Raga ditemukan di kursinya, pada pagi yang dingin, menghadap mulut tambang, dengan lampu jaganya masih menyala.
Penjaga yang menemukannya—pelajar senior giliran fajar—berkata di hadapan Majelis, dengan suara yang berusaha rapi, bahwa lampu itu masih penuh minyaknya: *dia mengisinya semalam, seperti biasa, untuk yang giliran pagi. Dia tidak meninggalkan kami lampu kosong.*
Itu, kata Meridien kemudian, adalah cara paling Raga untuk pergi—seperti orang yang sudah selesai menjaga dan menyerahkan jaganya dalam keadaan rapi, lampu penuh, cangkir bersih, tidak ada yang terhutang.
Sembilan tahun menjadi kail. Dua tahun lebih menjadi pelampung—benda yang mengapung di atas tempat yang dalam, supaya semua orang tahu di mana dalamnya, dan supaya yang turun tahu ke mana harus naik. Umur yang dibelinya dari liontin habis seperti tabungan yang dibelanjakan dengan benar: tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang tersisa, dan di akhirnya ada cangkir di atas meja dan rak yang dipakunya sendiri dan sebuah kota yang, karena dia, belajar memandang gunungnya dengan bertanggung jawab.
Mereka menguburkannya di dekat mulut tambang—tidak di pemakaman kota, karena wasiatnya sudah ditulis di buku catatan rumah jaganya, di halaman pertama, dengan huruf besar yang miring dan tidak sabar:
*DI SINI SAJA. PELAMPUNG TIDAK PINDAH. Kalau kalian merindukanku, kalian tidak tahu caranya kerja pelampung: dia tidak pergi ke mana-mana. Dia tetap di atas tempat yang dalam. Itu inti pekerjaannya.*
Maka di sana ia berbaring, di tanah kecil di sisi jalan gunung, dengan nisan batu tambang yang tidak dipoles, dan di atasnya—atas usul penjaga buku kesembilan, yang disetujui Majelis tanpa suara lawan—dipasang lampu kecil yang diisi minyaknya bergantian oleh pelajar-pelajar, setiap sore, selama-lamanya.
Lampu untuk pelampung. Agar yang turun tahu ke mana harus naik.
---
Malam pemakamannya, Kiyo turun ke dasar Tempat Jatuh sendirian—diizinkan, kali ini, karena ada kabar yang harus disampaikan oleh satu orang tertentu kepada satu orang tertentu.
“*Aku sudah tahu,*” kata Yang Jatuh, sebelum Kiyo bicara. Suaranya pelan. “*Gunung memberitahuku. Ada satu titik di atasku yang tadi pagi menjadi—lebih ringan. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata yang kalian punya. Orang-orang berat, Kiyo. Orang yang tinggal di atas seseorang itu berat—bukan berat yang buruk; berat seperti selimut. Selama dua tahun, ada satu berat di dekat mulutku yang rasanya seperti penjaga. Pagi ini berat itu pindah ke dalam tanah.*” Diam sebentar. “*Dia yang pertama memanggilku dari atas tanpa menyanyi. Dia memanggilku tetangga. Tidak dengan kata—dengan lampunya, dengan cangkirnya, dengan caranya duduk menghadap kemari setiap pagi seperti orang duduk menghadap perapian.*”
“Dia berkata begini, suatu kali, tentangmu,” kata Kiyo. “Aku mencatatnya, karena aku tahu suatu hari kau perlu mendengarnya: *yang di bawah itu tidak lapar pada batu. Yang dia makan adalah yang mendengar. Jadi jaga bukan hanya pintunya—jaga telinga-telinganya.* Dia menjagamu dengan cara itu. Dua tahun. Tidak ada yang masuk ke telingamu tanpa melewati rumah jaganya dulu.”
