Keputusan untuk mengangkat yang kecil tidak diambil dalam satu sidang. Keputusan seperti itu tidak boleh diambil dalam satu sidang—itu juga pelajaran dari tiga ratus tahun: orang yang tergesa membangun segel, orang yang sabar membangun jadwal.
Maka Meridien bersidang berminggu-minggu, dan sidangnya—seperti semua hal di Meridien—dimulai dengan pertanyaan, yang ditulis penjaga buku kesembilan di papan aula teras satu dengan huruf-huruf besar yang mantap:
*Bolehkah yang sudah selesai dipulangkan?*
Di bawahnya, ruangan-ruangan dibagi seperti biasa—yang takut di sebelah kiri, yang berharap di sebelah kanan, yang berpengalaman di tengah—dan selama dua belas hari kota itu memikirkannya keras-keras. Yang takut berkata: tubuh yang besar itu gunung kita; kalau yang di dalamnya keluar, gunung kita—apa? Yang berharap berkata: anak itu sudah selesai menangis, dan rumah yang menahan anak yang sudah selesai menangis bukan rumah lagi, melainkan peti. Yang berpengalaman—penjaga-penjaga muda yang turun-naik tambang, pelajar-pelajar senior yang mengisi lampu nisan Raga—berkata hal yang akhirnya memenangkan sidang:
“Dia tidak pernah merusak apa pun sejak kami mengenalnya. Tiga tahun jadwal kunjungan, dan tidak satu kali pun tanah bergeser yang bukan bergesernya biasa. Kalau kita menolak, kita menolak bukan karena dia bahaya—kita menolak karena kita takut pada halaman baru. Dan kota ini tidak dibangun oleh orang-orang yang takut pada halaman baru. Kota ini dibangun di atas yang jatuh—oleh orang-orang yang menulis pertanyaan di buku.”
Dan Induk ditanya—lewat Francis, lewat kubah, lewat bahasa ketukan yang sekarang sudah punya dua puluh kata—apakah tubuh besar di bawah itu akan patah kalau yang kecilnya pergi, dan apakah gunung akan bergeser, dan apakah dia, yang utuh, yang di atas, keberatan.
Jawabannya datang tiga ketukan berturut-turut, dan Francis, yang sudah menjadi penerjemah gunung, menuliskannya di papan aula dengan tangan yang tenang:
*Tidak patah. Tidak bergeser. Aku menjaga rumahnya sampai kalian kembali.*
Lalu—susulan, pelan, dan Francis harus duduk sebentar sebelum menuliskannya:
*Bawa dia lewat bawah kubahku, kalau bisa. Aku mau melihatnya lewat. Kami berdua ditinggalkan. Aku mau melihat salah satu dari kami pulang.*
---
Burung-burung terbang ke segala arah—ke tiga belas kerajaan dengan rumah-rumah jaga, ke Osseran, ke pesisir-pesisir, ke ibu kota.
