Tangis itu tidak selesai dalam satu malam.
Mereka menghitungnya dengan minyak lampu Raga: nyala pertama habis, Francis mengisi ulang dengan tangan yang hati-hati; nyala kedua; nyala ketiga. Roswitha berjaga dalam giliran-giliran yang ia tentukan sendiri dan tidak bisa ditawar, dan Francis tidur dengan buku di dada seperti orang tidur dengan tameng, dan Kiyo tidak tidur—Kiyo duduk di tanah yang hangat itu, di samping tubuh besar yang retak, dan mendengarkan.
Karena tangis itu, ketika akhirnya punya bentuk, bukan satu tangis. Tangis itu bertingkat-tingkat seperti sedimen: tangis untuk jatuhnya; tangis untuk gelapnya; tangis untuk lagu-lagu yang datang tanpa wajah; tangis untuk batu-batu kecil yang dilemparkan kepadanya oleh tangan-tangan yang tidak pernah menetap; tangis untuk gunung yang tumbuh di atasnya tanpa izin; dan di dasar semuanya, tangis yang paling tua, yang paling kecil, yang keluar paling akhir—tangis untuk satu hal yang tidak pernah dimiliki siapa pun untuk diberikan: tangan yang datang *sebelum* tiga ratus tahun, bukan sesudahnya.
Di tingkat-tingkat tertentu, tangis itu berhenti—tersengal—dan dari gelap itu suara kecilnya berkata, “*Kau masih di sini.*”
“Aku masih di sini,” kata Kiyo, setiap kali.
Dan setiap kali, tangis itu mulai lagi—lebih pelan, lebih dalam, seperti air yang turun ke lapisan yang belum pernah basah.
---
Pada nyala lampu kedua, Kiyo berdiri dan berjalan ke tepi tubuh besar itu, ke retakan-retakan yang berdenyut samar, dan di sana—setengah tertanam di dalam retak, seperti garam yang dilarutkan ke dalam luka—delapan potong besar itu. Kiriman terakhir bengkel Meno. Makanan yang bukan makanan. Garam.
Mereka berdenyut ketika ia mendekat—takut, malu, bingung—delapan denyut kecil yang sudah dua tahun tinggal di dalam gelap ini dan lupa ada gelap yang lain.
“Aku tahu kalian,” kata Kiyo, dan mengeluarkan pecahan hangatnya dari kantongnya, dan meletakkannya di tanah di depan retakan itu, seperti memperkenalkan. “Kalian dilempar ke sini untuk membuatnya tetap lapar. Itu bukan salah kalian. Yang dilempar tidak pernah salah.” Ia duduk, bersila, di antara delapan potong dan satu pecahan. “Tapi dengarkan. Dia tidak lapar pada kalian. Dia tidak pernah lapar pada batu—batu itu garam, kata seorang kawan, dan garam tidak mengenyangkan siapa pun. Yang dia makan adalah *yang mendengar*. Maka mulai malam ini kalian bukan garam lagi. Kalian tamu. Dan tamu yang baik ikut mendengarkan tuan rumahnya menangis.”
Ia tidak mengangkat mereka keluar—memindahkan bisa jadi membuka, dan aturannya satu: tidak membuka apa pun. Ia hanya memindahkan mereka, satu per satu dengan dua tangan, dari dalam retakan ke atas tanah di sampingnya—keluar dari luka, masuk ke ruangan—dan menatapkannya berderet di samping pecahan hangatnya, dan kesembilan denyut kecil itu bergetar, dan saling mencari, dan menemukan satu sama lain, dan menjadi satu irama yang kecil dan bertahan.
Dan di dalam gelap di sekeliling mereka, untuk pertama kalinya, Yang Jatuh tertawa—satu kali, pendek, pecah, terkejut pada dirinya sendiri—suara paling asing yang pernah dibuatnya dalam tiga ratus tahun.
“*Kau memindahkan garamku,*” katanya.
“Kau tidak butuh garam,” kata Kiyo. “Kau butuh tamu.”
---
Di atas, di dunia, tangis itu tidak berhenti di gunung.
