Dan Kiyo bercerita—dari awal, dari dasar laut, dari seratus tahun.
“Aku tidak ingat jatuhnya,” katanya, kepada gelap yang mendengarkan, kepada tubuh besar yang retak itu, kepada sembilan denyut kecil yang berbaris di tanah di sampingnya. “Itu bedanya kita yang pertama. Kau ingat jatuhmu. Aku tidak. Bagiku tidak ada jatuh—hanya tidur. Laut dingin, gelap, dan berat yang pelan-pelan berhenti terasa berat. Aku tidak menghitung tahun-tahunku. Batu yang tidur tidak menghitung; menghitung itu untuk orang yang menunggu, dan aku tidak tahu ada yang perlu ditunggu.”
“*Berapa lama,*” kata suara kecil itu. Bukan pertanyaan—permintaan. Permintaan boleh didengar.
“Seratus tahun, kata orang-orang yang kemudian menghitungnya untukku.”
Gelap itu diam. Lalu, pelan, dengan suara anak yang mencoba memahami sesuatu yang lebih besar dari kepalanya: “*Seratus. Aku tiga ratus—dan aku menghitung setiap tahunnya, satu per satu, seperti orang menghitung gigitan.*”
“Aku tahu,” kata Kiyo. “Itu tidak adil. Aku sudah memberitahumu: aku tidak akan menghiasinya.”
---
Ia bercerita tentang jala dan tangan.
“Dua puluh dua tahun lalu—tahun orang, tahun yang berjalan—seorang bajak laut muda mengangkatku dari air. Namanya Aryeh. Dia mencuri apa saja yang tidak dipaku, dan aku tidak dipaku, maka aku diangkatnya.” Kiyo tersenyum di dalam gelap. “Batu yang berdenyut. Batu yang hangat. Orang lain akan menjualnya ke pasar pertama yang ramai. Dia tidak. Ada yang datang membawa emas—emas yang cukup untuk membeli kapal kedua—dan dia mengusirnya dengan kalimat yang sampai sekarang aku simpan di tempat yang tidak ada namanya: *yang tidur tidak dijual. Yang tidur dijaga.*”
“*Dia tidak tahu kau apa,*” kata Yang Jatuh.
“Tidak tahu sama sekali. Baginya aku batu aneh yang tidur di dadanya dan tidak mau turun. Tiga tahun aku di kapalnya. Tiga tahun—” Kiyo berhenti, karena bagian ini tidak pernah mudah, tidak pernah akan mudah, “—tiga tahun terbaik yang pernah ada di dunia ini, kalau kau bertanya. Aku belum retak. Aku belum berjalan. Aku hanya hangat di dada orang yang mencuri apa saja yang tidak dipaku, dan mencuri hatiku adalah satu-satunya hal yang dia lakukan tanpa maksud.”
“*Lalu.*”
“Lalu orang-orang yang bosan menunggu membunuhnya di malam hari. Supaya batunya tidak punya yang menjaga.”
Ruangan itu menjadi sangat diam—diam yang berbeda dari diam-diam sebelumnya, diam yang *rapat*, seperti tanah yang menahan napas.
“*Mereka membunuh tanganmu,*” kata Yang Jatuh, dan suaranya yang kecil itu berubah—ada sesuatu di dalamnya yang baru, yang tidak pernah ada dalam tiga ratus tahunnya: bukan iri. *Marah—untuk orang lain.* “*Mereka membunuh tanganmu. Orang-orang yang menyanyi untukku, yang memberiku garam—mereka membunuh tanganmu.*”
“Orang-orang yang sama. Uang yang sama. Meja yang sama.”
