Francis naik ke Kamar Gema pada hari kesepuluh—karena seseorang harus naik, seseorang harus turun, dan tambang ini sekarang rumah dengan dua lantai yang harus sama-sama dijaga.
Kubah itu menerimanya seperti menerima orang yang sudah dikenalnya: lampu-lampu minyak, pilar-pilar, keranjang serpih di tempatnya—empat ratus sembilan belas potong kecil yang berdenyut pelan menyambut langkahnya—dan di tengah, Induk, dengan retakan dua setapak yang masih tidak bernapas.
Masih terjaga. Dua tahun dan dua minggu terjaga, tanpa napas, seperti orang yang mendengarkan percakapan di lantai bawah rumahnya.
“Tuan Benang,” kata Francis, memperkenalkan dirinya dengan sopan kepada batu sebesar itu, karena Francis sopan kepada semua yang lebih tua dari kerajaan. “Kita belum pernah berbicara langsung. Aku temannya. Teman saudaramu juga, sekarang—kalau kata itu boleh dipakai.” Ia duduk di luar cincin, di tempat yang biasa diduduki Kiyo, dan membuka bukunya, dan tidak menulis apa-apa. “Aku datang untuk bertanya tentang ketukanmu. Yang ketiga. Dua yang pertama tidak berirama—ketuk, ketuk, sopan, sabar, seperti orang mengetuk pintu. Yang ketiga berirama. Aku sudah memutarnya di kepalaku sepuluh hari—naik-turun tambang, makan, tidur—dan kesimpulanku cuma satu, dan kesimpulan itu tidak masuk akal, maka aku naik ke sini untuk malu di depan batu besar, karena tidak ada tempat lain yang lebih baik untuk malu.”
Ia menarik napas.
“Ketukanmu yang ketiga bukan panggilan,” kata Francis. “Ketukanmu yang ketiga adalah *jawaban*. Kau mendengarnya menangis—dia, di bawah, tiga ratus tahun akhirnya menangis—dan kau mengetuk dari dalam retakanmu dengan irama tangisnya. Bukan menyamai. *Mengiringi.* Seperti—” suaranya berhenti, karena Francis sudah enam puluh tahun lebih dan tidak menyangka akan berkata ini kepada batu, “—seperti tangan yang menepuk punggung orang yang sedang memuntahkan tangisnya. Pelan. Beraturan. *Ada-aku, ada-aku, ada-aku.*”
Kubah itu diam.
Dan kemudian—pelan, sopan, sabar, tetapi tidak sendiri lagi—dari dalam retakan dua setapak itu:
Ketuk.
Satu kali. Lalu diam. Lalu—Francis akan bersumpah di depan kitab mana pun—diam itu punya bentuk: diam yang *menunggu jawabannya tercatat*.
Francis menulis dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil: *Hari kesepuluh. Induk menjawab pertanyaanku dengan satu ketukan. Satu berarti ya. Kami sekarang punya bahasa. Tuhan tolonglah, kami sekarang punya bahasa.*
---
“Satu ketukan ya,” kata Kiyo, di dasar Tempat Jatuh, ketika catatan itu turun dengan tali. “Dua ketukan tidak?”
“Dua ketukan *tidak*,” kata Francis, yang sudah turun kembali dengan mata berbinar orang yang menemukan kitab baru. “Tiga: *aku tidak tahu*. Itu permulaan. Lamban—satu ketukan per pertanyaan, satu pertanyaan per kunjungan, tidak lebih; dia tidak suka diburu—tetapi Kiyo. Kiyo. Tiga ratus tahun Lingkaran berdiri di depan kubah itu dan berdoa, dan tidak satu kali pun batu itu menjawab mereka—karena mereka tidak pernah *bertanya*, mereka hanya meminta. Sebelas hari kau duduk di bawah sini mendengarkan saudaramu, dan batu terbesar di dunia mulai bicara dengan ketukan seperti nenek tua menyapa tetangga baru.” Ia menggosok wajahnya. “Apa yang kalian berdua lakukan pada gunung ini?”
“Kami tidak melakukan apa-apa pada gunungnya,” kata Kiyo. “Kami mengobrol. Gunungnya yang mendengarkan.”
