Burung-burung itu tidak berhenti datang.
Setelah yang ketiga, datang yang keempat—dari kerajaan sungai garam, dari sebuah tambang tua yang ditutup dua generasi lalu dan kini, kata suratnya, *mengeluarkan suhu hangat seperti ruangan yang dihuni*. Kelima, dari pesisir barat: nelayan-nelayan melapor jaring mereka berat bukan oleh ikan melainkan oleh sesuatu yang *beresonansi* di dasar teluk. Keenam, dari pegunungan timur: gembala-gembala menemukan kambing-kambing mereka berdiri melingkari satu batu, diam, seperti menghadiri kebaktian.
Sembilan lingkaran di peta Raga sekarang ditebalkan arang. Dan surat-surat itu semuanya membawa kalimat yang sama dengan bunyi yang berbeda-beda: *kami ingat surat kalian. Kami tidak menimbun. Kami datang, kami menemani—tapi batu kami tidak tenang-tenang. Kirim orang yang tahu.*
“Dunia sedang menyala,” kata Bastian, di ruang peta, “dan kita berlima.”
“Dunia sedang *bangun*,” Raja Aldric mengoreksinya, pelan. “Dan yang menyalakannya ada di satu tempat. Kabar buruk selalu punya alamat, Bastian. Kita hanya belum mau membacanya keras-keras.”
---
Alamat itu tiba dua hari kemudian, dengan pos berkuda dari selatan, dengan stempel Meridien yang sudah dikenal semua orang di ruang peta: segel lilin tanpa lambang, dari penjaga buku kesembilan, ditulis dengan tangan muda yang berusaha tetap rapi.
Kiyo membacanya keras-keras:
*Untuk anak batu, dari penjaga buku kesembilan, atas nama Majelis.*
*Alat-alat Tuan Odo mencatat perubahan. Napas yang naik dari bawah—yang dua tahun ini berjalan seperti napas orang tidur, masuk-keluar, masuk-keluar—sejak sebelas hari lalu berjalan lebih cepat. Bukan banyak. Orang yang tidak membaca alat tidak akan melihatnya. Tapi grafiknya menanjak seperti lengan orang yang bangun dari tempat tidur: pelan, tapi tidak berbalik.*
*Dan satu hal lagi, yang Majelis tidak tahu harus ditulis dengan huruf apa: orang-orang bersih mengalir ke selatan lagi. Kami menghitung mereka di jalan-jalan gunung—bukan bergerombol, tidak seperti dulu, melainkan satu-satu, sopan, seperti peziarah. Mereka tidak membawa apa-apa. Mereka tidak menggali apa-apa. Mereka lewat di teras-teras dan tersenyum kepada penjaga, dan ketika ditanya ke mana, mereka menjawab dengan kalimat yang sama, selalu kalimat yang sama:*
*“Ada yang sudah bangun. Kami dipanggil untuk melihat pintunya dibuka.”*
*Raga menjaga mulutnya. Odo menjaga alatnya. Aku menjaga bukunya. Datanglah.*
Ruangan itu diam untuk waktu yang lama. Di luar jendela, burung-burung Ottilie bertengger di pelataran timur, hitam di langit sore, tidak bernyanyi.
“Mereka gagal di Induk,” kata Francis akhirnya, suaranya datar, suara seorang sarjana yang sedang membaca bencana. “Dua kali. Malam tanpa bulan, dan sesudahnya. Induk tidak mau dibuka—pintunya bukan pintu yang mau. Maka seluruh jaringan itu, tiga ratus tahun kesabarannya, sekarang mengalir ke satu-satunya pintu yang tersisa.” Ia menatap peta. “Pintu yang *mau* dibuka.”
“Tempat Jatuh,” kata Raja Aldric.
“Tempat Jatuh,” kata Francis. “Dan—” ia ragu, dan keraguannya lebih buruk dari kata-katanya, “—Tuan-Tuan, pintu yang mau dibuka tidak perlu dibobol. Pintu yang mau dibuka hanya perlu ada yang *mengetuk dari luar dengan cara yang benar*. Mereka sudah tiga ratus tahun mengumpulkan pecahan-pecahan—makanan, pancingan, denyut. Kalau mereka sampai ke sana, ke tubuhnya yang sebenarnya, di bawah gunung—”
“Mereka tidak membukanya dengan linggis,” kata Kiyo pelan. “Mereka membukanya dengan *suguhan*. Anak itu sudah menunggu tiga ratus tahun untuk dijamu. Dan mereka datang membawa jamuan.”
