"Oit!" panggil Agneus saat melihat Anna baru saja keluar dari perpustakaan dengan membawa buku biologi dan juga buku matematika di tangan sebelah kanannya. Heran sekali. Kenapa di jam yang sangat pagi ini bahkan di mana para murid belum banyak yang masuk kelas, Anna telah mengambil banyak buku dan ingin belajar. Bagaimana bisa sahabatnya itu selalu saja belajar setiap hari dan otaknya tidak sumpek sama sekali dengan banyak materi dan juga hitung-hitungan yang jika diberikan kepada Agneus juga akan membuat dirinya bisa-bisa mati muda karena mempelajari banyak hal seperti itu. Agneus saja rasanya selalu muak ketika jadinya harus mengulang kembali pelajaran-pelajaran yang membuatnya pusing dan ingin resign dari hidup.
Anna membalikkan tubuhnya kemudian melambaikan tangannya kepada sahabatnya itu. Gadis yang tidak peduli dengan hal apapun bahkan jika ada yang mengomentari tentang bagaimana dia berperilaku atau berpakaian sekalipun dia tidak akan peduli karena Agneus, dia sendiri tidak pernah mencampuri kehidupan orang lain dan orang lain tentu saja tidak perlu mencampuri kehidupannya. Ini hidupnya. Apapun yang terjadi bahkan jika dia mati sekalipun tidak akan ada yang berhak untuk mengomentari bagaimana dia dalam menjalani hidupnya. Kadang, ada orang yang sok tau dan memilih untuk mengomentari kehidupan orang lain tanpa memperdulikan bagaimana bahasanya mungkin bisa saja menyakiti hati orang lain tersebut. Karena, sejatinya bagaimanapun orangnya, tidak ada yang ingin dinasehati dengan cara yang layaknya seperti binatang. Membentak, mencaci-maki, namun setelahnya berlindung dibalik kata aku hanya ingin memberitahu yang terbaik untukmu.
Halah bulshit!
"Kenapa? Tumben lo datang ke tempat yang lo bilang adalah tempat terangker yang pernah dilihat di seluruh dunia ini?" tanya Anna dengan kekehan. Iya, Agneus selalu saja mengatakan bahwa tempat yang mereka datangi sekarang ini adalah tempat angker yang selalu saja membuatnya mual-mual, pusing berlebihan, tidak nafsu makan, atau bahkan berkeringat dingin seperti tengah diwawancarai oleh pejabat negeri. Lucu sekali. Perkataan Agneus tersebut jelas memicu tawa oleh orang-orang di kelas bahkan para gebetan Agneus sendiri. Iya, Agneus juga mempunyai banyak gebetan yang menyukainya tapi Agneus nggak sendiri tidak menyukai mereka karena malas pacaran. Dia lebih suka bebas jalan kesana kemari tanpa hubungan apapun dan tanpa menyakiti siapapun.
"Gue tadi cariin lo di kelas tapi lo nggak ada. Dan, gue yakin kalau lo di perpustakaan karena lo tuh hantu perpustakaan," cibir Agneus dan membuat Anna tertawa mendengarnya.
"Heh! lo tuh yang musuhan banget sama perpustakaan padahal perpustakaan sendiri nggak ada salah apa-apa. Lucu aja lu bilang gue adalah hantu perpustakaan padahal sendiri yang memusuhi tempat yang keramat untuk para siswa siswi yang katanya pengen sukses."
"Anjor! Heh! Asal lo tau ya, kesuksesan itu nggak di ukur dari seberapa sering siswa-siswi ke perpustakaan. Tapi seberapa sering dia ke rumah ibadah," tukas Agneus.
"Tapi lo sendiri kan Agnostik. Kenapa kau tiba-tiba ngomong rumah ibadah dan Tuhan?"
