Hari yang dipilih adalah hari pasang—bukan karena laut ada urusannya dengan tambang, tetapi karena Nenek Suri, yang ditanya tentang hari baik, menjawab dengan cara para penjaga buku: “Pilih hari ketika yang di mana-mana sedang naik. Biar semua yang dalam ikut membantu mendorong.”
Pagi itu, delapan tamu kecil naik duluan.
Keranjangnya keranjang roti yang dilapisi wol—karena Meridien sudah memutuskan bahwa tidak akan ada lagi beludru di rumah ini; beludru untuk meja penyimpanan, wol untuk orang yang pulang. Satu per satu, dengan dua tangan, Kiyo mengangkat delapan potong yang dua tahun menjadi garam dan dua tahun lebih menjadi tamu itu, dan meletakkannya berbaris di dalam keranjang, dan mengikatkan tali, dan menarik tiga kali—kode yang disepakati dengan atas: *tarik pelan, jangan jadikan mereka barang kiriman.*
Keranjang itu naik ke dalam gelap, mengecil, hilang—dan kemudian, dari jauh di atas, melalui tulang-tulang dan tanah dan tali, datang kabar yang tidak perlu kata: sorakan kecil yang tertahan, pelajar-pelajar yang lupa sopan, lampu-lampu yang diangkat tinggi.
Delapan tamu sudah pulang. Gunung tahu. Kota tahu.
“*Sekarang giliranku,*” kata Yang Jatuh.
---
Pemisahan itu tidak seperti yang dibayangkan siapa pun—karena tidak ada yang bisa membayangkannya, dan Yang Jatuh sendiri hanya bisa menjelaskannya dengan kata-kata anak: “*Seperti bangun dari tempat tidur yang sudah lama sekali didiami. Pelan-pelan. Bagian demi bagian. Tidak melompat—yang melompat memecahkan lantai.*”
Bermula dari denyut. Seluruh ruang itu—tubuh besar yang retak, yang terbaring setengah tertimbun tanah tua—berdenyut serentak, satu kali, dalam, seperti seseorang menarik napas sebelum berdiri. Lalu denyut itu berkumpul: dari tepi-tepi, dari ujung-ujung retakan, dari bagian-bagian yang paling jauh dan paling tua—mengalir, pelan, teratur, menuju ke satu titik di dalam tubuh besar itu, titik yang paling dalam dan paling utuh dan paling tertutup—dan di setiap bagian yang ditinggalkan denyut itu, batu besar itu menjadi lebih diam, lebih selesai, lebih *tenang*, seperti kamar yang penghuninya sudah mengemas barangnya.
Francis mencatat dengan tangan yang bergerak sendiri. Roswitha berdiri di kaki tali dengan tombaknya di tanah dan matanya basah dan tidak ada yang membahasnya, sekarang maupun nanti. Kiyo berdiri di depan titik itu—di depan retakan yang paling dalam—dengan keranjang kecil berlapis wol di tangannya dan pecahan hangatnya di dadanya yang berdenyut seperti genderang yang ditabuh sangat pelan.
“*Jangan tarik,*” kata Yang Jatuh. “*Aku yang keluar. Kau hanya menerima. Itu penting—tiga ratus tahun orang menarik-narik aku, dan aku mau keluar dari rumahku dengan kakiku sendiri, walau kakiku tidak ada. Maksudnya—*” suara itu hampir tertawa, “*dengan caraku sendiri.*”
“Diterima,” kata Kiyo, dan menurunkan tangannya, dan memegang keranjang itu terbuka, dan menunggu—tidak menarik, tidak membantu, hanya menerima, seperti tangan-tangan yang seharusnya datang tiga ratus tahun lalu.
Dan yang kecil itu keluar.
