Raja Aldric mendengarkan semuanya sambil duduk—dan itu sendiri kemajuan, karena sebelum rombongan berangkat ke Osseran, raja tua itu mendengarkan sambil berbaring.
Dewan kecil berkumpul di ruang peta: Raja, Bastian, Francis, Kiyo, Merle dengan bukunya, dan Lenard di kursi yang terlalu tinggi untuknya, kakinya tidak menyentuh lantai, mendengarkan dengan kesungguhan seorang adipati. Kiyo bercerita tentang sumur, tentang tutup yang dibuka, tentang batu kecil yang pulang. Francis bercerita tentang lampu-lampu yang pecah. Lalu Kiyo menyampaikan berita Eiddwen—tentang palung di selatan jauh, tentang lagu yang salah, tentang ikan-ikan besar yang turun dan tidak naik—dan ruangan itu menjadi sangat diam.
“Jendela-jendela,” kata Raja Aldric pelan. “Sumur. Tambang. Sekarang palung.” Ia mengetuk peta dengan satu jari tua. “Dan di bawah aulaku sendiri, akar itu. Penjagaku mencatat denyutnya setiap pagi—tiga minggu lalu enam puluh denyut sehari. Sekarang delapan puluh. Pelan-pelan ia berlari, Tuan-Tuan. Pelan-pelan, supaya kita tidak takut.”
“Maka kita menjawabnya dengan berlari juga,” kata Bastian. “Ke mana?”
“Ke sana,” kata Kiyo, dan menunjuk peta Raga yang terbentang di meja—ke satu lingkaran arang yang jauh dari daratan, sendirian di birunya laut.
---
Ottilie menerima mereka di selnya, tetapi sel itu—atas perintah Raja yang ditandatangani pagi itu juga—sudah bukan sel.
“Tahanan rumah,” kata Raja Aldric, ketika membacakan putusannya di hadapan dewan. “Rumah jaga di pelataran timur. Jendela boleh terbuka. Burung boleh datang. Dua penjaga di pintu, bukan untuk menahannya—untuk melindungi apa yang ada di kepalanya.” Ia memandang para penasihatnya, satu per satu. “Dia membantu kita membaca Osseran. Dia membantu kita membaca Meridien. Aku tidak mengampuninya—pengampunan bukan milikku untuk diberikan; yang dilukainya tidak semua bisa diajak bicara. Tetapi tangan yang tiga puluh tahun dipakai musuh, dan sekarang bekerja melawan musuhnya—tangan itu terlalu berharga untuk dibiarkan membatu di sel bawah tanah.”
Di rumah jaga pelataran timur, di meja barunya, dengan jendela yang terbuka untuk pertama kalinya dalam setahun, Ottilie membaca dua hal berdampingan: catatan Merle tentang Osseran, dan peta Raga. Tangannya—tangan yang mengenal pola jaringan itu seperti mengenal tulisannya sendiri—bergerak di atas titik-titik lingkaran arang, berhenti, bergerak lagi, dan akhirnya menepuk satu lingkaran di tengah laut.
“Ini,” katanya. “Kuil Tenggelam.”
Francis mencondongkan badan. “Itu legenda pelaut.”
“Semua hal besar dimulai sebagai legenda pelaut, Tuan Benang. Pelaut adalah penjaga buku yang tidak bisa membaca.” Ottilie mengetuk lingkaran itu. “Kuil untuk Yang Satu, dibangun di pulau yang sudah tidak ada—tenggelam tiga ratus tahun, kata legenda. Perhatikan *kapan* tenggelamnya, Tuan-Tuan. Tiga ratus tahun. Musim yang sama dengan jatuhnya Meridien. Musim yang sama dengan segel-segel pertama.” Ia memandang wajah-wajah di sekelilingnya dengan mata tua yang tajam. “Kuil itu tidak tenggelam. Kuil itu *ditenggelamkan*—dengan sisa yang jatuh di dekatnya di dalamnya. Dan jaringanku yang dulu—mejaku yang dulu—sudah mengirim pengumpul ke titik itu selama dua belas tahun. Selalu gagal. Lautnya tidak ramah. Tapi perintah terakhir mereka—*bangunkan, apa pun caranya, di mana pun*—titik di tengah laut ini satu-satunya yang belum pernah berhasil mereka sentuh.” Ia meletakkan jarinya di atas lingkaran arang itu dan menahannya di sana. “Mereka akan mencoba lagi. Dengan apa pun yang mereka punya. Karena pintu-pintu lain sudah kalian jaga, dan putus asa membuat orang berenang.”
---
Delapan pecahan persembahan Osseran masuk ke peti tiga kunci pada sore yang tenang.
Upacaranya tidak resmi—tidak ada terompet, tidak ada piagam. Hanya Kiyo, Lenard, Emeteria, dan tiga pemegang kunci: Raja, Bastian, dan Emeteria sendiri. Peti itu dibuka di lantai dua menara, dan keenam pecahan lama menyambut kedelapan yang baru dengan denyut yang bisa dirasakan bahkan oleh Lenard—melalui lantai, melalui sol sepatu, seperti kucing mendengkur di kamar sebelah.
Empat belas sekarang. Empat belas yang hangat, yang dijaga, yang tidak dimintai apa-apa.
Lenard berlutut di samping peti yang terbuka dan meletakkan telapak tangannya di udara di atas pecahan-pecahan itu—tidak menyentuh, karena Kiyo mengajarinya tidak menyentuh tanpa perlu—dan berkata, dengan kesungguhan yang hanya bisa dilakukan anak-anak dan para nabi: “Selamat datang. Di sini tidak ada yang menyuruhmu bekerja.”
