Jalan naik itu panjang—lorong demi lorong, galeri demi galeri—dan Meridien memenuhinya dengan tangan.
Bukan kerumunan. Meridien tidak menodai pagi ini dengan kerumunan. Yang berbaris di sepanjang lorong-lorong naik itu adalah orang-orang yang sudah diatur jadwalnya oleh kota yang percaya pada jadwal: pelajar-pelajar senior di setiap tikungan dengan lampu-lampu yang diangkat; penjaga-penjaga muda yang lulus ujian diam di setiap seratus langkah, tidak bersorak, hanya menunduk ketika keranjang lewat; dan di setiap dinding yang dilewati, pahatan-pahatan kecil penambang takut yang dulu—*jangan-ganggu, jangan-ganggu*—sekarang diselingi pahatan-pahatan baru yang digores tangan-tangan muda tiga tahun terakhir: *selamat-pagi, selamat-pagi, selamat-pagi*. Dan di lorong pertama, di antara alat-alatnya yang sudah lama mati, Odo Penjaga Kubah berdiri dengan topi di tangan—topi yang tidak pernah dipakainya di bawah tanah, dipakai pagi ini karena ada tamu kota yang naik.
“Selamat pagi,” kata Odo kepada keranjang itu, dengan suara yang dipakai orang untuk menyapa bayi dan orang-orang yang dihormati. “Selamat datang di lorong pertama. Rumahmu yang lama menjagamu dengan baik. Rumahmu yang baru sudah menyiapkan matahari.”
Dan dari dalam keranjang berlapis wol itu, denyut kecil itu menjawab—*pagi, pagi, pagi*—dan Odo tertawa, dan air matanya turun ke janggutnya, dan ia menyeka keduanya dengan gerakan yang sama.
---
Di mulut tambang, kota menunggu.
Bukan semua kota—kota yang bisa memandang dari teras-terasnya. Di pelataran: Majelis di sisi kiri, penjaga buku kesembilan dengan Buku Kedelapan terbuka di sisi kanan, lampu nisan Raga menyala di pinggir jalan gunung—selalu menyala, selama-lamanya—dan di bangku-bangku yang disediakan, orang-orang yang dulu bersih, yang dulu menyanyi, yang dulu memberi garam, duduk dengan tangan terkatup dan wajah-wajah yang sudah tiga tahun belajar mendengar.
Bibi duduk paling depan. Ia sudah sangat tua sekarang—terlalu tua untuk perjalanan, kata semua orang; ia datang juga, karena ada perjalanan yang ditunggu tiga ratus tahun dan tidak boleh dilewatkan karena lutut.
Dan di depan semuanya, di tempat yang dikosongkan tepat di mulut tambang, di bawah langit yang biru dan bersih seperti baru dicuci:
Seorang anak laki-laki sembilan tahun dengan jubah duke yang sudah dijahit ulang, dengan ikan kayu oranye di satu tangan dan jimat bulu burung di tangan lainnya, dengan Emeteria di belakangnya yang lurus seperti tiang dan Merle di sampingnya dengan buku yang sudah terbuka—dan di pelukan anak sembilan tahun itu, dipegang dengan seluruh kehati-hatian yang dipelajarinya dari seorang yang retak, seekor kucing abu-abu yang gemuk, yang tidak suka kereta, yang sudah menempuh seribu mil untuk janji yang tidak diketahuinya.
Lenard tidak bicara. Ia hanya berdiri di sana, menunggu, seperti yang diajarkan kepadanya—seperti yang ditunggunya selama dua tahun menabung cerita—dan ketika Kiyo muncul dari mulut tambang, besar dan kuyu dan membawa keranjang kecil dengan dua tangan, mata anak itu tidak ke Kiyo.
Mata anak itu ke keranjang.
---
“Paman Kiyo,” kata Lenard, dan suaranya bergetar dan ia membiarkannya bergetar. “Aku datang. Seperti aturannya.”