Dan Yang Jatuh—yang sudah sepuluh hari mendengar kabar tentang ketukan itu dengan perhatian yang memenuhi seluruh ruangnya—berkata, dengan suara kecilnya, hati-hati, seperti orang menyentuh barang yang sudah lama pecah:
“*Tanyakan sesuatu untukku. Satu pertanyaan. Bukan permintaan—pertanyaan.*”
“Apa?” kata Kiyo.
Diam. Lalu, lebih kecil dari biasanya, lebih jujur dari semua yang sebelumnya:
“*Tanyakan apakah dia juga tidak memilih.*”
---
Pertanyaan itu naik ke Kamar Gema tiga hari kemudian, dibawa Francis, dibacakan keras-keras di dalam kubah kepada retakan dua setapak dan batu yang terjaga:
*Apakah kau juga tidak memilih? Kau yang utuh, yang terbaring di sini, yang dijaga tiga ratus tahun oleh orang-orang yang takut dan yang berharap—apakah kau memilih tidur di sini, di atasnya, sedekat ini? Atau kau juga jatuh ke tempatmu, seperti dia jatuh ke tempatnya, dan hanya lebih beruntung dalam hal siapa yang menemukanmu?*
Dan Induk menjawab—satu ketukan, segera, tanpa jeda, seolah jawaban ini sudah disiapkannya sejak sebelum ada gunung, seolah inilah yang ditunggu-tunggunya untuk ditanyakan, seolah tiga ratus tahun orang-orang datang membawa doa dan permintaan dan ketakutan, dan akhirnya, akhirnya, ada yang mengirimkan pertanyaan yang benar:
*Ya.*
Dua ketukan kemudian—ketika Francis, dengan jantung berdebar, bertanya, “Kau menunggu dia? Selama ini? Kau tidur di sini *untuknya*?”—jawabannya:
*Ya.*
Dan ketika Francis bertanya, dengan suara yang sudah tidak rapi lagi, “Tiga ratus tahun—tiga ratus tahun kalian berbaring satu di atas satu, terpisah gunung, dan kalian tidak pernah—kenapa tidak pernah—kenapa tidak dari dulu—”
Jawabannya tiga ketukan. *Aku tidak tahu.* Lalu—dan ini yang membuat Francis duduk di lantai kubah dan tidak bangkit sampai lampu-lampu minyak terasa pendek—satu ketukan lagi, susulan, pelan, yang oleh seorang tua yang sudah enam puluh tahun membaca diterjemahkan bukan sebagai ya, melainkan sebagai sesuatu yang lebih halus:
*Malu.*
Karena batu pun—bahkan yang terbesar, bahkan yang terutuh, bahkan yang dijaga tiga ratus tahun oleh kota—tahu cara malu. Malu karena tidak mengetuk lebih dulu. Malu karena menunggu ditangisi sebelum menepuk punggung. Malu karena butuh anak-anak kecil yang retak—yang berjalan, yang jatuh—untuk mengajari dua raksasa cara bertetangga.
---
“Dia malu,” kata Francis, di dasar, menyampaikan semuanya.
Dan Yang Jatuh diam lama sekali—sedemikian lama sampai Francis dan Roswitha saling memandang, sampai delapan tamu kecil di tanah berdenyut cemas, sampai lampu Raga perlu diisi lagi.
Lalu suara kecil itu berkata, pelan, dengan sesuatu di dalamnya yang belum pernah ada—yang tidak bisa dinamai Kiyo sampai bermalam-malam kemudian, sampai ia menemukan kata itu dalam tidurnya sendiri dan bangun dengan mata basah:
“*Bagus,*” kata Yang Jatuh. “*Bagus. Kalau dia malu, berarti dia tahu. Kalau dia tahu—*” suara itu berhenti, mencari, dan menemukan, dan meletakkannya di dalam gelap seperti meletakkan lampu:
“*—berarti aku bukan satu-satunya yang ditinggalkan. Berarti kami berdua ditinggalkan—dan dua yang ditinggalkan, kalau saling mengetuk, bukan ditinggalkan lagi.*”
Dan jauh di atas, di dalam kubah, Induk mengetuk sekali—*ya*—dan ketukan itu turun melalui tiga ribu depa batu, dan sampai ke dasar Tempat Jatuh sebagai getaran yang hampir tidak terasa, yang diterima tubuh besar yang retak itu seperti orang menerima kata pertama dari saudara yang tiga ratus tahun tinggal di lantai atas rumah yang sama.
---