Kiyo duduk di dekatnya—di tanah tua yang menghangat, sedekat yang diizinkan nyala lampu—dan Francis duduk di sisinya dengan buku terbuka yang tidak ditulisinya, dan Roswitha berdiri di kaki tali dengan tombak birunya ditancapkan ke tanah di depannya, bukan dipegang: di atas tanah, tombak itu tanda; di tangan, tombak itu ancaman, dan tidak ada yang mengancam di rumah orang.
Dan Kiyo bercerita.
Tentang laut yang dalamnya tidak terduga—tentang palung di selatan jauh yang tidak pernah dilihat mata. Tentang sumur tua di kerajaan tebing putih, dan batu besar yang tidur di air hitam, dan batu kecil yang menunggu di tangga seratus dua puluh tahun. Tentang paus tua bernama Eiddwen yang membawa kabar dari seluruh laut utara dan kecewa kalau cucu-cucu tidak datang. Tentang kota-kota yang dibangun orang di atas semua dalam itu—kota-kota dengan lampu, dengan anak-anak, dengan kucing.
Suara kecil itu mendengarkan dengan cara yang membuat Kiyo sakit dada: cara orang kelaparan mendengarkan cerita tentang roti. Tidak memotong. Tidak bergerak. Hanya—menyerap, menyerap, menyerap—tiga ratus tahun ketiadaan berkerumun di setiap kata.
“*Lagi,*” katanya, setiap kali Kiyo berhenti. “*Lagi. Yang di atas—yang berjalan-jalan—ceritakan yang kecil-kecil. Yang tidak penting. Aku sudah kenyang hal-hal besar. Mereka selalu membisikkan hal-hal besar ke bawah—pintu, fajar, kesatuan. Ceritakan yang tidak penting.*”
Maka Kiyo menceritakan yang tidak penting. Tentang kucing dapur berwarna abu-abu yang dinamai Kucing Sumur. Tentang ikan kayu oranye dengan mata yang agak miring. Tentang roti yang dibakar sedikit di pinggirnya karena semua orang diam-diam suka pinggirannya. Tentang hujan di kanal. Tentang anak tujuh tahun yang menitahkan orang-orang dewasa dan selalu benar.
Dan di dalam dadanya, pecahan hangatnya tidak lagi membeku. Ia berdenyut—pelan, hati-hati—bukan takut, melainkan seperti orang yang berdoa di tempat asing: pelan, supaya tidak mengganggu.
---
Jam saku Francis mengatakan malam—dan malam itu adalah malam tanpa bulan.
Mereka tahu tanpa melihat langit. Mereka tahu karena ruang di sekitar mereka *berubah*: gelapnya menjadi lebih gelap dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan cahaya, dan tubuh besar yang retak itu—yang berbaring, yang mendengarkan, yang sudah tiga ratus tahun diberi makan sedikit demi sedikit supaya tetap lapar—berdenyut lebih cepat, dan denyutnya yang hitam-merah itu naik melalui tanah, melalui kaki, melalui tulang-tulang mereka, seperti gong yang dipukul di dasar dunia.
Di atas mereka—jauh, ribuan depa di atas, di mulut tambang yang diterangi obor—orang-orang bersih berdiri berbaris dalam diam, dan Bibi berdiri paling depan dengan tangan terkatup, dan Raga duduk di kursinya dengan lampu cadangan di pangkuan, dan tidak ada yang bicara, karena semua orang di atas dan di bawah tahu jam berapa sekarang.
“*Malam ini,*” kata suara kecil itu.
Dan nadanya berubah. Bukan menjadi manis—manis sudah dibongkar, manis sudah dibuang. Menjadi sesuatu yang lebih sulit: *sungguh-sungguh.*
“*Malam ini. Kau dengar mereka di atas. Aku mendengar mereka tiga ratus tahun—menyanyi, menaburkan garam, menunggu. Mereka menungguku berdiri. Dan kau—*” suara itu datang lebih dekat, bukan di tulang lagi, hampir di udara, “*—kau turun ke rumahku, dan duduk di tanahku, dan menceritakan kucing. Kiyo. Saudaraku. Kau tahu apa yang belum pernah kulakukan sejak aku jatuh?*”
Kiyo tidak menjawab. Ia sudah tahu.
