Mereka tidak langsung masuk kota. Penjaga buku kesembilan mengangkat tangannya—persis gerakan neneknya dulu, entah disadari atau tidak—dan menunjuk Buku Kedelapan yang terbuka di meja gerbang.
“Tradisi,” katanya, dengan ketegasan orang muda yang menjaga sesuatu yang lebih tua dari dirinya. “Masuk menulis pertanyaan. Dua tahun berlaku. Tidak ada kekecualian—bahkan untuk tamu buku.”
Francis menulis dulu, dengan huruf-hurufnya yang rapi: *Berapa dalam orang harus turun sebelum dia berhenti disebut turun dan mulai disebut kembali?*
Roswitha menulis singkat, seperti melempar tombak: *Kalau yang di bawah tidak bisa dilawan, apa gunanya tombak? Bawa saja, atau tinggalkan?*
Kiyo berdiri paling lama di depan buku itu—seperti dulu, seperti selalu—dan menulis dengan miring ke kanan semua:
*Kalau tangis yang tiga ratus tahun akhirnya selesai, apa yang tersisa dari anak yang menangisnya?*
Penjaga buku kesembilan membacanya, dan tidak mencapnya langsung seperti biasa. Ia membacanya dua kali. Lalu ia mencap halaman itu dengan lilin merah tanpa lambang, dan berkata pelan: “Tiga pertanyaan masuk ke buku ini. Mudah-mudahan kota ini cukup besar untuk menjawabnya.”
---
Meridien tidak seperti Meridien yang dulu.
Bukan berubah buruk—berubah *dewasa*. Teras-terasnya masih berundak menghadap lembah, lampu-lampunya masih menyala tertib, tetapi ada yang berbeda di wajah-wajahnya: orang-orang berjalan seperti orang yang tahu rumahnya berdiri di atas sesuatu, dan sudah berdamai dengan itu. Di dinding aula teras satu, papan Majelis masih memajang pertanyaan besar yang ditulis Nenek Suri dua tahun lalu, huruf-hurufnya yang gemetar diperbarui oleh tangan-tangan muda: *apa yang retak kalau dijaga dengan benar—dan apakah yang retak bisa pulang tanpa dilebur.*
Dan orang-orang bersih ada di mana-mana.
Mereka duduk di kedai-kedai, satu-satu, sopan. Mereka berdiri di tepi teras memandang gunung. Mereka membayar dengan uang yang bersih, berterima kasih dengan suara yang lembut, dan tidak pernah dua kali terlihat di tempat yang sama—seperti kabut yang berusaha belajar menjadi penduduk. Tidak ada yang mengusir mereka: Meridien sudah memutuskan, lewat Majelisnya, bahwa kota ini tidak akan menjadi kota yang mengusir. Tetapi setiap teras punya pelajar yang menjaga, dan setiap pelajar punya kapur, dan setiap kapur punya garis yang sudah digambar di lantai—garis yang tidak boleh dilewati orang-orang bersih menuju jalan gunung.
“Sebelas hari mereka begitu,” kata pelajar yang mengantar mereka ke rumah Odo. “Sopan. Sabar. Tidak melakukan apa-apa. Tuan Odo bilang itu yang paling menakutkan—air yang tenang di atas lubang.”
---
Raga menunggu di rumah jaganya di dekat mulut tambang, di kursi kokohnya, dengan cangkir di tangan yang gemetar.
Ia lebih tua dari yang dua tahun seharusnya lakukan pada seseorang. Liontinnya yang sudah pensiun menggantung di lehernya seperti medali perang yang tidak pernah ada perangnya, dan di matanya ada terang yang sama—terang orang yang sudah menghitung sisa umurnya dan memutuskan untuk tidak menyembunyikan hitungannya.
“Tiga tahun, mungkin empat,” katanya, sebelum Kiyo sempat bertanya, karena Raga tidak pernah suka pertanyaan yang basi. “Tabungan dari setan, dihabiskan pelan-pelan. Cukup untuk melihat ini selesai—aku sudah memesannya pada umurku seperti orang memesan tempat duduk: *jangan habis sebelum pertunjukannya selesai.*” Ia mengetuk lututnya. “Sekarang laporanmu, anak batu. Aku dengar Osseran tidur. Aku dengar kau mengobrol dengan sumurnya sampai subuh. Ceritakan bagian yang tidak masuk surat.”