Dan pecahan-pecahan itu berdenyut—pelan, teratur, empat belas irama yang mencari satu sama lain seperti orang-orang baru di meja makan—dan menemukannya.
---
Malamnya, di perpustakaan, Merle membaca keras-keras draf pertamanya kepada pendengar yang paling penting: Lenard, yang duduk di atas meja dengan kaki berayun, dan Kucing Sumur di pangkuannya.
“Bab satu,” kata Merle. “*Tentang batu yang berbunyi.* Kalau batumu berbunyi, jangan takut dulu. Dengarkan dulu—”
“Salah,” kata Lenard.
Merle mengangkat alis. “Aku belum selesai.”
“Maksudku bukan salah-salah begitu.” Lenard menggaruk telinga kucing itu, mencari kata-kata, mengerutkan dahi. “*Bunyi* itu… batu bernyanyi juga bunyi. Batu gemetar juga bunyi. Tapi waktu Kiyo pergi, batunya—” ia menepuk dadanya sendiri, tempat jimatnya, “—batunya sedih. Dia tidak bunyi. Dia *nangis*. Dan waktu dia nangis, yang harus kaulakukan bukan dengarkan dulu. Yang harus kaulakukan adalah *datang* dulu. Datang itu duluan. Dengarkan itu sesudah kau sudah di sana.”
Perpustakaan itu diam. Merle memandangi halamannya. Lalu ia mengambil penanya, mencoret kalimat pertamanya—dengan hormat, karena kalimat pertama tidak boleh disobek, hanya boleh diperbaiki—dan menulis di atasnya, dengan huruf-huruf yang lebih besar:
*Kalau batumu menangis, datang.*
“Begitu?” tanyanya.
“Begitu,” kata Lenard. “Itu aturan Kiyo yang sebenarnya. Dia saja tidak pernah menamainya. Kiyo tidak pernah menamai apa-apa—aku yang menamai. Kucing ini juga aku yang menamai.”
“Dia akan menamai seluruh kerajaan kalau dibiarkan,” kata Francis dari ambang pintu, dan tidak ada yang membantahnya.
---
Larut malam itu, Lenard menemukan Kiyo di menara—tempat Buku Pertama disimpan, di bawah kaca. Sultan, ikan kayu oranye dengan mata yang agak miring, duduk di tepi mejanya seperti ikut menjaga.
“Kiyo. Aku baca bukunya. Bagian yang tidak selesai.”
Kiyo mengangguk. Ia tahu bagian itu. Ia sudah memikirkan bagian itu setiap malam sejak Osseran—*akhir dari tugas kita adalah—*—kalimat yang ditinggalkan Suri pertama ketika maut datang sebelum tinta.
“Kau tahu lanjutannya?” tanya Lenard.
“Aku tidak tahu lanjutannya,” kata Kiyo. “Tapi aku tahu jawabannya. Bedanya tipis, dan penting: lanjutan itu miliknya. Jawaban itu milik kita.” Ia duduk di lantai menara, bersandar ke dinding, dan Lenard duduk di sampingnya, dan untuk sesaat mereka hanya dua orang yang memandang bulan lewat jendela sempit. “Suri pertama menulis: suara manis itu mungkin suara lamban yang jatuh sakit. Sesuatu menjadi salah bukan karena lahir salah—melainkan karena sendirian terlalu lama. Kalau dia benar—dan aku sudah berdiri di tepi sumur, Lenard, dan mendengar anak itu bicara dengan suaranya sendiri, dan aku *tahu* dia benar—maka akhir dari tugas kita bukan menutup pintu. Bukan membukanya juga.”
“Apa?”
“Duduk bersama yang sendirian,” kata Kiyo. “Sampai dia selesai. Sampai dia tidak sendirian lagi. Itu satu-satunya akhir yang tidak melahirkan Suri kesembilan yang menunggu tiga ratus tahun lagi.”
Lenard diam, memikirkannya dengan seluruh wajahnya, seperti biasa.
“Berat,” katanya akhirnya. “Menutup pintu lebih gampang.”
“Menutup pintu selalu lebih gampang,” kata Kiyo. “Itu sebabnya semua orang menutupnya.”
---
Mereka mulai datang tiga hari kemudian. Burung-burung.
Bukan burung biasa—burung-burung *Ottilie*, yang mengenal jalan pulang ke pelataran timur meski pemiliknya sudah setahun tidak memberi mereka makan. Burung pertama datang di pagi berkabut, gagak tua dengan satu bulu putih, dan di kakinya sebuah tabung kecil dari kerajaan timur: *batu kami di bukit kapur berbunyi tiga malam. Kami ingat surat kalian. Kami tidak menimbunnya. Kirim orang.*
Burung kedua dari pesisir barat. Burung ketiga dari lembah sungai garam. Semuanya membawa kabar yang sama dengan kata-kata yang berbeda: batu-batu bergerak. Di tambang-tambang tua, di dasar sumur, di ruang-ruang bawah tanah kuil—denyut-denyut kecil menyala satu per satu di seluruh benua, seperti lampu-lampu rumah di senja hari.
Di ruang peta, Kiyo berdiri di atas peta Raga, dan satu per satu, dengan arang baru, ia menebalkan lingkaran-lingkaran yang sudah dilaporkan burung. Satu. Dua. Lima. Sembilan.
Peta itu mulai menyala—bukan dengan cahaya, dengan *kabar*—dan di tengah lautnya, jauh dari semua daratan, satu lingkaran masih tipis, masih sunyi, masih menunggu kabar yang belum datang: Kuil Tenggelam, di atas palung tempat lagu yang salah bernyanyi, di mana ikan-ikan besar turun dan tidak pernah naik lagi.
---