*Langau* meninggalkan Osseran pada pasang pagi, dengan garam masih putih di tali-temalinya dan awak yang tampak bangga dengan cara yang hanya dimiliki awak kapal hadiah kerajaan.
Maren an Osseran sendiri yang memegang kemudi di jam pertama—bukan karena ia harus, tetapi karena, katanya kepada Francis, “Tangan tua ini sudah tiga puluh tahun memegang tali sebelum memegang jabatan, dan jabatannya tidak pernah semenyenangkan ini.” Di belakang mereka, tebing putih Osseran mengecil perlahan, dan di pelataran di atas tebing itu—terlalu jauh untuk dilihat, tidak terlalu jauh untuk dirasakan—Kiyo tahu ada sumur tua yang tutupnya kini dibuka setiap pagi oleh seorang perempuan keras kepala dan dua anak, dan airnya tidak lagi bernyanyi, karena tidak ada lagi yang perlu dinyanyikannya.
Di dadanya tidak ada batu sama sekali—untuk pertama kalinya sejak ia bangun dari dasar laut. Batu kecil Osseran tinggal di rumahnya, di tepi air hitam, di sisi keluarganya. Pecahan hangatnya sendiri menunggu jauh di depan, di ibu kota, di kotak kayu Emeteria, di samping saudaranya yang baru pulang. Dadanya terasa kosong—dan anehnya, kosong itu tidak buruk; kosong itu seperti rumah yang pintunya dibiarkan terbuka karena semua penghuninya tahu ke mana pulang.
---
Angin baik pada hari pertama. Hari kedua, Francis mabuk laut.
Ini adalah hal yang, menurut kesepakatan tidak tertulis seluruh penumpang, tidak akan pernah dibicarakan lagi setelah kapal merapat. Tetapi selama kapal belum merapat, Francis menghabiskan waktunya di pagar lambung kiri dengan dedikasi seorang sarjana, dan Merle—yang setia pada panggilannya—mencatat di halaman belakang bukunya: *Hari kedua. Francis mabuk laut. Ia bersikeras ini alergi terhadap makanan awak kapal. Makanannya roti dan air.*
“Kau menulis apa,” kata Francis, pucat, dari pagar.
“Sejarah,” kata Merle.
“Sobek.”
“Sejarah tidak disobek, Tuan. Itu aturan pertamanya.”
“Maka sejarah,” kata Francis, dengan martabat yang luar biasa untuk seorang yang baru saja muntah ke arah angin dan mendapatkannya kembali, “adalah pekerjaan yang kejam.”
---
Mereka bertemu Eiddwen di tengah selat, pada hari ketiga, menjelang senja.
Awak kapal melihatnya lebih dulu—kolom air setinggi pohon yang menyembur ke langit sore, lalu punggung hitam yang luas seperti pulau bergerak, lalu mata biru besar yang naik ke permukaan tepat di samping *Langau*, sedekat pagar, memandang ke atas ke wajah-wajah yang berjejer melihat ke bawah.
‘Kiyo,’ kata suara itu di dalam kepala semua orang—lembut, dalam, dengan gema yang terasa seperti datang dari kedalaman yang tidak ada dasarnya. ‘Dan manusia-manusia kecil yang baik. Aku berenang jauh untuk ini. Perintahkan kapalmu berhenti sebentar.’
*Langau* mengangkat layar. Laut di sekitarnya tenang, ungu oleh senja, dan Eiddwen mengapung di samping kapal seperti gunung yang memutuskan untuk ramah.
‘Lenard tidak ikut,’ kata suara paus itu, dan nadanya kecewa seperti nenek yang cucunya batal berkunjung. ‘Aku membawa cerita ikan untuknya.’
“Dia di ibu kota, menjaga raja,” kata Kiyo, dari pagar. “Ceritanya bisa kutitipkan.”
‘Cerita ikan tidak bisa dititipkan, Kiyo. Cerita ikan harus dilihat.’ Eiddwen menggerakkan siripnya, dan ombak kecil menjalar. ‘Tapi bukan itu sebabnya aku datang. Aku datang karena laut dalam tidak tenang, dan kau harus tahu, karena kau satu-satunya orang di permukaan yang mengerti apa artinya.’
Kiyo menunggu. Di sampingnya, Francis—pucat, tetapi sarjana sampai ke tulang—sudah mendekat, dan Merle sudah membuka bukunya.
‘Di selatan jauh,’ kata Eiddwen, ‘ada palung yang lebih dalam dari semua palung yang kukenal. Ikan pun tidak turun ke sana. Kami—paus-paus tua—kita tidak bernyanyi di atasnya, karena lagu kita tidak pernah kembali dari dasarnya.’ Matanya yang biru memandang Kiyo. ‘Sejak musim panas, dari palung itu, naik lagu. Bukan lagu kami. Aku tahu semua lagu paus dari lahir sampai mati, Kiyo—lagu kawin, lagu jalan, lagu duka untuk yang karam. Lagu ini bukan salah satunya. Lagu ini—’ ia berhenti, dan laut di sekitarnya terasa ikut berhenti, ‘—lagu ini *salah*. Lagu ini seperti lagu ibu yang dinyanyikan oleh yang bukan ibu. Manis di awalnya. Dan kalau kau mendengarnya sampai tengah, kau ingin turun. Ikan-ikan besar sudah tiga yang turun dan tidak naik. Hiu-hiu tidak mau lewat di atasnya lagi.’
Di pagar, tak seorang pun bicara. Angin senja lewat di tali-temali.
