Anna menatap lembaran foto di mana dirinya dan Virzha bersama. Banyak yang mengatakan dirinya beruntung memiliki pemuda itu. Namun, pada dasarnya yang beruntung adalah Anna. Gadis itu mendapatkan seseorang yang bisa menerimanya apa adanya dan mau mendengarkan dirinya dari segala hal ataupun cerita yang terdengar random sampai yang paling serius. Anna mendapatkan seseorang yang bisa menerimanya dalam bentuk hal apapun itu. Bagaimana Anna bisa berpaling dari siapapun sebab Virzha sendiri saja membuat dirinya selalu merasa dicintai dan disayangi. Dia selalu dilindungi dan tetap di sampingnya walaupun banyak hal yang telah mereka lalui dengan segala pertengkaran. Anna benar-benar merasa beruntung memiliki pemuda itu di hidupnya.
Kini, ia ingin membuka kembali hatinya lebih lebar lagi karena jika karena di presentasekan, cinta yang diberikan Anna ke Virzha sekitar 50% besarnya. Belum memenuhi sampai 100% karena untuk membuka hati setelah sekian lama tidak pernah merasakan cinta yang begitu tulus seperti Virzha berikan kepadanya, itu adalah sesuatu yang sulit untuk dia lakukan. Anna tidak ingin melepaskan pemuda ini karena dia tidak mempunyai siapapun yang mencintainya dan menyayanginya begitu tulus. Anna percaya bahwa pemuda itu akan selalu mencintainya dan menyayangi dirinya lebih dari apapun. Anna benar-benar sangat berharap dan bergantung hidup pada sosok pemuda yang dulunya selalu ia tolak mati-matian.
Hari ini Virzha mengajaknya keluar. Ia ingin mengajak Anna pergi menonton film hantu yang sudah mereka wanti-wanti diri kemarin. Karena film tersebut termasuk best seller, kemungkinan besar tiket akan segera habis. Maka dari itu keduanya langsung memesan tiket nonton karena pasti akan tidak dapat kalau belum dipesan duluan. Film ini emang ada apa film kesukaan Virzha. Pemuda itu selalu saja menyukai berbagai film hantu bahkan film-film hantu yang tidak yang mengerti bahasanya juga sudah sering dia tonton karena sudah kehabisan rekomendasi. Anna merasa aneh jika mau nonton film hantu karena dia lebih suka film thriller. Keduanya memiliki perbedaan namun tidak terlalu signifikan. Jadi, ketika Virzha mengajak Anna menonton film hantu, dia tidak terlalu keberatan karena genrenya tidak terlalu beda dengan thriller.
Anna sudah memakai kaos oversize berwarna putih, jeans light blue, dan sneaker berwarna putih. Sangat cantik di pakai Anna karena pada dasarnya gadis itu memang sangat cantik walau tidak memakai make up sekalipun. Banyak gadis-gadis diri dengan penampilan Anna yang sederhana namun wajahnya terlihat cantik dan elegan walau ada kesan jutek di dalamnya. Anna sendiri juga tidak terlalu sering memakai skincare karena dia terlalu malas untuk mengoleskan masker ke wajahnya atau melakukan segala hal treatment tentang wanita. Bahkan kalau tidur dia hanya modal cuci muka saja. Ia tidak terlalu suka jalan hidup yang ribet dan memilih untuk menjalani hidup yang santai dan lebih efektif.
Setelah memakai segala hal yang di perlukan, sekarang Anna mengambil ponselnya kemudian mengambil gambar dirinya. Ia terlihat kaget dengan tubuhnya yang sekarang lebih kurus dari biasanya. Mungkin saja sekarang dia banyak pikiran sehingga tubuhnya menjadi seperti orang yang kurang gizi. Anna sendiri juga terkadang lupa makan karena banyak urusan yang perlu ia lakukan dan banyak sekali hal yang perlu ia selesaikan secepatnya agar dia tidak selalu mendapatkan beban pikirannya begitu banyak dan menumpuk di kepalanya.
