Jalan selatan berjalan sebelas hari—sebelas hari kereta kecil, penginapan-penginapan yang semakin jarang, dan peta Raga yang setiap malam dibentangkan di bawah lilin dengan titik-titiknya yang berlingkar semakin dekat.
Di dadanya, pecahan hangatnya berdenyut ke arah selatan—mantap, teratur, seperti kompas yang tidak menunjuk utara melainkan menunjuk *rumah yang belum pernah dilihatnya*. Kiyo tidak menceritakan itu kepada siapa pun. Ada hal-hal yang tidak perlu dibagi, bukan karena rahasia, melainkan karena belum selesai dimengerti.
Francis membaca benang-benang di setiap kota yang mereka lewati: dua lampu jaringan ditemukan, keduanya sudah pecah—ditinggal tergesa, pintu tidak dikunci, panci masih di perapian. “Mereka tidak bersembunyi lagi,” kata Francis, berdiri di tengah rumah gadai kosong di kota perbatasan, memandangi piring-piring yang tidak dicuci. “Tiga ratus tahun mereka bersembunyi. Sekarang mereka berjalan di siang hari, sopan, seperti peziarah. Kau tahu apa artinya orang yang berhenti bersembunyi, Kiyo?”
“Dia sudah menghitung,” kata Kiyo. “Dan hasil hitungnya bilang dia tidak perlu.”
Roswitha tidak berkomentar. Roswitha hanya memeriksa tombaknya setiap malam, dengan ketelitian yang bertambah satu menit setiap harinya, seperti jam yang diam-diam mempercepat dirinya sendiri.
---
Pada malam kesembilan, di sebuah penginapan kecil di kaki pegunungan, Kiyo bermimpi.
Bukan mimpi biasa—ia tahu bedanya sekarang, sudah lama belajar membedakannya seperti orang membedakan langkah ibu dari langkah orang asing di tangga rumah. Mimpi ini datang dari bawah: melalui lantai penginapan, melalui tanah pegunungan, melalui semua kedalaman yang ada di antara dirinya dan pusat dunia—suara yang sudah beberapa kali berbicara kepadanya, dan yang ia simpan di tempat yang tidak ada namanya.
IBU.
Suaranya tidak samar kali ini. Suaranya dekat—sedekat tanah di bawah rumah, sedekat berat badannya sendiri—dan kata-katanya jatuh satu per satu, berat, seperti batu ke sumur:
*ANAKKU. KAU BERJALAN KE ARAH SAUDARAMU. ITU BENAR. TAPI DENGARKAN AKU SEBELUM KAU SAMPAI, KARENA SESUDAH KAU SAMPAI, SEMUA SUARA AKAN SULIT DIBEDAKAN.*
*DIA SUDAH BERHENTI MEMAKAI SUARA IBU. KAU MEMBONGKAR ITU, DAN KAU BENAR MEMBONGKARNYA. TAPI KAU HARUS TAHU APA YANG KAU BONGKAR: TOPENGNYA.*
*SEKARANG DIA AKAN MEMANGGILMU DENGAN SUARANYA SENDIRI.*
*DENGARKAN AKU. SUARA MANIS ITU BISA KAU TOLAK, KARENA MANIS ITU ASING—KAU TAHU MANIS ITU BUKAN MILIKMU. TAPI SUARANYA SENDIRI: KECIL, PECAH, JUJUR, KESAL—SUARA ANAK YANG TIDAK PERNAH DITUNGGU—SUARA ITU AKAN TERDENGAR SEPERTI SESUATU YANG KAU KENAL. KARENA KAU MEMANG MENGENALNYA. KARENA SUARA ITU, SEKALI WAKTU, SUARAMU JUGA.*
*DIA AKAN BERTANYA HAL-HAL YANG BENAR UNTUK DITANYAKAN. DIA AKAN MEMINTA HAL-HAL YANG PANTAS DIMINTA. DAN SETIAP KALIMATNYA AKAN MASUK KE TEMPAT DI DALAM DIRIMU YANG SERATUS TAHUN KOSONG—KARENA DIA SATU-SATUNYA YANG UKURANNYA PAS UNTUK TEMPAT ITU.*