“Aturan pertama,” kata Kiyo, dan berlutut di depan anak itu, di atas tanah pelataran, di bawah langit—sehingga keranjang itu setinggi mata anak itu, seperti dulu, seperti selalu. “Datang. Kau selalu datang, Lenard. Kau orang paling taat aturan yang pernah kutahu.”
Dan ia menyingkap kainnya—pelan, hanya sebagian, seperti membuka tirai pagi di kamar orang yang baru bangun—dan yang kecil itu terbaring di dalam wol: gelap, hangat, retak-retak kecil seperti cangkang telur yang disayangi, dan berdenyut—heran, heran, heran—karena di atasnya tidak ada langit-langit gelap, tidak ada tanah tua, tidak ada tiga ratus tahun:
Di atasnya ada cahaya.
Matahari pagi turun ke pelataran itu seperti turun ke pelataran mana pun, tanpa tahu bahwa bagi satu penghuni dunia ini, inilah pertama kalinya—pertama kalinya sejak sebelum ada gunung, sejak sebelum ada kota, sejak buah pecah dan biji-bijinya terserak—dan denyut kecil itu berhenti sebentar, terkejut, terpesona, *penuh*—
lalu kembali, cepat, hangat, seperti tawa, seperti anak yang berlari masuk ke rumah baru dan tidak bisa berhenti menyentuh dinding-dindingnya.
“Dia suka,” kata Lenard. Bukan pertanyaan—kepastian; anak yang membesarkan pecahan-pecahan dengan cerita tahu denyut yang suka. “Paman. Dia suka matahari.”
“Dia menabung ceritanya dua tahun,” kata Kiyo. “Ternyata matahari lebih bagus dari cerita. Jangan beri tahu penulis-penulis.”
“Terlambat,” kata Merle, tanpa mengangkat wajah dari bukunya, dengan suara orang yang sedang menulis sejarah dan tahu itu. “Sudah kucatat. *Matahari lebih bagus dari cerita.* Bab terakhir, kalimat pertama.”
---
Dan kemudian—karena ada janji, dan janji di rumah ini tidak pernah dilanggar—Lenard maju selangkah, dan dengan kedua tangannya yang sembilan tahun mengangkat kucing abu-abu yang gemuk itu setinggi keranjang, dan berkata, dengan kesungguhan yang hanya bisa dilakukan anak-anak dan para nabi:
“Namanya Kucing Sumur. Dia tidak takut apa pun. Dia menjaga kakiku malam-malam. Kau yang pertama melihatnya—sebelum laut, sebelum kota, sebelum apa pun—seperti yang kau minta.”
Yang kecil itu berdenyut ke arah kucing itu—lama, penasaran, sungguh-sungguh—dan Kucing Sumur, yang sudah melihat segalanya dan tidak pernah terkesan pada apa pun, memandang keranjang itu sebentar, lalu menguap, lalu berbaring kembali di pelukan Lenard—
dan seluruh pelataran tertawa, dan tangis bercampur di dalam tawa itu seperti garam di dalam roti, dan di bangku paling depan Bibi menunduk dan menangis dengan dua tangan menutup wajah—bukan tangis yang jelek kali ini, bukan tangis yang sopan, melainkan tangis yang ketiga: tangis orang yang hidup cukup lama untuk melihat bahwa yang ditunggunya datang bukan sebagai pintu yang terbuka, melainkan sebagai anak yang diangkat—
dan di atas semuanya, di puncak gunung berbahu bundar, di dalam kubah yang sunyi, Induk yang terjaga mengetuk sekali ke dalam retakannya, dan ketukan itu turun melalui tiga ribu depa batu dan hilang ke dalam tanah pelataran tempat seorang anak sembilan tahun berlutut di depan seorang anak yang lebih kecil lagi, di bawah matahari, di pagi yang akhirnya, akhirnya datang.
---