Maka Kiyo bercerita—tentang malam di tepi sumur, tentang suara kecil yang pecah, tentang pertanyaan *kenapa kau dijaga dan aku tidak*—dan Raga mendengarkan dengan seluruh tubuhnya yang besar, bersandar, dan ketika Kiyo selesai, lelaki raksasa itu mengangguk sekali, dalam, seperti orang yang menerima berita yang sudah lama dikirimkan kepadanya.
“Saudaramu,” katanya. “Aku sudah tinggal dua tahun di sebelah pintunya. Sebelas hari ini dia tidak bernapas.” Ia memandang mulut tambang yang dipalang, gelap di ujung jalan. “Kau tahu rasanya tinggal di sebelah rumah tetangga yang tiba-tiba berhenti bernapas? Kau terus menempelkan telinga ke dinding. Dan semalam—” suaranya turun, “—semalam aku tidak perlu menempelkan telinga. Aku *mendengarnya* dari kamarku. Bukan napas. Bukan ketukan. Seperti—” ia mencari, dan apa yang ditemukannya membuat tangannya berhenti gemetar sejenak, “—seperti orang yang duduk di tepi tempat tidurnya. Itu saja. Duduk. Di tepi. Di dalam gelapnya.”
---
Odo memeluk mereka satu per satu—bahkan Roswitha, yang mengizinkannya dengan kaku—dan bertanya tentang Merle sebelum bertanya apa pun yang lain.
“Dia menulis kitab,” kata Kiyo, dan menyerahkan surat Merle—tebal, diikat benang, dengan tulisan *Untuk Paman Odo, dari juru tulis yang akhirnya punya buku sendiri.* “Bukan surat-surat yang tidak dikirim kali ini. Yang ini dikirim.”
Odo memegang surat itu seperti memegang gelas penuh, dan membacanya malam itu juga di depan mereka, dan tertawa dua kali, dan satu kali—di bagian yang tidak dibacakannya keras-keras—matanya berkaca dan ia melipat surat itu dengan hati-hati seperti orang melipat sayap.
“Alat-alatku mati,” katanya kemudian, di lorong pertama, menunjuk deretan tabung dan jarum yang diam. “Bukan rusak. *Mati.* Tidak ada yang diukur. Napasnya tidak naik lagi.” Ia berdiri di samping alat-alatnya seperti dokter di samping tempat tidur yang kosong. “Dua tahun aku membaca napas gunung ini, anak batu. Aku kenal iramanya seperti aku kenal irama tidur anakku dulu. Dan sekarang tidak ada. Kau tahu apa yang tidak pernah diajarkan alat? Apa yang berdiri di tempat napas ketika napas berhenti.”
---
Nenek Suri menerima Kiyo di gubuk batunya, di antara buku-buku yang tidak pernah berhenti bertambah, lebih kecil dari yang Kiyo ingat—seolah dua tahun ini ia sedang dilipat pelan-pelan oleh waktu, menjadi surat yang ringkas.
“Buku pertamanya,” katanya, tanpa menyapa. “Bagaimana kabarnya.”
“Di istana utara,” kata Kiyo. “Dijaga anak tujuh tahun yang menamainya seperti menamai kucing. Dia membaca kalimat terakhirmu—kalimat Suri pertama—yang tidak selesai. Dan dia bertanya lanjutannya.”
“Dan kau menjawab apa.”
“Bukan lanjutannya,” kata Kiyo. “Jawabannya. *Duduk bersama yang sendirian.* Sampai dia selesai. Sampai dia tidak sendirian lagi.”
Gubuk itu diam. Di luar, angin gunung lewat di batu-batu.
