang diam membawa jawaban—membuatkannya teh dan tidak bertanya apa-apa.
Jawabannya datang kepadanya bukan di gunung, melainkan di pelataran, ketika ia memandangi anak-anak penjaga muda berlatih—anak-anak Meridien yang diajari aturan-aturan baru: datang, jangan menjawab, temani—dan seorang anak perempuan kecil tersandung batu, dan jatuh, dan tidak menangis, dan bangkit, dan berkata kepada temannya dengan bangga: “Aku jatuh tapi aku tidak apa-apa.”
*Aku jatuh tapi aku tidak apa-apa.*
Kiyo berdiri di pelataran itu lama sekali, dan kemudian ia turun kembali ke dasar dunia, dan duduk di tempatnya, dan berkata:
“Aku punya jawabannya. Bukan jawaban yang besar. Jawaban yang benar—yang besar jarang benar.”
“*Katakan,*” kata Yang Jatuh.
“Yang tersisa darimu,” kata Kiyo, “adalah yang tersisa dari setiap anak yang selesai menangis: bukan lukanya. Bukan laparnya. *Anaknya.* Tiga ratus tahun kau dipakai sebagai pintu, sebagai jendela, sebagai jamuan yang menunggu, sebagai alasan orang-orang menyanyi—dan di bawah semua pekerjaan itu ada kau, yang kecil, yang bertanya bagaimana suaramu. Itu yang tersisa. Itu yang selalu tersisa. Tanyakan kepada pecahan-pecahan di tanah itu—mereka tidak ingin dilebur ke tubuh besar; mereka ingin dipegang tanpa ditanya. Tanyakan kepadaku—aku tidak rindu lautku; aku rindu tangan Aryeh. Yang besar itu kandangnya, saudaraku. Selalu kandangnya. Yang di dalam kandang itu kecil—dan yang kecil bisa digendong.”
Ruangan itu diam.
“*Yang besar ini,*” kata Yang Jatuh akhirnya, pelan, memikirkan setiap kata dengan saksama, “*sudah selesai. Aku tahu itu sekarang. Dia kuburanku dan aku tidak marah lagi pada kuburan—kuburan tidak salah; kuburan hanya tempat orang berhenti.* Tapi di dalamnya—*” dan denyut di ruang itu berkumpul, perlahan, dari segala penjuru gelap, ke satu titik yang dalam, yang utuh, yang paling tertutup—“*di dalamnya ada yang kecil. Yang sebenarnya. Yang bukan lapar, bukan pintu, bukan lagu. Dia tidak pernah berdiri. Dia tidak pernah melihat apa-apa. Dia—*”
Suara itu berhenti.
“*Dia takut,*” kata Yang Jatuh, sederhana, seperti anak mengaku. “*Aku takut. Tiga ratus tahun aku membuat orang lain takut, dan sekarang aku takut, dan aku tidak tahu cara takut dengan benar.*”
“Takut dengan benar itu mudah,” kata Kiyo, dan menutup matanya, dan memikirkan kucing di dalam sumur, dan anak lima tahun yang menitahkan, dan tangan yang menembus air. “Kau hanya perlu tidak sendirian di dalamnya. Itu satu-satunya aturannya. Semua aturan lain turunan dari itu.”
---
“Tidak malam ini,” kata Yang Jatuh, setelah hening yang panjang—dan ada tekad di suara kecil itu sekarang, tekad yang baru, yang tidak dibuat dari lapar. “Tidak terburu-buru. Aku sudah buru-buru tiga ratus tahun; hasilnya gunung di atasku dan orang-orang bernyanyi. Sekarang aku mau pelan. Besok ceritakan lagi tentang kucing itu. Dan tentang anak yang menitahkan. Dan tentang—” ragu-ragu, hampir malu, “—tentang bagaimana rasanya dilihat matahari untuk pertama kalinya. Aku mau tahu sebelumnya. Supaya kalau sampai waktunya, aku tidak kaget.”
“Kau akan kaget juga,” kata Kiyo, tersenyum ke dalam gelap. “Matahari tidak bisa diceritakan. Dia harus dilihat. Seperti cerita ikan—kata seekor kawan—cerita ikan harus dilihat.”
“*Maka ajari aku sabar sampai waktunya,*” kata Yang Jatuh. “*Kau pandai menunggu. Seratus tahun di dasar laut. Ajarilah.*”
Dan Kiyo mengajarinya—malam demi malam, minggu demi minggu, di dasar Tempat Jatuh yang tidak lagi terasa seperti tempat jatuh—dua yang retak, satu besar dan satu yang berjalan, berlatih sabar seperti dua anak berlatih berjalan: jatuh, bangkit, jatuh, bangkit, dan tidak apa-apa, dan tidak apa-apa, dan tidak apa-apa.
---