Lorong pertama masih seperti lorong pertama—rel tua, dinding pahatan, alat-alat Odo berdiri di tepinya seperti jam yang berhenti di jam yang salah. Jarum-jarumnya diam. Tabung-tabungnya kosong. Francis berjalan pelan di antara mereka, membaca yang tidak bisa dibaca alat, dan berkata: “Dua tahun napas naik di lorong ini. Sekarang tidak ada. Lorong ini tidak kosong—dia *penuh*. Penuh seperti ruangan yang semua orang di dalamnya berhenti bicara karena ada yang masuk.”
“Kita,” kata Roswitha. “Yang masuk itu kita.”
“Atau,” kata Francis, “yang masuk itu dia—ke atas—dan kita sedang berjalan ke arahnya di tangga.”
Tidak ada yang menjawab itu. Lampu Raga di tangan Kiyo membakar rendah dan jujur, dan mereka turun.
---
Lorong-lorong berubah di bawah—seperti yang diingat Kiyo dari dua tahun lalu, tetapi kali ini ia tidak tergesa dan bisa memperhatikan: lorong-lorong itu makin halus dan makin bulat, lorong-lorong yang tidak digali. Tidak ada bekas pahat di dindingnya. Tidak ada sudut. Semuanya mengalir ke satu arah seperti anak sungai ke muara—dan sekarang, berjalan di dalamnya dengan lampu kecil dan telinga yang terbuka, Kiyo akhirnya memahami apa yang tidak dipahami para penambang yang pertama:
Mereka tidak sedang berjalan di dalam gunung.
Mereka sedang berjalan di dalam sesuatu yang *dilalui*—saluran-saluran yang tidak dibuat, melainkan ditinggalkan, seperti lobang yang ditinggalkan akar ketika pohon tumbang. Di dinding-dindingnya, di bawah lapisan debu dua ratus tahun, pahatan-pahatan kecil penambang takut masih terbaca di sela-sela kehalusan itu: *jangan-ganggu, jangan-ganggu, jangan-ganggu*—doa orang-orang yang tidak tahu apa yang mereka tulisi, tetapi tahu betul bahwa itu perlu ditulisi.
“Francis,” kata Kiyo pelan. “Gunung ini.”
“Aku tahu,” kata Francis. Suaranya kering. “Aku sudah memikirkannya sejak lorong kedua. Gunung ini tumbuh di atasnya. Di atas *tubuhnya*. Gunung berbahu bundar—bukan gunung. Gundukan.” Ia berhenti, dan tangannya menyentuh dinding halus itu, dan tidak mengangkatnya lagi. “Kota itu tidak dibangun di sebelah sesuatu yang jatuh, Kiyo. Kota itu dibangun di atas kuburannya—dan kuburannya tidak pernah selesai.”
---
Mereka sampai ke galeri terakhir menjelang tengah hari—mereka tahu itu tengah hari hanya dari jam saku Francis, karena di bawah sana waktu adalah milik lampu.
Tempat Jatuh. Galeri yang bundar—terlalu bundar—dengan celah tua di tengahnya, yang lebarnya muat orang, yang tepinya halus seperti tepi sumur yang seribu tahun dipakai. Tempat-tempat beludru di sekeliling bibirnya masih berdiri—tujuh, delapan, kosong—standar-standar kecil yang dulu menyangga makanan. Dua tahun lalu napas hangat naik dari celah itu, naik-turun, berbau manis seperti bunga busuk.
Sekarang tidak ada napas. Dan tidak ada bau.
Dan ketiadaan itu lebih berbau dari baunya dulu.
Mereka memasang tali—jangkar ke pilar batu, simpul-simpul Roswitha, dua tali pengaman untuk setiap orang, karena Roswitha tidak percaya pada satu pun barang yang tidak punya cadangan. Kiyo turun pertama, dengan lampu Raga diikat di dadanya dan pecahan hangatnya membeku di kantongnya—membeku, tetapi kali ini ikut turun, tidak ditinggalkan, karena aturan keempat sudah ditulis: *kalau anaknya menangis, datang*, dan yang membeku itu juga anak.
Celah itu menelan mereka pelan-pelan: cahaya galeri mengecil di atas menjadi piring, menjadi koin, menjadi bintang.
---
Suara itu menemui mereka di sepertiga jalan.
Bukan di telinga. Di dalam—di tempat yang sama di mana suara sumur dulu bicara, tempat yang lebih dalam dari pendengaran. Tetapi kali ini tidak manis. Kali ini tidak keibuan. Kali ini kecil, dan pecah, dan kuno dengan cara yang tidak bisa ditiru—suara anak yang sudah sangat tua dan tidak pernah besar, bicara tanpa perantara untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun:
“*Kalian tiga. Aku menghitung langkah. Tiga. Yang satu berat dan hangat dan menggenggam sesuatu yang membeku. Yang satu tua dan penuh pertanyaan. Yang satu—*” suara itu berhenti sesaat, dan ada sesuatu di dalamnya yang hampir lucu, hampir, “*—yang satu membawa tombak ke rumah orang. Tidak apa-apa. Aku tidak punya meja yang bisa dirusak.*”
“Jangan menjawab tuntutan,” kata Francis, pelan, untuk diri mereka—untuk jangkar. “Bicara boleh. Menuntut, tidak.”