“Dia bergerak,” kata Kiyo akhirnya, pelan. “Yang Jatuh. Airnya dalam di mana-mana—dan palungmu itu salah satu jendelanya.”
‘Jendela,’ ulang Eiddwen, mencoba kata itu, memutarnya di dalam pikirannya yang luas. ‘Ya. Jendela yang menyanyi. Maka dengarkan janjiku, Kiyo, karena aku tidak memberi dua: aku akan mengawasi air dalam. Aku dan yang tua-tua. Kami tidak bisa menutup jendelanya—kami tidak punya tangan—tapi kami bisa menghitung lagunya, dan kalau lagunya berubah, kalau manisnya berubah jadi sesuatu yang lain, aku akan membuat seluruh laut utara berteriak sampai camar-camar pun tahu. Kau akan mendengarnya sebelum senja.’ Ia memandang kapal itu, dan awaknya, dan langit yang menggelap. ‘Berlayarlah. Dan beri tahu manusia berbuluku: ikan-ikan di muara sudah mulai melompat lagi. Dia tahu artinya.’
Lalu punggung hitam itu turun—perlahan, megah, tanpa percikan—dan laut menutup di atasnya seperti pintu yang ditutup pelan-pelan di kamar orang tidur.
Untuk waktu yang lama, *Langau* tidak bergerak. Lalu Maren, di kemudi, berdehem dan berkata kepada angin, kepada awaknya, kepada siapa pun yang butuh mendengarnya: “Tiga puluh tahun aku berlayar. Aku sudah melihat paus. Aku tidak pernah disapa.” Dan ia tidak bicara lagi sampai malam turun.
---
Malam itu, di kabin kecil, Merle tidak tidur.
Di bawah goyang lilin, ia menyusun lembar-lembarnya—catatan Meridien, catatan Osseran, pengakuan Colm, aturan-aturan Kiyo, cerita sumur, cerita tambang—dan untuk pertama kalinya ia melihatnya bukan sebagai tumpukan laporan, melainkan sebagai sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum ada di dunia, tetapi sudah seharusnya ada.
*Kitab,* tulisnya di atas halaman kosong, dan berhenti, karena kata itu terasa terlalu besar.
Ia mencoba lagi, lebih kecil, lebih jujur: *Catatan untuk penjaga.*
Masih kurang. Ia memikirkan Ilse, dan anak-anaknya yang tujuh dan sembilan tahun, dan tiga penjaga tambang di utara Osseran yang akan didatangi orang-orang Raja Theron sebelum musim dingin. Ia memikirkan semua sumur dan tambang dan lubang di peta Raga yang belum dikunjungi siapa pun—dua puluh empat lingkaran arang—dan orang-orang yang suatu hari akan berdiri di tepi lubang-lubang itu, takut, tidak tahu harus berbuat apa.
*Kitab Penjaga,* tulisnya akhirnya, dan kali ini kata itu tidak terasa terlalu besar. Kata itu terasa seperti janji.
Di bawahnya ia menulis kalimat pertama—kalimat yang kelak akan dibaca orang-orang yang belum lahir, di tempat-tempat yang belum punya nama:
*Kalau batumu berbunyi, jangan takut dulu. Dengarkan dulu. Takut menutup telinga; dengar membukanya. Dan ingat aturan pertamanya: kau datang bukan untuk menjawab. Kau datang untuk menemani.*
---
*Langau* masuk ke perairan ibu kota pada pagi kelima, dan dari pagar kapal, sebelum dermaga, sebelum menara, Kiyo sudah melihatnya: dua sosok di ujung dermaga panjang, satu kecil dan satu tinggi, dan yang kecil itu melompat-lompat dengan seluruh tubuhnya seperti bayangan yang coba terbang.
“KIYOOOO!” teriak Lenard, dari jarak yang masih terlalu jauh untuk berteriak, dengan volume yang tidak peduli pada jarak.
Di sampingnya, Bastian berdiri dengan tangan bersedekap, dan tidak melompat, tetapi wajahnya—wajah perwira yang sudah dilatih perang untuk tidak mengatakan apa-apa—mengatakan segalanya.
Kapal merapat. Tali dilempar. Dan sebelum tangga turun sepenuhnya, Lenard sudah naik—melompati jarak yang tidak seharusnya dilompati anak kecil, ditangkap di udara oleh tangan besar Kiyo, dan mengubur wajahnya di pundak pria itu dengan suara kecil yang teredam: “Kau lama sekali. Kau lama *sekali*.”
“Seratus dua puluh mil,” kata Kiyo, menahannya, merasakan detak kecil jantung anak itu di dadanya yang kosong—kosong dan tidak apa-apa. “Dan setiap milnya aku hitung.”
“Ada yang baru di istana,” kata Lenard, menarik wajahnya, penting, serius, seperti kurir kerajaan. “Kucing. Kucing dapur. Abu-abu. *Aku* yang menamainya.”
“Siapa namanya?”
“Kucing Sumur,” kata Lenard bangga. “Supaya dia ingat aturannya. Duduk, bersihkan kukumu, dan dengarkan.”
Kiyo memandanginya—anak ini, yang menamakan kucing istana dari cerita pengantar tidur, yang memegang Buku Pertama dan Sultan dan jimatnya dan separuh beban dunia—dan merasakan di dadanya sesuatu yang tidak perlu diberi nama, karena yang suci tidak perlu nama.
“Nama yang bagus,” katanya. “Sekarang bawa aku masuk. Aku punya berita dari laut, dan berita dari sumur, dan seorang raja tua yang harus mendengar keduanya sebelum aku boleh tidur.”
---