Skandal selalu datang seperti hujan di Jakarta. Tidak ada peringatan, lalu tiba-tiba semua basah.
Enam hari setelah ketukan palu, pembeli lewat telepon itu meminta uji laboratorium independen sebelum melunasi sisa pembayaran. Itu prosedur normal untuk transaksi belasan miliar. Yang tidak normal adalah hasil yang kembali tiga hari kemudian: lot empat puluh tujuh, lanskap pegunungan karya Raden Saleh Mangkunegara, mengandung pigmen sintetis yang tidak mungkin ada di zamannya. Lukisan itu palsu. Bukan sekadar diperbaiki. Dibuat dari nol untuk menipu.
Laras membaca berita itu di ponselnya pukul tujuh pagi, masih dengan secangkir kopi di tangan, dan ia tahu, sebelum kalimat kedua, bahwa namanya akan ada di paragraf keempat.
Dan benar saja.
Rapat dewan dipanggil mendadak siang itu. Laras masuk ke ruang rapat kaca di lantai sembilan, ruangan yang biasanya hanya ia lewati, dan menemukan dirinya duduk di ujung meja panjang, sendirian di satu sisi, sementara tujuh anggota dewan dan dua orang hukum duduk berseberangan. Reza Adityawarman duduk di tengah, jasnya kali ini abu-abu, wajahnya memasang ekspresi prihatin yang sudah ia latih.
"Laras," kata Reza, dan suaranya lembut, terlalu lembut, seperti orang yang menjelaskan kepada anak kecil bahwa peliharaannya mati. "Kami semua sangat kecewa. Kau tahu betapa balai ini menjunjung integritas."
Laras meletakkan map di atas meja. "Saya menjamin keasliannya tidak bisa saya pertanggungjawabkan. Saya menulis itu sepuluh hari sebelum lelang. Saya menyerahkannya langsung ke meja Bapak."
Ruangan hening sejenak. Salah satu orang hukum membuka folder.
"Laporan otentikasi lot empat puluh tujuh," kata pengacara itu, membaca, "ditandatangani oleh Larasati Hendarman, konservator senior, tertanggal dua belas hari sebelum lelang, menyatakan, kutip, keaslian karya konsisten dengan periode dan teknik yang diklaim, tutup kutip. Tidak ada catatan keberatan, tidak ada rekomendasi penundaan."
Laras merasa lantai miring sedikit.
"Itu bukan laporan saya," katanya. "Tunjukkan ke saya."
Pengacara itu menggeser selembar kertas ke seberang meja. Laras menariknya. Kop balai. Format yang ia kenal. Dan di bawah, tanda tangan yang menyerupai tanda tangannya, lengkap dengan lengkungan huruf H yang ia buat sejak SMA. Tapi bukan miliknya. Ia tahu tanda tangannya sendiri seperti ia tahu napasnya. Lengkungan ini terlalu rapi, terlalu lambat. Seseorang menyalinnya dengan teliti, dan orang yang menyalin tanda tangan tidak pernah tahu bahwa tanda tangan asli selalu sedikit tergesa.
"Ini palsu," kata Laras, dan ia mendengar suaranya sendiri naik. "Tanggalnya saja salah. Laporan asli saya bertanggal sepuluh hari sebelum lelang, bukan dua belas. Saya punya salinannya. Ada di komputer studio saya."
Reza menukar pandang dengan kepala bagian IT yang duduk di sudut. "Laras, kami sudah memeriksa server. Tidak ada dokumen lain selain yang ini."
Tentu saja tidak ada, batin Laras. Tentu saja sudah dibersihkan.
"Salinan email saya ke laboratorium," katanya cepat. "Saya mengirim sampel pigmen. Ada jejaknya."
"Laboratorium yang mana?" tanya pengacara. "Kami menghubungi semua rekanan resmi balai. Tidak ada yang menerima sampel dari Anda untuk lot empat puluh tujuh."
Dan di situ Laras berhenti, karena ia tahu laboratorium yang ia pakai bukan rekanan resmi. Ia memakai lab kecil milik teman lama, di luar daftar, karena ia tidak mau hasilnya bocor sebelum waktunya. Ia melakukannya untuk kehati-hatian. Sekarang kehati-hatian itu berubah menjadi jurang. Tidak ada jejak resmi. Tidak ada apa-apa selain kata-katanya melawan selembar kertas dengan tanda tangan palsu yang menyerupai miliknya.
Mereka sudah memikirkan ini. Setiap langkah. Berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan, sebelum ia bahkan tahu ada permainan yang sedang dimainkan.
"Per hari ini," kata Reza, dan suaranya berubah, kehilangan kelembutannya, menjadi datar seperti pisau, "kau diberhentikan sementara dari seluruh tugas. Akan ada penyelidikan internal. Demi nama baik balai, dan, jujur saja, demi nama baikmu sendiri, kusarankan kau tidak berbicara ke media."
Nama baikku, pikir Laras nyaris tertawa. Seolah masih ada yang tersisa.
Ia berdiri. Tangannya tidak gemetar lagi. Justru tenang dengan cara yang menakutkan dirinya sendiri. "Berapa potongan Bapak?" tanyanya pelan.
Reza mengernyit. "Apa?"
"Dari dua belas setengah miliar itu. Berapa yang masuk ke kantong Bapak sebelum semuanya meledak dan saya jadi tumbalnya?"
Ruangan membeku. Salah satu anggota dewan berdeham. Reza menatapnya lama, dan untuk sepersekian detik, di balik mata cokelat itu, Laras melihat sesuatu yang bukan amarah dan bukan rasa bersalah. Sesuatu yang lebih dingin. Hiburan. Pria itu menikmati ini.
"Antar Bu Hendarman keluar," kata Reza akhirnya, tanpa menjawab.
Dua satpam sudah menunggu di luar pintu kaca. Mereka tidak menyentuhnya, hanya berjalan setengah langkah di belakang seperti bayangan, sementara Laras menyusuri lorong yang sudah ia lewati ribuan kali, melewati staf-staf yang tiba-tiba sangat sibuk menatap layar mereka, tidak ada yang berani menatapnya. Di studio konservasi, mejanya sudah dikosongkan. Kuas-kuasnya, lup-nya, lampu UV portabel yang ia beli dengan gaji tiga bulan, semua sudah dimasukkan ke dalam kardus oleh tangan asing.
Ia membawa kardus itu keluar gedung sendirian, melewati pintu putar kaca, ke trotoar yang panas dan bising. Di seberang jalan, seorang fotografer dari portal berita sudah menunggu. Lampu kilat menyala. Esoknya wajahnya ada di mana-mana, di bawah judul yang tidak menyebut kata 'diduga': Konservator Balai Adityawarman Loloskan Lukisan Palsu Belasan Miliar.
Mesin itu sudah bergerak. Dan mesin tidak pernah peduli siapa yang digilingnya, asalkan ada yang harus digiling.