Langit sore itu berwarna jingga pucat, seolah matahari enggan meninggalkan kota. Udara terasa sejuk setelah hujan semalam, membuat aroma tanah basah samar tercium di sepanjang jalan. Di trotoar, Rani melangkah dengan tenang, mengenakan trench coat krem yang memeluk tubuhnya dengan elegan, rambutnya dibiarkan tergerai jatuh di bahu.
Ia mengenakan sepatu hak rendah yang tidak terlalu mencolok, tapi cukup menambah sentuhan anggun pada penampilannya. Di tangannya, ia membawa tas kulit cokelat tua yang sudah ia siapkan sejak siang. Dan, tentu saja, di lehernya melingkar syal tipis berwarna biru keabu-abuan—benda yang hari ini akan menjadi bagian penting dari rencananya.
Kafe itu terletak di sudut jalan yang tenang. Jendela-jendela kacanya lebar, dan dari luar, lampu gantung kuning temaram membuat suasananya hangat. Aroma kopi yang khas langsung menyambutnya saat ia mendorong pintu masuk. Lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan, menarik sedikit perhatian pengunjung.
Rani sudah hafal betul tata letak kafe itu. Meja-meja kayu berlapis varnish gelap, kursi-kursi empuk dengan bantalan kain bermotif kotak. Di sudut dekat jendela, ada meja bundar yang dulu sering mereka duduki—meja yang memberi pemandangan jalan kecil di luar dan cukup jauh dari meja barista untuk memberi privasi.
Dan di sanalah dia.
Dimas.
Ia sedang duduk sendirian, menunduk menatap laptop dengan secangkir kopi hitam di sebelahnya. Rambutnya sedikit lebih pendek dibanding terakhir kali Rani melihatnya dari dekat, tetapi tetap dengan potongan rapi yang khas. Bahunya lebih lebar, tubuhnya tampak sedikit lebih berisi—tanda kehidupan yang makmur.
Rani berdiri sejenak di dekat pintu, pura-pura tidak langsung menyadari keberadaannya. Lalu, seperti seseorang yang tiba-tiba terkejut menemukan kenalan lama, ia membelalakkan mata dan melangkah mendekat.
“Dimas?” suaranya dibuat sedikit ragu, seakan ia tak yakin.
Dimas menoleh, dan reaksi di wajahnya tidak bisa ia sembunyikan—ada keterkejutan, disusul senyum yang perlahan terbentuk. Senyum itu… oh, Rani masih mengenalnya. Senyum yang dulu selalu ia tunggu setiap kali mereka bertemu.
“Rani?” Dimas berdiri, suaranya terdengar lebih berat sekarang, tapi nada hangatnya masih sama. “Astaga… lama banget nggak ketemu!”
Rani tertawa kecil, membiarkan matanya berbinar. “Iya, sudah berapa tahun ya? Aku sampai kaget lihat kamu di sini.”
Mereka berjabat tangan. Sentuhan singkat itu cukup untuk mengirimkan gelombang memori ke kepala Dimas—dan Rani tahu itu.
Pura-pura kebetulan, padahal serba terencana.
Rani duduk di kursi di seberang Dimas. Seorang pelayan datang dan ia memesan cappuccino dengan suara lembut, lalu menaruh tasnya di samping kursi. Ia sengaja melepaskan syalnya dan melipatnya rapi di atas meja—posisi yang strategis.
“Masa kamu masih suka nongkrong di sini?” tanya Rani sambil menatap sekeliling. “Kayak nggak berubah ya, suasananya.”
Dimas tersenyum. “Iya, aku masih sering ke sini kalau ada waktu. Rasanya… familiar aja. Nyaman.”
Nyaman. Kata itu menggelitik telinga Rani. Ia tahu Dimas punya kebiasaan mencari hal-hal yang familiar untuk merasa aman. Itulah mengapa ia memilih kafe ini sebagai lokasi pertemuan “kebetulan” mereka.
“Aku jadi ingat…” Rani memiringkan kepalanya, tersenyum samar. “Dulu kita sering duduk di meja ini, ya? Waktu itu kamu selalu pesan kopi hitam, terus bilang aku aneh karena lebih suka minuman manis.”
Dimas tertawa kecil, matanya sedikit menyipit seperti dulu. “Iya, aku ingat. Kamu sampai bawa gula tambahan sendiri di tas, kan?”
Rani ikut tertawa, membiarkan percakapan itu mengalir ringan. Ia tahu betul kelemahan Dimas: nostalgia. Begitu ia membicarakan kenangan masa lalu, Dimas akan membuka diri—dan itulah yang sedang ia lakukan.
Mereka berbicara hampir setengah jam. Tentang pekerjaan, tentang perubahan di kota, bahkan tentang musik yang dulu mereka dengarkan bersama. Rani memainkan perannya dengan sempurna: tertawa pada momen yang tepat, mengangguk penuh perhatian saat Dimas bercerita, sesekali menyentuh lengannya secara singkat seolah tak sadar.
Dimas, di sisi lain, terlihat semakin rileks. Awalnya ia duduk tegak, tapi sekarang tubuhnya condong sedikit ke depan, tatapannya fokus pada Rani. Ada sinar di matanya yang tidak ia tunjukkan di foto-foto media sosialnya.
Di tengah percakapan, Rani berpura-pura kaget melihat jam di ponselnya. “Aduh, aku harus pergi. Ada janji lain.” Ia mulai membereskan barang-barangnya dengan santai.
Namun, syal biru keabu-abuan itu ia biarkan tetap tergeletak di meja.
Dimas tidak langsung menyadarinya. Mereka berdiri, berpelukan singkat seperti dua teman lama yang bertemu setelah bertahun-tahun. “Senang banget ketemu kamu lagi, Ran,” kata Dimas sambil tersenyum.
“Ya, aku juga. Sampai ketemu lagi, Dim,” jawab Rani sambil melangkah keluar.
Begitu pintu kafe tertutup di belakangnya, Rani berjalan santai ke arah parkiran. Matanya melirik jam di ponsel. Tiga… dua… satu…
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Dimas:
"Ran, kamu ninggalin syal di meja kafe. Mau aku bawain besok atau kirim ke rumah?"
Rani tersenyum tipis. Umpan ditelan.
Tangannya mengetik balasan dengan hati-hati, menjaga nada agar terdengar hangat tapi tidak terlalu bersemangat.
"Oh, iya? Aduh… aku nggak sadar. Kalau nggak keberatan, kamu bisa bawain aja minggu ini. Kita sekalian ngopi lagi."
Balasan Dimas datang cepat:
"Boleh banget. Kamu yang tentuin waktunya."
Rani menatap layar ponsel itu lama, lalu memasukkannya ke tas. Langkahnya ringan saat ia menuju mobil. Di dalam hatinya, ia tahu ini baru langkah pertama. Tapi dari senyum di wajahnya, terlihat jelas—rencananya berjalan sempurna.