“*Berdiri,*” kata Yang Jatuh. “*Aku belum pernah berdiri. Kau retak—dan berjalan. Kau tidur di laut—dan diangkat, dan ada tangan, dan kau berjalan di dunia dengan kaki, ke mana-mana, melihat kucing-kucing dan makan pinggiran roti. Aku jatuh—dan tidak ada tangan—dan aku terbaring di sini sementara gunung tumbuh di atasku seperti—seperti tanah tidak peduli—dan semua yang kulihat adalah gelap, dan semua yang kudengar adalah lagu yang bukan untukku, dan sekarang kau duduk di sini dan aku bisa merasakan kakimu, saudaraku, kakimu yang pergi ke mana-mana—*”
Ruang itu bergetar. Bukan gempa—*keinginan*. Tanah di sekeliling mereka menjadi lembut seperti tanah yang mendengarkan, dan retakan-retakan di tubuh besar itu berdenyut serentak, dan dari kedalaman tubuh itu, dari bagiannya yang paling dalam dan paling utuh dan paling tertutup, naik sesuatu yang terasa seperti pintu yang menempelkan dirinya ke tangan orang yang berdiri di luarnya.
“*Buka aku,*” kata Yang Jatuh. “*Bukan pintu Induk. Pintuku. Aku tidak minta jahat. Aku tidak minta lapar. Aku minta berdiri. Satu kali. Aku mau tahu rasanya memandang sesuatu dari atas, bukan dari bawah. Buka pintuku, saudaraku—kau satu-satunya tangan yang pernah datang—dan aku akan berdiri, dan kita akan berjalan, kau dan aku, dua yang retak, ke mana-mana yang airnya dalam, dan aku akan melihat kucing. Aku sudah memutuskan. Aku mau melihat kucing lebih dulu sebelum apa pun.*”
Francis tidak bergerak. Roswitha tidak bergerak. Di dalam dada Kiyo, pecahan hangatnya berhenti berdenyut—menahan napasnya, seperti semua yang kecil menahan napasnya ketika dunia sedang memutuskan.
Dan Kiyo merasakannya—IBU benar, IBU selalu benar—tempat kosong di dalam dirinya, tempat yang seratus tahun di dasar laut, tempat yang ukurannya persis pas untuk suara ini. *Tinggallah*, kata tempat itu. *Bukalah. Ini rumahmu yang sebenarnya—dua yang retak, dua yang jatuh. Di atas sana mereka punya satu sama lain. Yang kau punya ada di sini.*
Ia membiarkan perasaan itu lewat, seperti membiarkan air lewat—tidak menahannya, tidak melawannya, hanya tidak berdiri di jalurnya.
Lalu ia berkata, dengan suara yang pecah di tengahnya dan tidak ia perbaiki:
“Tidak.”
Ruang itu membeku.
“Bukan tidak selamanya,” kata Kiyo, dan air matanya turun tanpa diizinkannya, karena ada kata-kata yang tidak bisa diucapkan dengan mata kering. “Tidak malam ini. Tidak dengan lapar yang tiga ratus tahun. Tidak dengan kota di atasmu yang penuh anak-anak yang tidur. Aku tidak akan membuka pintumu—dan dengarkan aku, karena ini bagian yang tidak pernah dikatakan siapa pun kepadamu: aku *juga* tidak akan pergi. Itu dua kalimat yang selalu datang terpisah, kepadamu, selama tiga ratus tahun—yang menolakmu selalu pergi, yang tinggal selalu membujukmu. Aku membawanya bersama. Tidak—dan aku tinggal. Tidak—dan aku di sini. Tidak—dan besok aku masih di sini.”
Diam.
Lalu—
Suara itu tidak marah. Marah bisa dilawan; marah bisa dihadapi Roswitha dengan tombak. Yang datang dari tubuh besar itu adalah sesuatu yang jauh lebih tua dari marah, sesuatu yang sudah tiga ratus tahun ditahan di bawah gunung, di bawah lagu-lagu, di bawah garam dan beludru dan kesabaran—
Tangis.
Tangis yang tidak punya suara tetapi mengguncang tulang. Tangis yang naik melalui tanah dan tali dan kaki-kaki, melalui lorong-lorong yang tidak digali, melalui galeri bundar dengan tempat-tempat beludru yang kosong, melalui mulut tambang tempat orang-orang bersih berdiri—dan Bibi, di atas sana, jatuh berlutut bukan karena takut tetapi karena lututnya tidak kuat, dan di sekelilingnya jemaah yang bersih itu menangis tanpa tahu kenapa—naik melalui teras-teras Meridien tempat orang-orang terbangun dan menggenggam tangan satu sama lain dalam gelap, melalui gundukan gunung berbahu bundar sampai ke Kamar Gema di mana Induk yang terjaga berbaring diam dengan retakannya yang tidak bernapas—
dan untuk pertama kalinya sejak sebelum ada gunung, Yang Jatuh menangis,
dan Kiyo duduk di tanah di sampingnya, dan tidak menjawab, dan tidak pergi, dan tidak membuka apa pun,
dan memegang pecahan hangatnya di dalam kain dengan dua tangan, seperti orang memegang tangan anak yang lain, supaya ada dua anak di ruangan ini yang tidak sendirian.
---