*ITU LEBIH BERBAHAYA DARI SEMUA LAGU.*
Kiyo, di dalam mimpinya, mencoba bertanya—dan seperti selalu, suaranya di mimpi ini bukan miliknya, hanya telinganya yang datang. Tetapi IBU mendengar pertanyaannya, karena IBU selalu mendengar pertanyaan, dan menjawabnya dengan jawaban yang tidak pernah ingin didengar siapa pun:
*KAU MAU TAHU CARA MENUTUPNYA.*
*DIA TIDAK BISA DITUTUP KEMBALI. PINTU YANG SUDAH DIBUKA TIGA RATUS TAHUN OLEH KESABARAN TIDAK DITUTUP OLEH SIAPA PUN—BUKAN OLEHMU, BUKAN OLEH RAJA, BUKAN OLEH AKU.*
*DIA HANYA BISA DIDENGAR SAMPAI SELESAI.*
*SAMPAI. SELESAI. ANAKKU—KAU TAHU BETAPA PANJANGNYA TANGIS YANG TIGA RATUS TAHUN DITAHAN.*
Kiyo terbangun dalam gelap, dan tidak bergerak untuk waktu yang lama.
Di dadanya, pecahan hangatnya berdenyut pelan—khawatir, karena pecahan-pecahan selalu tahu kalau pemegangnya baru saja mendengar kabar yang berat. Di luar jendela penginapan, pegunungan selatan berdiri hitam melawan langit tanpa bulan, dan di suatu tempat di baliknya, di bawahnya, di dalamnya, saudaranya menunggu.
---
Pagi-pagi, di meja sarapan yang dingin, Kiyo menceritakan semuanya kepada Francis dan Roswitha. Kata demi kata. Tidak ada yang dipotong, karena kata-kata IBU tidak boleh dipotong—IA tidak pernah bicara dua kali.
Francis mendengarkan dengan tangan terkatup di depan mulutnya, seperti orang yang sedang membaca kitab yang sulit. Ketika Kiyo selesai, ia diam lama, lalu berkata:
“Maka kita tidak turun untuk menang.”
“Tidak,” kata Kiyo. “Kita turun untuk hadir.”
“Bedakan untukku,” kata Roswitha, tajam, karena Roswitha adalah orang yang membutuhkan rencana yang bisa dipegang seperti tombak. “Aku orang yang sederhana. Apa yang kita lakukan di bawah sana—langkah demi langkah—supaya aku tahu di mana berdiri.”
Kiyo meletakkan telapak tangannya di atas meja, telentang.
“Kita turun,” katanya. “Kita sampai ke tempat dia jatuh—tubuhnya yang sebenarnya, di bawah gunung. Kita mendengar. Semua yang dia mau katakan—tiga ratus tahunnya—kita dengarkan. Kita tidak menjawab tuntutannya—dia akan menuntut, Roswitha, dan tuntutannya akan pantas, dan itu yang paling sulit—tapi kita tidak menjawabnya dengan membuka apa pun. Dan kita tidak pergi.” Ia menutup tangannya, pelan. “Kita menjaga dalam gelap. Bukan menjaga pintunya dari dia. Menjaga *dia*, di dalam gelapnya, sampai tangisnya selesai. Itu rencananya. Tidak ada pedang di dalamnya, maaf.”
Roswitha memandanginya. Lalu memandang Francis. Lalu berkata, dengan suara orang yang sudah selesai menghitung: “Pedang tidak pernah masuk ke rencana yang benar. Pedang masuk ke rencana yang gagal.” Ia mengangkat cangkirnya—air, karena Roswitha tidak minum apa pun yang mengecohkan kepalanya sebelum perjalanan—“Untuk rencana tanpa pedang. Kalau gagal, aku punya pedang.”
