Mereka datang ke mulut tambang pada pagi harinya—bukan menyerbu, bukan menyelinap. Mereka *berjalan*, di siang hari, di jalan gunung, dalam barisan yang tidak teratur tetapi sopan, seperti jemaah menuju kuil yang sudah lama mereka rindukan.
Pelajar penjaga menghitung mereka: tujuh puluh, lalu sembilan puluh, lalu berhenti menghitung karena angka tidak lagi penting. Orang-orang bersih. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, dengan pakaian yang rapi dan wajah-wajah yang tenang, dan di tengah barisan itu—dibawa dengan dua tangan oleh pembawa-pembawa yang hati-hati, seperti peti-peti kecil berisi bayi—keranjang-keranjang.
Francis melihatnya dari jauh dengan mata kanannya yang dibuka penuh, dan wajahnya menjadi pucat dengan cara yang baru.
“Pecahan,” katanya. “Keranjang-keranjang itu penuh pecahan. Ratusan. Kecil-kecil—serpih, sebagian—tapi di antaranya ada yang sebesar kepalan.” Ia menelan. “Sisa koleksi mereka. Tiga ratus tahun mengumpulkan—mereka membawa gudangnya ke mari.”
“Jamuan,” kata Kiyo.
“Jamuan,” kata Francis. “Untuk anak yang lapar.”
---
Juru bicara mereka maju sendirian ke garis kapur di lantai—dan berhenti tepat di depannya, dengan ketepatan yang menunjukkan bahwa ia sudah tahu garis itu ada sebelum ia melihatnya.
Perempuan tua. Bersih sampai ke kuku-kukunya. Jubah abu-abu tanpa lambang, rambut putih disanggul sederhana, dan wajah yang—ini yang paling tidak bisa dilupakan Kiyo—*baik*. Bukan baik yang dipakai. Baik yang sudah dipakai begitu lama sampai menjadi tulang.
“Kalian boleh memanggilku Bibi,” katanya, dengan suara yang lembut dan retak sedikit di tepinya, seperti piring tua yang masih dipakai setiap hari. “Semua orang memanggilku Bibi. Tiga ratus tahun jaringan ini berdiri, dan setiap generasi punya Bibi-nya.” Ia tersenyum. “Kalian yang menjaga mulut tambang ini—kalian sudah rajin. Kami melihatnya. Kami berterima kasih. Menjaga itu pekerjaan yang berat, dan kalian menjaganya untuk kami juga, tanpa diminta.”
“Kami tidak menjaganya untuk kalian,” kata Raga, dari kursi kokohnya. Ia tidak berdiri—Raga tidak berdiri untuk orang yang tidak ia hormati, dan kakinya sudah tidak suka berdiri—tetapi suaranya memenuhi pelataran seperti batu memenuhi pintu. “Aku kenal dua wajah di barisanmu, Bibi. Tangan-tangan lama. Yang satu dulu memegang tali kapalku. Yang satu memegang catatan galianku.” Ia memandang barisan itu pelan-pelan. “Kalau kalian datang untuk menggali, kalian sudah lihat garis kapur itu. Kalau kalian datang untuk berziarah—ziarah tidak membawa keranjang makanan sebanyak itu.”
“Bukan makanan,” kata Bibi, lembut, mengoreksi seperti nenek mengoreksi cucu. “*Perjamuan.* Ada bedanya, anakku. Makanan untuk yang lapar. Perjamuan untuk yang—” ia mencari kata, dan menemukannya dengan senyum, “—yang akhirnya boleh berdiri.”
“Tiga malam lagi bulan mati,” kata Francis datar. “Kalian menghitung hari yang sama dengan kami.”
“Semua orang menghitung hari yang sama, Tuan Benang. Langit tidak rahasia.” Bibi memandang mereka bertiga—Francis, Raga, Roswitha dengan tombak birunya—lalu menemukan Kiyo, dan wajahnya yang baik itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam: hormat yang tulus, yang lebih sulit dilawan dari kebencian mana pun. “Dan kau. Yang berjalan. Yang sudah berbicara dengannya melalui air. *Dia bercerita tentangmu, tahu.* Bukan kepada kami—kepada air, kepada dalam—tapi kami mendengar, karena kami selalu mendengar. Dia bilang: *ada yang bertanya bagaimana suaraku.*” Mata tua itu basah—sungguh basah, tanpa direkayasa. “Tiga ratus tahun kami menyanyi untuknya, memberinya makan, menjaga pintunya dari orang-orang yang mau menimbunnya—dan dalam tiga ratus tahun itu, tidak satu pun dari kami bertanya bagaimana suaranya. Kau melakukannya dalam satu malam. Maka dengarkan, karena aku hanya berkata sekali: kami tidak datang untuk melawanmu. Kami datang untuk *melihatmu membuka pintunya.* Itu yang dinubuatkan. Bukan pintu Induk—pintunya. Oleh saudaranya. Olehmu.”
Pelataran itu diam. Angin gunung lewat di garis kapur.
“Dan kalau aku tidak membukanya,” kata Kiyo.
“Kau akan,” kata Bibi, masih dengan kelembutan itu, dengan kepastian seorang yang sudah melihat akhir cerita dan hanya menunggu halaman-halamannya dibalik. “Bukan karena kami memaksamu. Karena kau akan turun ke sana, dan kau akan melihatnya—utuh, akhirnya, sesudah tiga ratus tahun—dan kau akan mengasihinya seperti kau mengasihi semua yang retak, dan ketika dia meminta—dengan suaranya yang sendiri, yang kecil, yang kau sendiri yang mengembalikannya—*kau tidak akan sanggup berkata tidak.*” Ia menunduk, hampir malu. “Itu bukan ancaman, anakku. Itu kesedihan kami. Kami menunggu orang yang tidak sanggup berkata tidak. Kami menunggumu.”