Balasan-balasan datang seperti hujan yang baik. Dari Ilse, Penjaga Tutup, pendek: *Sumur kami mengirim doa. Bukan doa yang diajarkan pendeta—doa yang diajarkan air: datang, jangan menjawab, temani. Kami menemani dari jauh.* Dari gembala-gembala pegunungan timur, lewat juru tulis desa: *Batu di gubuk jaga kami berdenyut tiga malam berturut-turut. Anak gembala bilang dia ikut menunggu. Kami menunggu juga.* Dari Maren an Osseran, yang mengaku sudah pensiun dua kali dan bohong dua kali: *Langau siap. Kapal tua yang menolak tenggelam untuk anak yang menolak tenggelam. Katakan kapan.*
Dan dari ibu kota, dari meja duke, dengan huruf yang besar karena penting:
*AKU BERANGKAT. Jangan larang aku karena aku sudah berangkat. Aku duke yang membaca burung dan burungku bilang ini waktunya. Emeteria ikut—jangan pura-pura kaget. Bastian menjaga raja baru dan raja baru bilang “pergilah, dan beri hormat untuk kami”—raja baru baik, Paman, kau akan suka padanya, dia mendengarkan dulu baru bicara seperti yang kau ajarkan. Aku membawa Sultan. Aku membawa jimat—yang ini untukku, bukan untukmu, kau punya tugas sendiri. Dan Paman—*
*—aku membawa Kucing Sumur. Dia gemuk dan dia tidak suka kereta, tapi ada yang sudah dua tahun menabung cerita dan aku tidak akan datang ke gunung itu tanpa membawa kucing. Jangan coba membantah. Aku sudah di jalan.*
*P.S. Merle ikut. Dia bilang dua ratus sembilan halaman itu butuh bab terakhir, dan bab terakhir tidak boleh ditulis dari surat.*
*P.P.S. Akar ikut juga—dia di keranjang kecil di sampingku, dan dia berdenyut setiap kali roda berhenti, dan kusir bilang dia menghitung berhenti seperti anak menghitung pasar. Dua anak batu dalam satu kereta. Emeteria bilang keretanya jadi rumah jaga berjalan. Emeteria benar dan aku bangga.*
---
Ada juga yang tidak menulis surat. Di Osseran, Ilse dan kedua anaknya turun ke tepi air hitam di bawah tutup yang tidak pernah ditutup lagi, dan duduk di sana sepanjang sore, dan tidak membawa apa-apa—karena begitulah keluarga Penjaga Tutup menemani yang jauh: dengan duduk di dekat batu-batu mereka sendiri, supaya yang di Meridien, kalau ia mendengar melalui dalamnya air, mendengar bahwa ada sumur lain yang ikut menjaga. Dan batu besar di tepi air itu berdenyut lamban, dan batu kecil di sisinya berdenyut cepat, dan dua denyut itu turun melalui dalamnya air ke selatan—dan di dasar rumah dua lantai di Meridien, malam itu, Yang Jatuh berkata kepada Kiyo dengan heran yang tidak pernah habis: “*Sumur yang itu ikut menunggu. Airnya memberitahuku. Aku punya tetangga sekarang, Kiyo—tetangga air.*”
---
Di dasar Tempat Jatuh, malam sebelum hari yang dipilih, Kiyo dan Yang Jatuh tidak banyak bicara.
Mereka duduk di tanah yang hangat, di antara delapan tamu kecil yang berbaris rapi—yang besok akan naik duluan, dengan keranjang dan tali, sebagai tamu pertama yang pulang—dan lampu yang minyaknya penuh, dan keheningan yang sudah lama bukan keheningan yang berat.
“*Takut?*” tanya Yang Jatuh.
“Takut,” kata Kiyo. “Kau?”
“*Takut,*” kata Yang Jatuh. “*Aku sudah berlatih takut dengan benar dua tahun. Tidak sendirian di dalamnya. Itu satu-satunya aturan.*” Lalu, pelan, dengan sesuatu yang di suara yang lebih tua yang sudah menjadi muda itu—rasa syukur yang sudah tidak perlu dibungkus: “*Tiga ratus tahun aku menunggu pintuku dibuka. Ternyata yang kubutuhkan bukan pintu yang terbuka. Yang kubutuhkan cuma orang yang duduk di tanahku dan tidak pergi. Kalau aku tahu itu dari awal—*”
“Jangan,” kata Kiyo, lembut. “Kalau-dari-awal adalah rumah yang tidak ada kamarnya. Kau tidak bisa tinggal di sana. Tidak ada yang bisa.”
“*Aku tahu,*” kata Yang Jatuh. “*Aku cuma berkunjung sesekali. Seperti semua orang.*”
Dan malam itu, untuk terakhir kalinya di dasar rumah dua lantai, Kiyo bercerita sampai saudaranya tidur—tentang matahari, karena besok pagi cerita itu akan berhenti menjadi cerita, dan menjadi cahaya.
---