Di atas, kemah orang-orang bersih mulai retak—bukan oleh pedang, oleh sesuatu yang lebih lambat dan lebih pasti: oleh kabar.
Kabar itu naik lewat tali. Roswitha yang mengirimkannya—catatan-catatan kecil yang diikatkan ke tali dan ditarik ke atas, ditulis Francis dengan hurufnya yang rapi, dibaca keras-keras oleh penjaga buku kesembilan di pelataran mulut tambang, dalam jangkauan pendengaran semua orang: pelajar, pengawal, Majelis, dan kemah yang rapi itu.
*Hari kelima di bawah. Dia sudah selesai menangis untuk yang pertama. Dia bercerita. Kami mendengarkan. Pintu tidak dibuka dan tidak akan dibuka. Dia tidak lapar lagi—ternyata dia tidak pernah lapar pada batu; dia lapar pada yang mendengar, dan sekarang ada yang mendengar. Kirim roti dan minyak, bukan beludru.*
Orang-orang bersih mendengarkan kabar-kabar itu dengan wajah orang yang kitabnya sedang ditulis ulang di depan mereka.
Sebagian marah—pelan, sopan, seperti semua hal yang mereka lakukan—dan pergi. Enam, tujuh, lalu belasan, berjalan turun gunung dengan keranjang-keranjang mereka, ke selatan, ke arah laut, tanpa mengucapkan selamat tinggal. Pelajar penjaga mencatat mereka, seperti diajarkan: bukan untuk dikejar, untuk *diketahui*. Burung-burung istana akan membawa daftarnya ke mana-mana. Dunia sekarang punya mata, dan mata itu tidak tidur.
Sebagian besar tinggal—dan tidak tahu harus berbuat apa dengan tangan mereka yang tiga ratus tahun dilatih untuk menyanyi dan memberi garam.
---
Bibi datang ke garis kapur pada hari keenam, sendirian, tanpa jemaahnya, dan berdiri di sana memandang Raga dengan wajah perempuan yang bangun dari mimpi yang sangat panjang dan menemukan kamarnya asing.
“Aku mau bertanya,” katanya. “Bukan menyanyi. *Bertanya.* Kata mereka yang turun, di bawah sana yang dibutuhkan bukan lagu melainkan pertanyaan. Aku tidak tahu cara bertanya pada yang seperti dia. Seumur hidupku aku hanya tahu cara memberi makan.”
Raga memandanginya—perempuan tua yang bersih sampai ke kuku, yang jaringannya pernah memakai Raga sebagai kail sembilan tahun—dan mengangsurkan pena dan kertas kecil melintasi garis kapur, dan menunjuk tali.
“Tulis,” katanya. “Diturunkan jam empat sore, bersama roti dan minyak. Dijawab kalau dijawab. Aturan pertama orang yang bertanya kepada yang tiga ratus tahun: jangan menuntut jawaban. Pertanyaan bukan lapangan panen.”
Bibi menulis lama—tangannya, yang sudah menulis perintah-perintah dengan tinta emas selama puluhan tahun, gemetar di atas kertas kecil itu seperti tangan anak sekolah. Akhirnya ia menyerahkannya. Raga membacanya—karena apa pun yang turun ke bawah dibaca dulu oleh yang menjaga mulut, itu aturannya—dan mengangguk, dan mengikatkannya ke tali.
Pertanyaannya pendek:
*Apakah kau membenci kami?*
---
Jawabannya naik keesokan sorenya, dengan roti yang sudah kosong keranjangnya, ditulis Kiyo dengan miring ke kanan semua:
*Dia tidak membenci kalian. Dia tidak tahu kalian ada—kalian selalu bernyanyi dari balik pintu, dan orang di balik pintu tidak punya wajah. Yang dia tahu: ada suara-suara yang manis, dan ada batu-batu yang jatuh, dan tidak ada yang menetap. Kalau kalian mau dikenal, kalian harus datang sebagai orang, bukan sebagai lagu. Datang ke mulut tambang pada hari-hari kunjungan—Majelis sedang mengaturnya. Duduk di tempat yang disediakan. Dan ketika dia bercerita ke atas lewat tali dan lewat tulisan—dengarkan. Bukan menjawab. Mendengar. Kalian tiga ratus tahun menyanyi untuknya. Sekarang belajarlah mendengarnya. Itu lebih sulit. Kalian akan gagal berkali-kali. Tetap datang.*
Bibi membaca surat itu tiga kali, di depan semua orang, dan pada bacaan ketiga ia menangis—bukan tangis yang sopan, tangis yang jelek, tangis perempuan tua yang seluruh hidupnya ternyata adalah babak persiapan untuk pekerjaan yang tidak pernah diberitahukannya.