Tin Tin
Suara mobil mengalun. Anna segera mengambil tasnya kemudian berjalan keluar. Terlihat Virzha yang memakai kaos berwarna putih dan juga celana jeans light blue. Jangan disangka bahwa mereka telah janjian untuk memakai baju yang sama, tidak, tidak sama sekali. Keduanya sepertinya kebetulan mendapatkan pikiran untuk memakai baju yang sama walau tanpa janjian sekalipun. Anna tertawa melihat pemuda itu yang melihat baju nya kemudian baju Anna. Seperti orang yang tidak percaya bahwa mereka memakai baju yang sama. Anna sebenarnya juga merasa lucu saat mereka melihat memakai baju yang sama. Rasanya Anna dan Virzha seperti malu sendiri.
"Kok kita pakai bajunya barengan ya? Kok kamu jadi ikutan aku pakai baju yang sama?" tanya Anna. Virzha sendiri terkekeh mendengar Anna mengatakan hal tersebut. Ia kemudian maju dan mengelus surai lembut milik kekasihnya itu.
"You look very beautiful today with just a casual style." ucap Virzha dan membuat Anna tersenyum kecil saat mendengar kekasihnya mengatakan hal tersebut. Sebenarnya, Anna sudah terlalu sering mendengarkan apa yang dikatakan oleh Virzha karena pemuda itu tidak jarang untuk memberitahunya atau memujinya tentang penampilan Anna. Pemuda itu juga bukan tipekal menyukai gadis yang harus ribet ini itu hanya untuk bertemu saja. Anna mungkin karena sudah cantik dari sananya jadi dia mau bagaimanapun tetap cantik walau tidak memakai makeup sekalipun. Dan, Virzha menyukainya. Bukan, bukan berarti Virzha menyukai gadis yang harus cantik dan memiliki karismatik dan juga pesona yang begitu kuat. Namun, kebetulan adalah dia memiliki kekasih yang begitu cantik dan itu membuatnya bersyukur. Kalaupun Anna tidak terlihat secantik ini, sepertinya dia tetap menyukai gadis ini karena pembawaan dewasa yang dimiliki oleh Anna membuat siapapun orangnya akan menyukai pembawaan saat gadis itu berbicara dengan tegas dan berani. So, itu yang membuat Virzha menyukai gadis dingin yang bahkan jarang sekali menampakka senyum terbaiknya ketika di sekolah.
"Kamu emang niat ya mau couple-an sama aku? Keliatan banget kamu kayak bener-bener mirip banget bajunya sama aku." Virzha mencubit pipi gadisnya dengan gemas. Tuhan, bagaimana bisa engkau menciptakan gadis secantik Anna dengan sifat yang sangat dingin dan tidak mudah tersentuh?
"Nggak Ih!" Anna memanyunkan bibirnya, "Aku juga nggak tahu kalau kamu bakalan pakai baju kayak begini. Yaudah, kalau kamu nggak suka aku pakai baju begini aku ganti aja ya." Anna mencoba berbalik badan namun tangannya langsung di tahan oleh Virzha.
"Nggak, sayang. Aku tuh cuman goda kamu aja. Kenapa sih semua hal yg kamu anggap serius? Jadi gemes banget sama gadisku ini." Virzha mencubit pipi Anna kembali kemudian menciumnya dengan gemas. Anna memukul d**a Virzha sembari tertawa. Lucu sekali rasanya. Bahagia yang ia rasakan dari pemuda ini benar-benar sesederhana itu tanpa harus mengeluarkan uang yang begitu banyak. Hanya dengan tingkah menggemaskan dari pemuda ini juga membuat dirinya selalu saja merasa dicintai dan dibutuhkan. Persetan dengan Noel! Dia akan tetap membalaskan dendamnya pada pria itu sehingga dia mendapat ganjaran yang setimpal dan Gama bisa sesegera mungkin dibebaskan.