Pelan. Dari retakan yang paling dalam, dari gelap yang paling dalam, naik sesuatu yang sebesar keranjang bayi—gelap, hangat, retak-retak kecil di seluruh permukaannya seperti cangkang telur yang disayangi, dan berdenyut dengan denyut yang sudah tidak lapar, yang sudah tidak manis-salah, yang sudah tidak berbau bunga busuk—denyut yang hanya berbunyi satu hal, yang akan didengar Kiyo sampai akhir umurnya di dalam tidurnya:
*Pagi. Pagi. Pagi.*
Kiyo menyambutnya dengan dua tangan—dua tangan, karena semua yang diangkat dari gelap harus disambut dengan dua tangan—dan menurunkannya ke dalam keranjang berlapis wol, dan menutupinya bukan rapat-rapat, hanya seperti menyelimuti, karena yang pulang harus bisa melihat jalan.
Di belakangnya, di dalam ruang yang besar itu, tubuh raksasa yang retak terbaring—lebih diam sekarang, lebih selesai, kuburan yang akhirnya menjadi kuburan dengan damai—dan dari seluruh kediamannya yang lama itu, dari lantai dan dinding dan langit-langit gelap, suara Yang Jatuh berkata untuk terakhir kalinya dari dalam tubuh yang besar:
“*Terima kasih untuk tidak menarik.*” Lalu, lebih pelan, kepada rumahnya sendiri: “*Tidurlah. Kau sudah selesai juga. Kau menahanku tiga ratus tahun—itu juga pekerjaan, dan kau mengerjakannya dengan benar, dan aku tidak marah lagi.*”
Dan tubuh besar itu berdenyut satu kali—panjang, dalam, penuh—dan berhenti, dan tidur dengan cara yang berbeda dari semua tidurnya sebelumnya: tidur orang yang akhirnya boleh.
Kiyo berdiri di sana sebentar dengan keranjang kecil di tangannya, di ruang besar yang sudah menjadi kamar kosong yang damai, dan menyadari sesuatu yang akan disampaikannya kepada Majelis nanti dengan susah payah: tidak ada yang hilang dari ruangan ini. Yang berdiri di sini masih utuh—dindingnya, gelapnya, keheningannya. Yang pergi hanya yang menunggu. Dan setelah tiga ratus tahun, ruangan ini tidak menunggu apa-apa lagi, dan karena itu—untuk pertama kalinya—ruangan ini benar-benar luas.
Roswitha mencabut tombak birunya dari tanah—dengan dua tangan, dengan hormat, seperti orang menutup pintu rumah yang sudah selesai dikunjungi. “Tiga tahun aku berdiri di sini siaga,” katanya, kepada ruangan itu, kepada pekerjaannya sendiri. “Tidak sekali pun diperlukan.” Ia menimbang tombak itu, dan tersenyum kecil—senyum Roswitha, yang langka seperti musim. “Bagus. Tombak yang tidak diperlukan adalah tombak yang bekerja paling baik.”
---
Di galeri bundar di atas—Tempat Jatuh yang namanya sudah tiga ratus tahun usang—mereka berhenti sebentar sebelum lorong naik, karena ada yang harus dilakukan, dan Kiyo melakukannya dengan cara yang sudah menjadi cara semua hal di rumah ini: dengan kata-kata.
“Tempat ini tidak lagi bernama begitu,” katanya, kepada Francis, kepada Roswitha, kepada keranjang kecil yang berdenyut *pagi* di tangannya. “Yang dinamai oleh takut harus dinamai ulang oleh yang datang. Tuliskan di peta-peta baru—bukan Tempat Jatuh.” Ia memandang celah tua itu, yang tepinya halus seperti tepi sumur yang seribu tahun dipakai, yang sudah tidak naik napasnya, yang sudah menjadi hanya sumur tua yang selesai dengan tangisnya. “Tuliskan: *Tempat Diangkat.*”
Dan di buku Francis, di halaman yang bersih, dengan tinta yang tidak gemetar, nama itu ditulis—dan begitulah ia masuk ke peta-peta, ke kitab, ke mulut orang-orang, sampai anak-anak yang lahir bertahun-tahun kemudian tidak tahu bahwa tempat itu pernah punya nama lain.
---