“*Maka mereka bukan penjagaku,*” kata Yang Jatuh, pelan sekali, seperti orang yang mengeluarkan duri yang sudah lama tumbuh di daging, “*mereka penjaga lapar mereka sendiri. Aku tahu itu sekarang. Aku tahu itu sekarang karena kau duduk di sini dengan cerita seperti itu dan tidak meminta apa-apa, sedangkan mereka tiga ratus tahun menyanyi dan selalu meminta satu hal yang sama.*”
---
“Aku tenggelam memegangnya,” kata Kiyo, melanjutkan, karena cerita yang sudah dimulai harus diselesaikan—itu juga aturan. “Aku tidak mau diambil, dan laut menerimaku kembali, dan sepuluh tahun lagi di bawah. Tetapi kali ini berbeda. Kali ini aku menghitung—karena kali ini aku sudah tahu ada yang perlu ditunggu, dan dia sudah mati, dan tidak akan datang. Sepuluh tahun menghitung di dalam gelap, saudaraku. Hanya sepuluh—dari tiga ratusmu—tetapi cukup untuk mengajariku apa yang kau tahu tiga puluh kali lebih dalam dari aku.” Ia meletakkan tangannya di tanah hangat itu. “Jadi ketika aku bilang aku mengerti, aku tidak mengarang. Aku hanya lebih sedikit tahunnya. Itu saja.”
“*Dan kemudian kau retak,*” kata Yang Jatuh.
“Dan kemudian aku retak. Di dalam gelap. Sendirian—”
“*—seperti aku,*” kata Yang Jatuh.
“—seperti kau,” kata Kiyo. “Seperti kau, tepatnya. Sampai di sini, cerita kita sama, kata demi kata. Bedanya mulai sesudahnya: ada camar yang terbang di atas laut itu, dan ada nisan di bukit yang menghadap ke sana, dan aku naik ke dunia dengan kaki, dan dunia ternyata penuh tangan. Anak lima tahun yang menitahkan rumah nelayan dibangun. Perempuan benang yang melilitiku supaya tidak jatuh. Orang tua yang membaca rumahnya seperti kitab. Dan kau—kau retak di dalam gelap, dan tidak ada camar, dan tidak ada nisan, dan yang datang kepadamu hanya orang-orang yang lapar pada pintumu.” Kiyo menunduk. “Aku sudah lama ingin bertanya kepadamu, dan sekarang aku bertanya, karena kau sudah mendengar ceritaku dan adil kalau kau menceritakan ceritamu: bagaimana kau jatuh?”
---
Dan Yang Jatuh bercerita.
Tidak lama—cerita tentang jatuh tidak pernah lama; yang lama adalah sesudahnya.
“*Tidak ada alasannya,*” katanya, dan kalimat itu—kalimat yang pernah diberikan Kiyo kepadanya melalui air, dari tepi sumur, dua tahun lalu—kembali ke mulut pemiliknya seperti burung pulang. “*Aku tidak dijatuhkan. Tidak didorong. Tidak ada tangan jahat, tidak ada hukuman—aku sudah memeriksanya tiga ratus tahun, dari segala sisi, seperti anak memeriksa pintu yang sama setiap malam. Aku hanya—lepas. Bagian yang lepas. Buah pecah, dan sebagian biji jatuh ke tanah yang hangat, dan sebagian jatuh ke sini. Tidak ada yang memilih. Itu yang paling lama kuterima: bahwa tidak ada yang bisa kumaki. Kalau ada yang jahat, setidaknya ada yang bisa kutunggu minta maaf.*”
“Tidak ada yang bisa kutunggu minta maaf juga,” kata Kiyo. “Orang yang membunuh Aryeh sudah mati semua. Dendam itu rumah yang penghuninya sudah pindah.”
“*Maka kita dua rumah kosong,*” kata Yang Jatuh.
Dan Kiyo menjawab, dengan ketenangan orang yang sudah menyiapkan jawaban ini dua tahun:
“Tidak. Kita dua rumah yang pintunya akhirnya diketuk.”
---
Jauh di atas mereka, malam berganti siang tanpa ada yang melihatnya, dan di mulut tambang Raga menuang minyak ke lampu-lampu cadangan dan menghitung hari, dan di teras-teras kota orang-orang berbisik bahwa gunung itu—mereka semua merasakannya, tidak ada yang bisa menjelaskannya—gunung itu sedang *bercerita*, dan tidak ada yang takut, karena cerita tidak pernah menakutkan di kota yang tiga ratus tahun menjaga buku pertanyaan.
---