“*Aku tidak menuntut,*” kata suara itu. “*Aku hanya ingin tahu. Bolehkan aku ingin tahu? Itu tidak masuk aturan kalian, bukan?*” Dan lalu, kepada Francis—dan Francis merasakannya, merasakan suara itu berbelok ke arahnya seperti tangan berbelok ke arah luka—”*Kau. Yang penuh pertanyaan. Kau sudah seumur hidup bertanya dan orang-orang menjawabmu dengan kitab yang setengah sobek. Aku tidak sobek. Aku ingat semuanya—dari sebelum gunung, dari sebelum nama. Bertanyalah. Satu saja. Satu pertanyaan, dan aku menjawabnya benar, dan kau boleh memeriksanya, dan kalau aku bohong kau boleh naik dan tidak pernah kembali. Satu pertanyaan, Tuan Benang. Apa ruginya satu pertanyaan?*”
Francis tidak menjawab. Tangannya—di tali, di bawah Kiyo—gemetar, dan ia menggenggam tali itu lebih erat sampai gemetarnya pindah ke tali dan hilang di sana. “Kau tahu,” katanya akhirnya, kepada gelap, dengan suara yang sangat tua dan sangat bangga, “bahwa aku menghabiskan empat puluh tahun mengumpulkan satu-satunya pertanyaan yang benar. Dan kau menawariku jawabannya seperti orang menawari permen. Aku tidak lapar, anak. Aku hanya tua.”
“*Semua orang yang turun ke sini lapar,*” kata suara itu, tidak tersinggung, hanya sedikit lebih pelan. “*Kau saja menyebutnya pertanyaan.*”
Kepada Roswitha, suara itu tidak menawarkan apa-apa—karena Roswitha, ketika suara itu berbelok ke arahnya, berkata lebih dulu, di dalam gelap, dengan suara yang dijatuhkan seperti tombak:
“Aku tidak mendengarkan. Aku mendengar—karena kau bicara di dalam tulangku dan aku tidak punya pilihan—tapi aku tidak *mendengarkan*. Ada bedanya, dan aku orang yang mempertahankan bedanya.”
“*Kau paling sunyi dari semua yang pernah turun,*” kata suara itu, dan untuk sesaat nadanya seperti mengagumi—tulus, kekanak-kanakan, mengagumi. “*Aku suka yang sunyi. Yang sunyi tidak berbohong.*”
Dan kepada Kiyo, suara itu tidak mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama.
Lalu, ketika mereka melewati dua pertiga jalan—ketika bintang di atas sudah benar-benar hilang dan yang ada hanya tali, lampu, dan gelap—suara itu datang, dan kali ini hanya untuk Kiyo, dan kali ini lebih kecil dari semua yang sebelumnya:
“*Kau benar-benar turun.*”
“Aku bilang aku akan datang,” kata Kiyo.
“*Orang-orang selalu bilang,*” kata suara itu. Dan di dalam kalimat itu, di dalam lima katanya yang kecil, ada tiga ratus tahun yang utuh—semua yang menyanyi dan pergi, semua yang melempar batu dan pergi, semua yang membangunkan dan pergi, semua yang menjanjikan sebelum gunung dan sesudah gunung—dan Kiyo tidak menjawabnya dengan kata-kata, karena tidak ada kata yang cukup, melainkan dengan satu-satunya hal yang bisa menjawab kalimat seperti itu:
Ia terus turun.
---
Dasar celah itu bukan dasar.
Ia membuka ke sebuah ruang yang lebih besar dari yang bisa dipegang lampu—lampu Raga, yang nyalanya jujur, hanya mampu mengangkat tepi-tepinya: dinding yang jauh, lengkung yang jauh, langit-langit yang hilang ke atas. Gua yang tidak digali. Perut di bawah gundukan.
Dan di tengahnya, setengah tertimbun tanah yang sudah menjadi tua di atasnya, Yang Jatuh berbaring.
Kiyo tidak bisa mengambilnya sekaligus dengan mata—tidak ada orang yang bisa. Bagian-bagiannya saja: lengkung besar seperti tulang rusuk kapal yang karam, ke arah atas; bidang-bidang yang gelap dan halus seperti batu yang lupa menjadi batu; dan di antara semuanya, retakan-retakan—bukan retakan seperti di puncak Induk, bukan dua setapak yang sopan—retakan di mana-mana, retakan yang *adalah* bentuknya, seolah benda ini tidak berbentuk, hanya pecah, dan sudah pecah begitu lama sampai pecahnya menjadi cara berdirinya.
Dan benda itu bernapas—tidak dengan udara—dan benda itu *bangun*, dan benda itu, ketika lampu kecil Kiyo menyentuh tepinya, berkata dengan suara kecilnya yang pecah, dari seluruh ruang, dari seluruh gelap, dari seluruh tiga ratus tahunnya:
“*Jangan berdiri di situ. Itu jauh sekali. Aku sudah lama tidak melihat muka. Duduklah di sini—di sini, di dekat—dan ceritakan padaku tentang di mana-mana yang airnya dalam, karena aku ada di sana semua, dan aku tidak pernah melihat satu pun.*”
Di dadanya, pecahan hangat Kiyo—yang membeku sejak mulut tambang—berdenyut sekali. Pelan. Tidak takut.
Seperti anak kecil yang akhirnya memutuskan bahwa pintu kamar ini bukan pintu yang salah.
---