"Gue percaya Tuhan itu ada tapi yang enggak percaya juga sih. Ah, gitu lah kenapa lo jadi ngomongin agama gue? Gue mau nanya sama lo. Sambil jalan aja deh. Gue males banget di sini. Bikin sumpek dan di perhatiin sama para adik kelas kegatelan di sana. Makannya ayo jalan aja deh," sebal Agneus. Anna melihat ke belakang dan ia melihat Vero, adik kelas yang sangat menyukai Agneus itu menatapnya dengan tatapan cinta. Kenapa Anna tau? Jawabannya adalah, pacarnya juga begitu. Bulol, bucin t***l.
Anna berjalan bersama Agneus dengan pelan. Keadaan sekolah masih sepi namun tidak terlalu sepi. Kebanyakan siswa akan masuk ke kelas ketika 5 menit sebelum jam pelajaran akan berlangsung. "Eh, itu si Vero udah naksir sama lu udah lama tahu. Lo seharusnya bersyukur ada orang yang suka sama loe dengan setulus itu dari SMP sampai SMA seperti sekarang. Lo kok belum membuka diri sih? Padahal gue perhatikan dia tuh anaknya baik banget. Walau ya rada bertingkah."
Vero adalah pemuda yang umurnya 2 tahun di bawah Anna dan Agneus. Agneus dan Vero adalah sahabat masa SMP namun ketika tahu bahwa Vero menyukai Agneus, gadis itu langsung menjauhi Vero sampai sekarang. Vero terus-terusan berusaha untuk mendekati Agneus karena pemuda itu tahu betapa sering tersakiti nya gadis yang ia suka itu sehingga ia ingin melindunginya. Sedangkan Agneus sendiri menolak hal tersebut karena dia tidak mau merepotkan orang lain dan tidak suka apapun yang menjadi urusannya dicampuri oleh orang lain karena dia sendiri juga tahu untuk memecahkan masalah yaitu seperti apa walau membutuhkan waktu yang begitu lama.
"Lo udah tahu kan perasaan gue itu bagaimana? Gimana dulunya lo selalu saja menolak ajakan Virzha untuk pacaran, sama dengan seperti gue yang selalu menolak Vero untuk mengajak gue pacaran. Gak semudah itu untuk berbagi masalah yang kita punya. Apalagi, untuk manusia seukuran seperti Vero ya nggak bakalan pernah menyerah bahkan bisa mempertaruhkan apapun demi kebahagiaan orang yang dia sayangi. Gue nggak mau jadi beban dia dan menjadikan diri gue nggak berguna untuk orang-orang di sekitar gue. Ann, lo tahu kan sebagaimana lo juga pernah merasakan apa yang gue rasakan. Dulu, lo juga suka sama Virzha tapi karena satu dan hal lainnya di mana lo mempunyai masalah yang begitu kompleks, memilih menjauh terlebih dahulu untuk menyembuhkan diri lo kemudian lo bisa berdiri bersama dengan Virzha," kata Agneus.
Anna mendengarkan perkataan sahabatnya itu dengan baik-baik. Ia juga ingin tahu bagaimana perasaan Agneus karena dirinya sendiri juga jarang mengetahui identitas atau apapun masalah tentang Agneus. Memang dia adalah sahabat dari Agneus. Tapi, masalah pribadi juga tidak bisa dipaksakan untuk diceritakan karena tidak semua masalah bisa diceritakan dengan enteng. Pemecahan Masalah apapun bisa dilakukan dengan baik-baik saja karena ada orang yang sering menyimpan masalahnya sendiri karena dia terlalu memikirkan bahwa ia membawa banyak sampah yang akan ia katakan pada temannya. Hal itu juga yang dilakukan oleh Anna dan Agneus. Jika mereka ingin menceritakan apa yang mereka alami atau apapun masalah mereka, mereka akan mengatakannya.