“*Maka dia penjagaku,*” kata Yang Jatuh. “*Tiga ratus tahun orang-orang mengaku penjagaku—dan penjagaku yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah menyebut dirinya begitu. Tuliskan namanya di buku itu, di buku penjaga buku. Raga. Bukan gelarnya—namanya. Aku mau namanya di buku.*”
“Sudah,” kata Kiyo. “Penjaga buku kesembilan menuliskannya kemarin malam. Dia bilang buku itu memang menunggu nama itu.”
---
Mereka diam lama—dua yang retak, berkabung dengan cara masing-masing, di dasar rumah dua lantai yang kehilangan pelampungnya.
Lalu Yang Jatuh berkata, pelan, dengan nada yang sudah bermusim-musim tumbuh dan akhirnya siap:
“*Kiyo. Aku hampir selesai.*”
Kiyo mengangkat wajahnya ke dalam gelap.
“*Aku tahu karena aku sudah berhenti menghitung. Tiga ratus tahun aku menghitung—tahun, lagu, garam, orang-orang yang tidak datang. Sekarang aku tidak menghitung lagi. Orang yang selesai tidak menghitung.*” Suara kecil itu berhenti, mencari, dan menemukan—seperti selalu sekarang, dengan kejujuran yang dipelajari dengan susah: “*Dan satu hal lagi, dan aku menanyakannya bukan sebagai tuntutan—aku sudah belajar—melainkan sebagai pertanyaan, karena pertanyaan tidak pernah merusak apa pun:*”
“*Kalau aku selesai—kemana aku pergi?*”
“Maksudmu—”
“*Tubuh ini sudah selesai. Aku sudah memberitahumu: dia kuburanku, dan aku tidak marah lagi pada kuburan. Tapi aku bukan tubuh ini. Aku yang kecil di dalamnya—yang takut, yang tertawa mendengar anjing, yang menabung cerita matahari. Kalau tubuh ini kutinggalkan—pelan-pelan, dengan benar, tidak merusak gunung, tidak membangunkan kota—yang kecil itu, Kiyo… yang kecil itu bisa ikut kau ke atas?*”
Ruangan itu diam. Lampu Raga—yang dibawa turun dari rumah jaga, yang minyaknya diisi dengan tangan yang berkabung—membakar rendah dan jujur.
“*Aku tidak minta berdiri lagi,*” kata Yang Jatuh, dan suaranya sekarang sangat kecil, sekecil-kecilnya, sekecil anak di malam pertama di rumah baru. “*Tubuh yang besar itu tidak bisa berdiri tanpa merusak segalanya; aku sudah menghitungnya juga, bermusim-musim, dan aku tidak mau kota ini patah karena aku—kota ini menjagaku, dan yang dijaga tidak merusak penjaganya. Tapi yang kecil—yang kecil tidak merusak apa-apa. Yang kecil sebesar keranjang bayi. Yang kecil bisa diangkat dengan dua tangan. Dan aku sudah menyimpan semua ceritamu, semua—tentang kucing, tentang roti, tentang hujan di kanal, tentang anak yang menitahkan—dan aku mau melihatnya, Kiyo. Bukan mendengarnya. *Melihatnya.* Dengan mata yang kecil.*”
“*Aku mau melihat kucing lebih dulu sebelum apa pun,*” kata Yang Jatuh. “*Aku sudah memutuskan. Dua tahun lalu aku memutuskan, dan aku tidak berubah, dan tidak akan berubah. Yang pertama: kucing.*”
Dan Kiyo—di dalam gelap itu, di samping tubuh besar yang sudah menjadi rumah, dengan pecahan hangatnya berdenyut tenang di dadanya—menutup matanya, dan tersenyum, dan berkata dengan suara yang pecah di tengahnya dan tidak diperbaikinya:
“Maka kita urus kepulanganmu, saudaraku. Pelan-pelan. Dengan benar. Dengan dua tangan.”
Dan jauh di atas, di dalam kubah di puncak gunung, dari retakan dua setapak di puncak Induk yang terjaga, datang satu ketukan—pelan, sopan, sabar, dan kali ini tidak perlu diterjemahkan siapa pun:
*Ya.*