Di ujung meja, Ottilie—yang hadir atas undangan Raja, dengan dua penjaganya berdiri di pintu seperti bagian dari perabotan—angkat bicara untuk pertama kalinya, pelan, tanpa mengangkat wajah dari peta:
“Kalian semua bicara tentang mencegah mereka sampai ke sana.” Ia menggeleng, sekali. “Kalian tidak bisa. Jalan ke selatan seribu, dan kalian berlima. Mereka akan sampai—sebagian, cukup banyak—karena air selalu sampai. Pertanyaannya bukan bagaimana menahan mereka. Pertanyaannya adalah apa yang mereka temukan ketika tiba: pintu yang sendirian—atau pintu yang *sudah didatangi lebih dulu oleh kawan*.” Ia akhirnya mengangkat wajah. “Aku kenal meja itu. Aku pernah menjadi meja itu. Jamuan hanya bekerja kalau tamunya lapar. Anak yang sudah dikunjungi—yang sudah punya yang datang tanpa membawa apa-apa—adalah anak yang lebih sulit disuap.”
---
Keputusan itu tidak dibuat dengan kata-kata. Keputusan itu dibuat dengan tatapan-tatapan yang beredar mengelilingi meja dan bertemu, satu per satu, seperti orang-orang berjabat tangan.
Yang berangkat: Kiyo, karena anak itu memintanya, dan karena—kata Raja Aldric, dengan kelelahan seorang tua yang sudah melihat terlalu banyak—“kau satu-satunya orang di dunia ini yang pernah membuatnya bicara dengan suaranya sendiri.” Francis, karena seseorang harus membaca lampu-lampu di sepanjang jalan selatan, dan karena laut tengah adalah bagian dari perjalanan, dan laut tengah sudah lama tidak dibaca oleh orang yang tahu benang. Roswitha, karena pintu-pintu tidak dijaga dengan kata-kata saja, dan tombak biru adalah kata-kata yang paling dimengerti orang-orang bersih.
Yang tinggal: Bastian—karena istana ini menyimpan empat belas pecahan hangat, satu raja tua, satu perempuan benang, satu adipati anak-anak, dan satu akar di bawah aula yang berdenyut makin cepat, dan semua itu adalah medan perang yang tidak terlihat seperti medan perang. Dan Merle—karena, kata Lenard dengan suara dukenya, “kitab itu harus selesai, dan kitab tidak bisa ditulis dari dalam tambang.”
“Kitab itu,” kata Merle, mengangkat bahu, “baru tiga bab.”
“Maka kau punya pekerjaan,” kata Lenard. “Kami semua punya.”
---
Malam sebelum keberangkatan, Kiyo pergi ke kamar kerja Emeteria, dan membuka kotak kayu itu.
Dua pecahan terbaring di dalamnya, bersisian, di atas lilitan benang cahaya—dua puluh empat lilitan, sekarang dua puluh sembilan, karena Emeteria tidak pernah berhenti melilit. Miliknya, yang hangat, yang sudah belajar berdenyut mantap. Dan saudaranya, yang dulu disimpan orang-orang jahat untuk bekerja, yang dulu menahan napas untuk kejutan—yang sekarang berdenyut bebas, pelan, *aman*.
Kiyo meletakkan tangannya di udara di atas mereka berdua.
“Aku datang untuk meminjam,” katanya pelan. “Yang satu.”
Pecahan hangatnya berdenyut—cepat, mengenali, seperti anjing mendengar langkah tuannya di pagar. Dan saudaranya berdenyut lebih lambat—dan Kiyo merasakannya, di dalam denyut itu, sesuatu yang tidak takut tetapi juga tidak senang: kesedihan kecil yang dewasa, kesedihan orang yang baru saja menemukan rumah dan sudah harus mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian isinya.
“Kau jaga yang di sini,” kata Kiyo kepada pecahan yang tinggal—kepada saudara yang baru pulang. “Kau jaga rumah ini, dan raja tuanya, dan anaknya, dan peti di menara yang berisi empat belas. Itu tugas yang sama pentingnya. Kami berdua penjaga sekarang—kau penjaga yang di sini, kami penjaga yang pergi. Dan penjaga yang pergi selalu kembali kepada penjaga yang tinggal. Itu aturannya. Itu sebabnya ada dua.”