"Gue mau memperbaiki diri gue sehingga gue merasa bisa pantas berdiri di samping Vero tanpa bayang-bayang rasa sakit yang gue alami dulu. Gue gak bahkan gak bisa melakukan hal apapun karena gue sendiri juga belum bisa menyelesaikan masalah gue sehingga yang diterima oleh Vero sekarang adalah hanya kekosongan yang dia terima. Gue juga sebenarnya nggak pernah mau membiarkan cowok yang gue suka pergi dari hidup gue. Tapi, masalah pribadi gue juga nggak bisa gue diemin begitu aja. Maka dari itu, gue akan berusaha sekuat tenaga supaya gue bisa merasa pantas berdiri di samping orang yang gue sayang."
Perkataan Agneus membuat dirinya kembali ke masa dimana Virzha mengejarnya dan dia sama sekali tidak menghiraukan pemuda itu yang selalu saja menginginkan dirinya untuk menatap dan memperhatikan Virzha yang begitu keras menginginkan dirinya untuk menjadi kekasih pemuda tersebut. Sebenarnya, dulu Anna ingin juga membuka hatinya kepada pemuda itu namun sama sekali rasa itu tiba-tiba hilang karena dirinya ditimpa oleh kejadian yang membuat dia mengalami trauma bahkan selalu mengalami mimpi buruk setiap malamnya. Bagaimana dulunya ia perlahan untuk membuka hatinya kepada pria itu dan di saat ia ingin menerimanya, kabar buruk langsung datang dan tentu saja itu membuat dirinya merasakan sakit hati dan depresi sehingga ia harus berkonsultasi dengan psikolog.
Anna masih ingat bagaimana kedua orang tuanya meninggal dengan keadaan yang begitu tragis dan jauh membuat dirinya merasakan beban tiba-tiba datang ke pundaknya. Ia melihat kedua orang tuanya berlumuran darah di depan matanya sendiri namun orang-orang yang katanya menjadi teman hanya menatap mereka sambil mengambil kamera untuk diabadikan. Sesuatu yang jauh membuat Anna merasakan kebencian yang begitu besar kepada para ilmuwan dan pemerintah pada saat itu karena mereka tahu bahwa orang tua Anna adalah agen yang jujur dan bahkan bersatu melawan pemerintahan yang pada saat itu benar-benar diluar nalar. Banyak dari para ilmuwan bahkan pemerintah memperjualbelikan mayat kepada orang-orang di luar negeri atau bisa disebut ilmuwan di luar negeri sana untuk dijadikan pundi-pundi uang yang tentu saja dimasukkan ke kantong pribadi.
Orangtua Anna pada saat itu menjadi agen pemerintahan juga namun yang bersifat bersih. Tentu saja, kedua orang tuanya tidak gila harta seperti pemerintah dan ilmuwan yang yang juga gila dengan popularitas di mana mereka harus dipuji dan diakui apapun yang mereka buat walau itu berdampak negatif. Lucunya, pada saat itu pembunuhan seperti menjadi sesuatu yang benar-benar menakutkan tapi terjadi setiap harinya. Ada saja orang-orang yang akan ditembak atau ditusuk oleh orang yang tidak dikenal dan kemudian mayatnya menghilang begitu saja ketika dibawa ke rumah sakit. Dan, pada malam harinya orang tua mereka menceritakan bahwa mereka telah menemukan alasan mengapa banyak mayat yang tidak ditemukan identitasnya di lapangan dekat gudang terbesar di kota mereka. Mayat yang terletak tanpa identitas wajah yang sudah rusak itu itu tidak bisa digunakan oleh ilmuwan karena satu dan hal lainnya yang pada saat itu Anna tidak terlalu mengerti dengan hal tersebut.