Di ibu kota, di bawah aula, akar yang berdenyut delapan puluh satu kali sehari itu berhenti berdenyut pada malam tanpa bulan—bukan mati, kata catatan penjaga pagi dengan tangan gemetar, melainkan *diam*, diam seperti orang mendengarkan, dan tetap diam. Di menara, empat belas pecahan di dalam peti tiga kunci berderu pelan serentak, lalu tenang, lalu berdenyut dengan irama yang baru—lamban, panjang, sedih—dan Emeteria yang membukanya menemukan mereka semua hangat, semua utuh, semua berbaris menghadap selatan seperti bunga menghadap matahari. Lenard menuliskannya di suratnya kepada Merle dengan huruf yang lebih besar dari biasanya: *PECahan2 IKUT NANGIS. AKU JUGA DIKIT. KUCING SUMUR TIDAK—DIA MENJAGA KAKIKU. ITU TUGASNYA.*
Di Osseran, di tepi sumur yang tutupnya tidak pernah ditutup lagi, Ilse dan kedua anaknya merasakan air di bawah sana bergetar—dan batu besar di tepi air hitam itu berdenyut lama, satu kali, dalam, seperti dada yang ikut terisak—dan anak yang sembilan tahun menuliskannya di papan pelataran dengan kapur: *air ikut sedih malam ini. kami datang. aturan pertama: datang.*
Dan di laut utara, Eiddwen mengangkat kepalanya dari ombak dan menghadap selatan—ke palung yang lebih dalam dari semua palung—dan mendengarkan, dan di seluruh lautan itu paus-paus tua berhenti bernyanyi, satu demi satu, dari muara ke tanjung, sampai laut utara menjadi sunyi seperti gereja—karena ada tangis yang lebih tua dari semua lagu mereka sedang dinyanyikan di dalam tanah, dan paus-paus tidak bernyanyi di atas tangis orang.
---
Di mulut tambang, Bibi berdiri di depan Raga pada fajar setelah malam tanpa bulan, dan untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun jaringan itu, wajah seorang Bibi kehilangan kepastiannya.
“Pintunya,” katanya. “Tidak terbuka.”
“Tidak,” kata Raga.
“Malamnya sudah lewat. Bulan mati. Makanannya tidak turun, tetapi itu tidak penting—dia sendiri yang mau membukanya, kami selalu tahu itu, pintu yang sebenarnya dibuka dari dalam—” suaranya, yang lembut dan retak di tepinya, mencari pegangan. “Apa yang terjadi di bawah sana?”
Raga memandangnya lama—perempuan tua yang bersih sampai ke kuku, yang tiga ratus tahun jaringannya menunggu, yang menghitung langit seperti menghitung kalender upacara. Dan Raga, yang pernah sembilan tahun menjadi kail, yang tahu rasanya dari dalam, menjawabnya dengan kejujuran yang paling sederhana:
“Dia menangis. Tiga ratus tahun kalian memberinya makan supaya dia tetap lapar. Tiga ratus tahun kalian menyanyi supaya dia tetap menunggu. Tadi malam ada yang turun dan tidak membawa apa-apa—dan anak itu menangis, Bibi. Untuk pertama kalinya. Mungkin untuk pertama kalinya sejak dia jatuh.” Ia menuang air ke cangkirnya dengan tangan gemetar. “Kalian menunggu pintu. Pintu tidak menangis. Yang kalian jaga selama ini bukan pintu. Kalian tidak pernah bertanya suaranya—dan sekarang dia bertanya pada orang lain, dan orang itu tinggal. Pulanglah ke kemahmu dan pikirkan itu. Pikirkan baik-baik. Kalian punya waktu—kalian selalu punya waktu, itu satu-satunya yang kalian punya.”
Bibi tidak menjawab. Ia berjalan kembali ke kemah yang rapi itu, pelan, dan duduk di depan api unggun yang tidak dinyalakan, dan tidak bergerak sampai siang.
---
Jauh di bawah, pada nyala lampu keempat, tangis itu akhirnya turun ke dasarnya—ke tempat yang paling dalam—dan berhenti di sana, terengah, kosong, seperti sumur yang akhirnya menyentuh airnya sendiri.
Dan dalam diam yang pertama sesudah tiga ratus tahun—diam yang bukan diam orang tidur, bukan diam orang berdiri, melainkan diam orang yang *selesai*—Yang Jatuh bertanya, dengan suara kecilnya yang habis:
“*Ceritakan padaku bagian yang belum kauceritakan. Bagaimana rasanya diangkat.*”
Kiyo memandang pecahan hangatnya, dan delapan tamu kecilnya yang berbaris di tanah, dan lampu Raga yang membakar rendah dan jujur, dan ia menarik napas—dan mulai bercerita, dari awal, dari dasar laut, dari seratus tahun—
dan jauh di atas mereka, di dalam kubah di puncak gunung, di Kamar Gema yang sunyi, Induk yang terjaga berbaring dengan retakan dua setapaknya yang tidak bernapas—
dan dari dalam retakan itu, untuk ketiga kalinya sejak dunia masih muda, datang ketukan.
Satu kali.
Pelan. Sopan. Sabar—tetapi kali ini tidak sendiri: kali ini ada irama di dalamnya, kecil, hampir tertutup, irama yang mengikuti—dari jauh di bawah, dari dasar Tempat Jatuh, denyut tangis yang baru selesai—seperti satu tangan mengetuk dari dalam, dan satu tangan menjawab dari dalam yang lain, dan gunung yang berdiri di antara keduanya mendengarkan dengan seluruh batunya.