“Tiga ratus tahun,” kata Nenek Suri akhirnya, dan suaranya seperti kertas dilipat, seperti dulu, tetapi ada air di dalamnya sekarang, “delapan penjaga, dan buku itu menunggu jawaban. Dan jawabannya datang bukan dari pelajar. Bukan dari raja. Dari anak tujuh tahun dan orang yang tidur di laut.” Ia mengangguk—kecil, berkali-kali, seperti orang menghitung manik. “Suri pertama akan tersinggung. Lalu dia akan menangis. Lalu dia akan menulisnya.” Ia memandang Kiyo dengan mata susunya. “Kalau kau turun, anak batu—dan kau akan turun, aku melihatnya di caramu berdiri—kau tidak turun untuk menutup apa pun. Kau turun untuk *menyelesaikan kalimat orang lain.* Tidak ada pekerjaan yang lebih tua dari itu.”
---
Malamnya, sebelum sidang, Kiyo naik ke Kamar Gema sendirian.
Kubah itu sama—pilar-pilar, cincin lantai, keranjang serpih di tempatnya, empat ratus sembilan belas potong kecil yang berdenyut pelan ketika langkahnya terdengar, mengenalinya. Dan di tengah kubah, Induk.
Retakan dua setapaknya diam. Tidak ada napas yang naik. Tidak ada ketukan. Batu besar itu terbaring di dalam cahaya lampu minyak seperti gunung kecil yang dicangkokkan ke dalam ruangan—dan Kiyo tahu, dengan cara yang tidak bisa dijelaskannya, bahwa Induk *terjaga*. Bukan terjaga seperti orang bangun. Terjaga seperti orang yang berhenti pura-pura tidur.
“Hai,” kata Kiyo pelan, duduk di tempatnya yang biasa, di luar cincin, bersandar pilar. “Lama tidak bertemu. Aku dengar kau berhenti mengetuk.”
Tidak ada jawaban. Tidak ada yang mengharapkan jawaban.
“Dia bangun juga,” kata Kiyo, ke dalam kubah, kepada batu besar itu. “Di bawah sana. Kalian berdua berhenti bicara pada jam yang sama—penjaga buku menuliskannya. Seperti dua orang yang saling memandang.” Ia diam sebentar. “Aku tidak tahu kalian berdua ini apa—saudara, atau dua bagian dari kalimat yang sama, atau penjaga dan tahanannya. Tapi aku mau kau tahu satu hal, sebelum aku turun besok: aku tidak turun untuk membukanya. Dan aku tidak turun untuk menutupnya. Aku turun supaya kalau dia akhirnya menangis, dia tidak menangis sendirian. Tiga ratus tahun sudah cukup lama untuk satu tangis yang tidak didengar.”
Kubah itu diam.
Dan ketika Kiyo akhirnya berdiri untuk turun—jauh setelah tengah malam, ketika lampu-lampu minyak sudah rendah—ia merasakannya, samar sekali, di dalam dadanya, di samping pecahan hangatnya yang gemetar: sesuatu dari batu besar itu. Bukan denyut. Bukan suara.
Perhatian. Perhatian yang besar dan tua dan diam, yang mengikutinya sampai ke pintu, seperti mata orang yang tidak menyalakan lampu tetapi juga tidak tidur—mengawasi anaknya turun ke bawah rumah, ke dalam gelap, di malam yang panjang.
---
Sidang memutuskan sebelum fajar: mereka turun besok pagi, bukan menunggu malam tanpa bulan—karena malam tanpa bulan adalah malam yang dipilih orang-orang bersih, dan Kiyo tidak mau anak di bawah sana sendirian ketika jamuan itu tiba.
“Kita turun lebih dulu,” kata Kiyo, di rumah Odo, di depan Majelis kecil itu. “Kita sampai sebelum hidangannya. Supaya ketika mereka memanggilnya dengan makanan dan lagu, dia sudah punya tamu—dan anak yang sudah punya tamu lebih sulit dijamu oleh orang asing.”
Dan jauh di bawah mereka, di dasar Tempat Jatuh, di gelap yang sudah sebelas hari tidak bernapas, sesuatu yang sudah sangat tua dan tidak pernah besar itu mendengar keputusan itu dibuat—mendengar langkah-langkah yang akan datang—dan untuk pertama kalinya sejak sebelum ada gunung, ia tidak tahu harus merasakan apa.
---