Dan, kejadian pada pagi harinya. Kedua orangtua Anna pergi ke stasiun TV dan memberikan beberapa bukti bahwa ada orang-orang yang melakukan tindakan ilegal membunuh dan juga menjual belikan manusia. Jadi, adegan selanjutnya pasti kalian tahu. Sepulang dari tempat stasiun TV tersebut, dengan berita yang sudah menjadi sangat viral dan orang-orang banyak yang mencari pelaku pembunuhan dan juga perjualbelikan manusia, kedua orang tua Anna mengalami kecelakaan yang begitu membuat dirinya dan Gama ingin sekali pingsan bahkan ikut mati juga bersama kedua orangtuanya. Mobil mereka mengalami tembakan di bagian kap mobil dan juga ban mobil yang ditembak dari berbagai sisi arah. Juga, tiba-tiba ada ledakan di dalam mobil yang tentu saja langsung membuat tubuh kedua orang tua Anna dan juga Gama menjadi tercerai berai dengan usus bahkan jantung yang lepas dari tempatnya.
Bayangkan, jika menjadi Anna atau Gama. Mereka melihat kejadian tersebut padahal baru beberapa menit saat kedua orang tuanya sedang menuju ke sekolah Anna, mereka berencana untuk memakan jagung bakar di tempat yang biasa mereka kunjungi. Benar-benar gila. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana tubuh itu hancur begitu parah dan para orang yang katanya menjadi teman itu hanya menatap kedua orang tua Anna dengan tatapan yang anda ketahui mereka merasa puas akan hal itu. Bahkan, dengan cara yang tidak manusiawi sama sekali, mereka mengabadikan foto-foto tersebut sosial media dia menjadikan alasan berbelasungkawa padahal mereka bersembunyi dibalik kata musuh.
Anna dan Gama pada saat itu ia menginginkan untuk kasus selanjutnya bisa dinaikkan karena kejadian ini sudah di luar nalar sebab tidak ada kecelakaan biasa di mana mereka ditembaki dari berbagai arah. Dan, saat mereka mengajukan untuk mencari identitas pelaku, Anna mengalami kejadian yang tidak baik yaitu diculik selama 2 hari tidak diberi makan dan disiksa. Tentu hal tersebut menjadikan dirinya kembali mengalami mimpi buruk dan perlu penanganan psikolog untuk hal itu. Anna dan juga Gama tidak bisa melakukan tindakan lebih lagi karena jika ada pengacara yang ingin mengajukan tuntutan hukum kepada orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan kedua orang tua Anna, besoknya mereka akan mati dengan cara mengenaskan juga.
Anna benar-benar tidak habis pikir dengan bagaimana manusia bisa menjadi binatang hanya dengan memikirkan kepuasan mereka. Anna sebenarnya ingin sekali membunuh para orang-orang itu dan menjadikan mereka bahan eksperimen selanjutnya yang akan dilakukan oleh ilmuwan di luar negeri tersebut. Namun, dengan kekuatan dirinya yang hanya rakyat biasa tentu saja tidak bisa didengar keadilan untuk dirinya ataupun untuk keluarganya. Sehingga hal terakhir yang ia dapatkan hanyalah tangisan yang begitu menyakitkan dan tuntutan keadilan yang tidak ditegakkan.
"Oi! Lo kok jadi begitu gue ajak ngomong? Kenapa? Lo ada masalah dengan apa yang gue ucapkan tadi?" tanya Agneus saat mereka sudah duduk di bangku mereka sendiri.
"Nggak." Anna menghela nafasnya berat, "Sebenarnya gue sendiri bingung apa yang membuat Virzha suka sama gue."
"Adehh, cuy, dia udah suka sama lo itu dah lama banget. Bahkan, sebelum kita kenal yang bener-bener kenal banget, dia duluan adalah orang yang menghampiri dan menanyakan nama lo. Tapi, ya gue tau sendiri sih lo tuh orangnya gimana. Sangat tidak peka alias emang dasarnya g****k," celetuk Agneus membuat Anna menimpuk kepala gadis itu.
"Enak aja lo bilang gue g****k! Heh! Lo sendiri juga gak peka sama sekali. Yang suka sama lo aja bukan hanya satu orang, banyak! Dan lo nggak peka sam-"
"Kepada kak Anna, kakak di cari sama pak Noel."