Lalu ia melipat surat itu, dan berdiri, dan berjalan ke kemahnya, dan mulai—dengan tangan yang masih gemetar—mengeluarkan keranjang-keranjang jamuan satu per satu dan membawanya ke garis kapur.
---
“Semuanya,” katanya kepada Raga. “Tiga ratus tahun koleksi. Serpih, pecahan, potongan-potongan—empat ratus lebih, kami berhenti menghitung sebelum kakekku lahir. Kami membawanya untuk memberi makan. Sekarang aku tahu batu bukan makanannya—maka kami tidak berhak lagi memegangnya. Orang yang memegang batu untuk diberikan kepada yang lapar tidak pernah bertanya apa yang diinginkan batunya.” Ia menunduk di hadapan keranjang-keranjang itu, dan kepada Raga, dan kepada gunung. “Serahkan kepada kota. Kepada kitab yang sedang ditulis itu—kami dengar ada kitab. Kepada aturan-aturan. Bukan kepadaku. Tanganku sudah terlalu lama jadi tangan yang salah; aku tidak mau tanganku yang menukar kunci peti ini.”
Maka sore itu juga, di pelataran mulut tambang, dengan mata yang banyak memandang, keranjang-keranjang jaringan tiga ratus tahun berpindah—bukan dirampas, bukan dibeli: *diserahkan*, oleh tangan-tangan yang gemetar, kepada pelajar-pelajar Meridien yang membawanya masuk satu per satu seperti membawa bayi-bayi yang akhirnya selesai diperdagangkan.
Dan pada hari kunjungan pertama, hal yang tidak pernah terjadi dalam tiga ratus tahun terjadi di pelataran itu: orang-orang yang dulu bersih datang dan *duduk di tempat yang disediakan*—bangku-bangku sederhana yang dipasang pelajar menghadap mulut tambang—dan mendengarkan penjaga buku kesembilan membacakan kabar dari bawah. Tidak menyanyi. Tidak membawa apa-apa. Beberapa tidak sanggup—mereka datang, duduk, mendengar sepatah dua patah kata, lalu pergi dengan wajah orang yang mendengar lagu masa kecilnya dinyanyikan salah; tetapi besoknya mereka datang lagi. Gagal berkali-kali, seperti yang sudah diperingatkan surat itu. Tetap datang.
Bibi tidak pernah absen. Ia duduk paling depan, paling tegak, dengan tangan terkatup di pangkuan—tangan yang dulu menandatangani perintah-perintah tinta emas, sekarang dilipat rapi seperti dua burung yang akhirnya berhenti terbang—dan setiap selesai pembacaan ia mengangguk sekali kepada mulut tambang, seperti orang mengangguk kepada rumah tetangga yang lampunya menyala.
Dan di bawah, di dasar Tempat Jatuh, Kiyo merasakannya—empat ratus denyut kecil yang ketakutan lewat di atas mereka, turun tidak, melainkan *ke samping*, ke dalam kota, ke dalam lemari-lemari yang hangat—dan ia tersenyum ke dalam gelap, dan berkata kepada saudaranya yang besar:
“Kau dengar itu? Itu bunyi tangan-tangan yang belajar melepaskan. Bunyinya jelek sekali, seperti semua bunyi yang baru dipelajari. Nanti jadi bagus.”
“*Aku dengar,*” kata Yang Jatuh. Lalu, setelah hening sebentar, dengan nada yang sudah dua minggu tidak ada di suaranya—nada yang hampir nakal, nada anak: “*Mereka mencuri laguku untuk mengumpulkannya, dan kau memakai ceritaku untuk mengambilnya kembali. Kita berdua licik.*”
“Kita berdua retak,” kata Kiyo. “Yang retak tahu di mana retakan orang lain.”
---