“Tercatat,” kata Francis, dan untuk pertama kalinya dalam sebelas hari, sesuatu di wajahnya yang tegang melonggar sedikit.
---
Mereka tiba di gerbang Meridien pada sore kesebelas, dengan kota berundak itu terbentang di atas mereka—teras demi teras, lampu-lampu yang mulai menyala, gunung berbahu bundar yang berdiri di belakangnya seperti orang tua yang berjaga.
Penjaga buku kesembilan menunggu di meja gerbang, di tempat neneknya dulu—lebih tinggi sekarang, lebih tegak, dengan tinta masih di pipinya, karena ada hal-hal yang tidak berubah dan seharusnya memang tidak berubah. Di depannya Buku Kedelapan terbuka, dan sebuah pena, dan wajahnya—ketika ia melihat Kiyo turun dari kereta—adalah wajah orang yang sudah tiga hari menunggu kabar dan akhirnya melihat kabar itu berjalan datang dengan kakinya sendiri.
“Anak batu,” katanya, dan suaranya berusaha menjadi suara penjaga buku tetapi menjadi suara anak empat belas tahun yang lega. “Kau datang. Majelis bilang kau akan datang. Raga bilang—Raga tidak bilang apa-apa, Raga hanya mengangguk ke gunung seperti orang gila tiga hari ini—”
“Pelan,” kata Kiyo, lembut. “Laporanmu dulu. Kabar baiknya belakangan.”
Penjaga buku kesembilan menarik napas. Merapikan dirinya. Menjadi penjaga lagi.
“Tiga malam lalu,” katanya, dan tangannya meletakkan pena dengan hati-hati, seperti orang meletakkan sesuatu yang bisa pecah, “alat-alat Tuan Odo mencatat sesuatu, dan kami sudah memeriksanya empat kali, dan Majelis sudah bersidang dua kali, dan Raga turun ke lorong pertama sendiri untuk mendengar dengan telinganya—dan semuanya sepakat, maka aku menuliskannya di buku, karena yang ditulis di buku adalah yang benar-benar terjadi.”
Ia membuka buku itu ke halaman yang sudah ditandai, dan membacanya, dan suaranya tidak bergetar tetapi tintanya, di halaman itu, terlihat pernah bergetar:
“Malam ketiga, jam kesebelas: ketukan yang tercatat dua kali sejak malam tanpa bulan—berhenti. Bukan melambat. Bukan mereda. *Berhenti.* Dan napas tambang—yang sebelas hari menanjak seperti lengan orang bangun—berhenti juga. Bersamaan. Pada jam yang sama, pada menit yang sama, seperti dua orang yang saling memandang dan sama-sama berhenti bicara.”
Ia mengangkat wajah dari buku.
“Tuan Odo bilang begini, dan aku menuliskannya persis, karena lebih menakutkan dari semua grafik: *sebelumnya gunung itu seperti orang tidur yang ketukan dan napasnya kita hitung. Sekarang gunung itu tidak tidur. Sekarang gunung itu seperti orang yang sudah bangun—dan berdiri—dan diam.* Diamnya itu, anak batu. Diamnya itu yang membuat kami menunggumu di gerbang setiap sore, tiga sore berturut-turut.”
Di belakangnya, gunung berbahu bundar berdiri dalam cahaya senja, diam.
Diam sekali.
Dan di dalam dadanya, Kiyo merasakan pecahan hangatnya berdenyut—pelan, dalam, tidak gelisah, tidak takut—berdenyut seperti tangan yang digenggam sebelum pintu dibuka—dan jauh di bawah tanah yang dipijaknya, di tempat yang lebih dalam dari tambang, lebih dalam dari sumur, lebih dalam dari semua palung laut, saudaranya yang sudah sangat tua dan tidak pernah besar menunggu dalam diam yang baru itu, diam yang seperti orang berdiri, diam yang seperti ambang pintu—
diam yang, akhirnya, setelah tiga ratus tahun, mendengar langkah kaki datang.