Kini, Anna diajak oleh Virzha untuk memasuki mobilnya. Pemuda itu memang memiliki sifat yang lembut untuk memperlakukan seorang wanita lebih baik. Anna merasakan betapa tulusnya pemuda itu sehingga ia merasakan begitu nyaman berada di dekatnya. Anna merasa dilindungi dan merasa disayang seperti yang ia katakan tadi setiap dia diperlakukan dengan baik seperti ini. Dia juga seperti merasakan bahwa dirinya tidak sendirian di dunia ini setelah semuanya telah menghilang dan berubah secara total ketika seorang pria yang tidak ia kenal langsung mengklaim dirinya adalah kekasihnya, itu datang dalam hidupnya seakan menjadi bumerang begitu besar dalam hidupnya. Anna sudah mati-matian merasakan betapa menderitanya dirinya ketika Noel datang ke dalam hidupnya. Semuanya berubah secara total dan kehidupan yang penuh misteri. Banyak hal yang dirahasiakan dan banyak hal yang terungkap. Anna pada benar merasakan bahwa kehidupannya sekarang jauh lebih aneh dari sebelumnya.
Dan, sebenarnya dia tidak mempercayai tentang sebuah informasi yang terjadi dalam kehidupannya. Namun, setiap mimpi dan kejadian seakan menjadikan dirinya kembali ke masa lalu. Anna benar-benar merasakan dia tidak mempunyai tempat yang lebih baik untuk ia pikirkan bahwa semua ini adalah mimpi atau tidak. Bahkan, terkadang dirinya seperti tidak tahu bahwa dia ada di kehidupan nyata atau di ilusi nya di masa lalu. Dan, jujur saja itu membuatnya selalu saja merasakan banyak beban pikiran.
Anna membuka dashboard milik Virzha kemudian mengambil hand sanitizer di dalam dashboard tersebut. Anna mengusapkan pada tangannya kemudian memberikan cairan itu pada Virzha. Virzha menerimanya kemudian mengusap tangannya hingga sensasi dingin itu terasa menyejukkan.
"Btw, kita mau ke mana dulu sekarang? Kamu mau makan dulu atau mau pergi ke perpustakaan?" tanya Virzha sembari menyalakan mobilnya.
"Emm, kayaknya ke perpustakaan dulu deh. Soalnya ada beberapa buku ujian nasional yang harus aku beli."
"Belajarrrr muluuu. Kamu enggak capek apa belajar terus-terusan sampai begitu kerasnya?" kata Virzha pada Anna yang memperhatikan jalanan. Gadis itu memang selalu saja bekerja dan belajar keras sampai-sampai terkadang dia sakit hingga mimisan. Anna terlalu keras untuk memperjuangkan beasiswanya sehingga tidak pernah memperhatikan kesehatan. Hal yang selalu saja membuat Virzha merasa marah karena gadis itu tidak bisa mengatur dirinya lebih baik lagi dan hanya egois memikirkan nilai. Namun, jika hal itu di singgung olehnya, yang ada gadis kesayangannya itu akan ngomel seperti ini.
Kamu nggak pernah merasakan bagaimana rasanya punya beasiswa seakan udah ada tanggung jawab yang harus ditunaikan. Kalau aku mau juga kayak kamu yang banyak main-mainnya daripada belajar. Kan kamu nggak pernah merasakan kayak aku yang harus sekolah dengan beasiswa.
Hal yang sempat memicu emosi Virzha beberapa hari yang lalu. Tapi, daripada mereka bertengkar, lebih baik keduanya tidak mengambil pusing masalah yang sebenarnya tidak perlu dipusingkan. Jadi, Virzha memilih untuk diam yang tidak terlalu mencampuri kinerja kerja dari kekasihnya. Ia hanya akan bertugas untuk mengingatkan makan atau membawakan makanan untuk Anna ketika gadis itu lupa untuk makan.
Virzha membelokkan setirnya ke kiri. Ia terkejut saat melihat Noel tengah berciuman panas dengan seorang wanita. Ia menatap gadis yang di sampingnya kemudian tersentak ketika melihat mata itu berkaca-kaca ia akan merasakan sakit hati ketika melihat kekasihnya selingkuh di belakangnya.
"Not everyone can be trusted even if that person is someone we really love. Everything is just a charade including the kissing bastard."