---
Sidang sore itu adalah sidang yang paling sunyi yang pernah diadakan Majelis.
“Dia benar tentang satu hal,” kata Kiyo akhirnya, di ruangan yang penuh wajah-wajah. “Aku tidak tahu apakah aku sanggup berkata tidak. Aku sudah mendengar suaranya—yang asli—lewat air, dari seberang selat, dan aku pulang ke rumah dan memikirkannya setiap malam selama dua tahun.” Ia memandang tangan-tangannya. “Maka kita tidak turun dengan andalanku. Kita turun dengan *aturan*. Aturan tidak perlu sanggup. Aturan hanya perlu dikerjakan.”
“Aturannya,” kata Odo, membacanya dari catatan, untuk ruangan itu: “Satu: tidak membuka apa pun—tidak ada pintu, tidak ada segel, tidak ada tutup, apa pun yang diminta, siapa pun yang meminta. Dua: tidak menjawab tuntutan—permintaan boleh didengar, tuntutan tidak dijawab. Tiga: tidak pergi. Empat—” ia mengangkat wajah, dan ada senyum kecilnya yang sedih, “—empat ditambahkan oleh anak tujuh tahun di ibu kota, lewat surat yang tiba dengan burung pagi ini: *kalau batumu menangis, datang. Kalau anaknya menangis, duduk.*”
“Lenard,” kata Francis.
“Dia menyelipkannya di surat laporan peti,” kata Kiyo. “Di antara jumlah denyut dan catatan makan kucing.”
---
Keranjang-keranjang jamuan itu tidak dibolehkan lewat garis kapur—dan di sinilah hal yang tidak diduga terjadi: orang-orang bersih tidak memaksanya.
Bibi memandang keranjang-keranjang itu lama, lalu mengangkat bahu dengan ringan, seperti perempuan yang hidangannya ditolak oleh tuan rumah dan memutuskan untuk tidak tersinggung. “Bawa kembali ke kemah,” katanya kepada pembawa-pembawanya. “Dia tidak lapar pada batu. Batu cuma garam—aku tahu, aku yang dulu mengatur pengirimannya.” Ia memandang Kiyo satu kali lagi. “Kami tidak butuh garam lagi, anakku. Kami hanya butuh malam tanpa bulan, dan pintu, dan kau. Dua dari tiga sudah ada.”
“Pintunya tidak akan dibuka,” kata Roswitha. Suara tombak.
“Semoga,” kata Bibi, dan—ini yang akan diingat Roswitha bertahun-tahun kemudian—perempuan tua itu terdengar seperti benar-benar mengharapkannya dan benar-benar tidak mengharapkannya dalam napas yang sama. “Kalau tidak dibuka, kami pulang, dan tiga ratus tahun ini jadi cerita yang kami ceritakan dengan malu kepada cucu-cucu kami. Aku akan senang membacakan cerita itu. Tetapi kita berdua tahu, Nona Tombak, bahwa cerita jarang berakhir dengan orang pulang.”
---
Mereka turun pada fajar—satu hari penuh sebelum malam tanpa bulan, karena Kiyo tidak mau anak di bawah sana sendirian ketika langit gelap datang.
Mulut tambang dibuka untuk mereka: palang-palang baru diangkat oleh pelajar-pelajar senior, satu per satu, tanpa suara, seperti orang membuka pintu kamar tempat seseorang sedang sakit. Raga berdiri dari kursinya—dengan susah, dengan gemetar, tetapi berdiri—dan mengangsurkan kepada Kiyo sebuah lampu tambang kecil dengan nyala yang rendah dan minyak yang cukup untuk sembilan hari.
“Aku pelampung,” katanya. “Pelampung tidak ikut ke bawah. Pelampung tinggal di atas, di tempat yang dalam, supaya semua orang tahu di mana dalamnya—dan supaya yang turun tahu ke mana harus naik.” Tangannya yang besar menutup di atas tangan Kiyo yang memegang lampu. “Sembilan hari minyak. Kalau lampumu padam sebelum kau selesai, jangan padamkan dirimu bersamanya. Naik. Isi minyak. Turun lagi. Tidak ada yang malu pada yang mengisi minyak.”
Di belakang garis kapur, di kemah mereka yang rapi, orang-orang bersih berdiri berbaris menyaksikan—dan ketika Kiyo lewat, mereka menunduk. Bukan menunduk hormat. Menunduk seperti orang-orang menunduk ketika pengantin lewat: penuh harap, penuh restu, penuh keyakinan bahwa upacara sudah tidak bisa dibatalkan.
Bibi berdiri paling depan, dan ketika Kiyo melangkah masuk ke mulut tambang—ke dalam gelap yang naik dari bawah seperti napas yang ditahan—suaranya mengikuti, lembut, retak di tepinya, baik sampai ke tulang:
“Hati-hati di tangga, anakku. Dia sudah lama sekali tidak punya tamu.”
Dan di dalam dadanya, di kantong kainnya, pecahan hangat Kiyo membeku—seperti dulu, seperti anak kecil yang berhenti bicara di depan pintu kamar yang salah—tetapi kali ini Kiyo menggenggamnya melalui kain dan tidak berhenti berjalan, dan berkata, pelan, kepada pecahannya, kepada dirinya, kepada saudara yang menunggu di dasar segala dalam:
“Kita tidak membeku hari ini. Hari ini kita turun.”
---