Ia mengangkat pecahan hangatnya—ringan, hangat, *siap*—dan menurunkannya ke dalam kantong kain di dadanya, ke tempat yang sudah lama kosong.
Dan di dalam kotak, pecahan yang tinggal berdenyut sekali—panjang, dalam, tidak gelisah—sebuah denyut yang, kalau diterjemahkan ke bahasa orang, bunyinya: *sampai nanti.*
Emeteria, di ambang pintu, sudah berdiri di sana entah sejak kapan, dan tidak mengatakan apa-apa, tetapi ketika Kiyo lewat, ia melilitkan satu helai benang cahaya baru di luar kantong kain itu—kecil, hampir tidak terlihat, seperti jahitan.
“Supaya tidak jatuh,” katanya.
“Terima kasih,” kata Kiyo.
“Supaya tidak jatuh,” ulang Emeteria, lebih keras, dan kali ini terdengar seperti perintah, dan doa, dan satu-satunya cara seorang Emeteria mengucapkan selamat jalan.
---
Lenard menunggu di tangga kuil, di tempatnya yang biasa, dengan Sultan di pangkuannya.
Ia tidak menangis. Ia sudah bukan anak lima tahun yang mengumumkan *aku dukenya* dengan piyama dan jubah kecil—ia sudah tujuh tahun sekarang, duke yang membaca burung, yang menamai kucing, yang menitahkan orang-orang dewasa. Ia hanya memandangi Kiyo turun ke pelataran dengan kantong di dada dan bekal di pundak, dan ketika Kiyo berhenti di depannya, ia mengulurkan sesuatu.
Jimatnya. Bulu burung yang sudah kusam oleh dua kali peminjaman.
“Dipinjamkan,” kata Lenard. “Ketiga kalinya. Yang pertama kembali dengan cerita. Yang kedua kembali dengan cerita. Aturannya kau tahu.”
“Kembali dengan cerita,” kata Kiyo, menerimanya dengan dua tangan, karena jimat-jimat harus diterima dengan dua tangan.
“Dan satu titah lagi,” kata Lenard. Suaranya bergetar sedikit—hanya sedikit, hanya di tepi-tepinya, dan ia membiarkannya bergetar, karena hanya pelayan yang tidak boleh melihatnya. “Waktu ke Osseran, titahku panjang: pegang yang takut, jangan pulang sebelum dia tidak takut. Sekarang aku lebih besar dan aku sudah belajar menyingkat. Titahku sekarang satu kata.”
Ia memandang Kiyo dengan mata yang basah tetapi tegak—mata seorang anak yang mengirim satu-satunya rumahnya ke tempat yang paling berbahaya di dunia, dan tahu mengapa harus, dan membenci mengapa.
“*Pulang,*” kata Lenard.
Kiyo berlutut—sehingga matanya setinggi mata anak itu, seperti dulu, seperti selalu—dan berkata: “Titah diterima, Yang Mulia Duke. Dan titah itu adalah satu-satunya perintah di dunia ini yang tidak pernah gagal kujalankan.”
---
Mereka berangkat sebelum fajar, tanpa bendera, tanpa arak—tiga orang dan satu kereta kecil, lewat gerbang air, di mana kota masih tidur dan kanal-kanal mengalir hitam ke laut.
Di menara, di jendela kamarnya, Lenard menonton kereta kecil itu hilang ke dalam gelap jalan selatan—dan di tangannya Sultan dipegang erat, dan di dadanya sesuatu yang baru terasa: bukan takut. *Janji.* Janji yang dipinjamkan keluar dan harus kembali, seperti jimat, seperti cerita, seperti orang.
Di bawah istana, jauh di bawah aula, akar itu berdenyut—delapan puluh satu kali hari itu, kata catatan penjaga pagi—dan di selatan, di ujung jalan yang masih ribuan mil, sesuatu yang sudah sangat tua dan tidak pernah besar sedang menunggu di dalam gelapnya, menghitung tamu-tamunya yang datang dari dua arah: yang membawa jamuan, dan yang tidak membawa apa-apa selain dirinya.
---