Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Andyka Sumariyanto
Hujan gerimis sore itu membasahi kaca jendela apartemen Rani, meninggalkan jejak air yang mengalir pelan seperti garis-garis tipis air mata yang tak terlihat. Dia duduk di tepi ranjang, bersandar pada bantal besar, dengan secangkir kopi hitam di tangan. Aroma kopi bercampur dengan wangi lavender dari lilin aromaterapi yang menyala di sudut meja.Telepon genggamnya tergeletak di pangkuan. Sudah hampir lima menit ia menatap layar yang menampilkan i********:, namun jarinya tak kunjung bergerak. Matanya fokus pada satu unggahan foto yang membuat napasnya tertahan. Foto itu memperlihatkan sepasang suami istri tersenyum di sebuah pantai berpasir putih, memegang tangan satu sama lain seakan dunia hanya milik mereka berdua.Dimas.Pria itu berdiri di sebelah seorang wanita cantik berkulit putih, mengenakan dress musim panas berwarna biru pastel. Wanita itu tersenyum lebar, dan jemari tangan kirinya memamerkan cincin pernikahan yang berkilau. Tulisan di bawah foto itu hanya singkat: "3 tahun bersama, dan setiap hari aku semakin jatuh cinta padamu. menarik napas panjang. Bukan karena ia kaget melihat wajah Dimas—ia sudah sering melihatnya di media sosial, baik sengaja maupun tidak. Tapi kali ini, caption itu seperti menamparnya. Tiga tahun menikah. Itu berarti… hanya tiga bulan setelah Dimas meninggalkannya, dia sudah naik ke pelaminan bersama wanita itu.Ingatan Rani mulai berputar mundur.Tiga tahun lalu, ia dan Dimas adalah pasangan yang hampir semua orang kira akan menikah. Empat tahun mereka berpacaran, melewati masa kuliah bersama, berbagi mimpi, saling menguatkan di masa sulit. Dimas selalu bilang, "Kamu itu rumahku, Ran. Aku nggak butuh apa-apa lagi selain kamu." Dan Rani, naifnya, percaya kata-kata itu sepenuh hati.Mereka pernah merencanakan pernikahan—bukan yang mewah, tapi sederhana dan hangat. Mereka membayangkan tinggal di rumah kecil di pinggiran kota, menabung bersama untuk masa depan. Rani bahkan sudah mengumpulkan foto-foto referensi dekorasi pernikahan di ponselnya.Lalu, suatu sore, Dimas datang dengan wajah tegang. “Kita putus,” katanya, tanpa banyak penjelasan.Rani sempat tertawa—mengira itu lelucon yang bodoh. Tapi tatapan mata Dimas kala itu bukan tatapan bercanda. “Aku… nggak bisa nikah sama kamu. Maaf, Ran. Aku harus menikah dengan orang lain.”Orang lain itu adalah Nadia—anak dari pengusaha besar yang ternyata kenalan ayah Dimas. Pernikahan itu katanya adalah "kesempatan emas" untuk masa depan keluarganya.Rani hancur. Tidak ada kata lain yang cukup untuk menggambarkan perasaan itu. Dia tidak hanya kehilangan kekasihnya, tapi juga kehilangan masa depan yang sudah ia susun di kepalanya selama bertahun-tahun. Dia merasa dibuang, diganti, dan dihinakan.Yang membuatnya lebih sakit, adalah kenyataan bahwa Dimas tidak sekadar memilih orang lain—dia memilih hidup yang jauh lebih mudah, lebih mewah, meninggalkan semua janji yang pernah mereka buat.Kini, setelah tiga tahun, Rani melihat foto-foto mereka di media sosial dan merasakan luka lama itu terbuka lagi. Bukannya sembuh, rasa sakit itu seperti dipelihara diam-diam di sudut hatinya.Bahagia sekali mereka… seolah tak pernah ada aku.Ia menatap lama foto itu, jarinya berhenti di tombol "like". Tidak, ia tidak akan memberi mereka kepuasan itu. Tapi ia juga tidak menutup layar. Matanya justru menelusuri foto-foto lain di akun Nadia: liburan di Bali, pesta ulang tahun dengan gaun elegan, makan malam di restoran bintang lima, dan senyum Dimas yang terlihat… berbeda.Bukan senyum yang dulu ia kenal—senyum hangat dan tulus. Ini senyum yang… terlalu sempurna. Terlalu dibuat-buat. Dan entah kenapa, itu membuat Rani berpikir: Apa dia benar-benar bahagia?Rani memiringkan kepalanya, menatap layar ponsel itu lebih lama. Ada api kecil yang mulai menyala di hatinya. Bukan api cinta—tidak. Cinta itu sudah lama mati pada hari Dimas mengatakan ia akan menikah dengan wanita lain. Yang tersisa adalah bara dari penghinaan, dari rasa sakit yang belum pernah benar-benar ia lupakan.Perlahan, bara itu berubah menjadi sesuatu yang lain—sebuah niat yang berbahaya.Malam itu, Rani berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartemennya. TV menyala tanpa suara, lampu gantung menerangi ruangan dengan cahaya kekuningan yang lembut. Namun pikirannya sama sekali tidak tenang.Ia mulai mengingat satu per satu detail tentang Dimas. Apa yang membuatnya tertarik dulu. Apa kelemahannya. Apa yang tidak bisa ia tolak.Dimas selalu punya titik lemah pada kenangan lama. Dia pria yang mudah terjebak nostalgia. Lagu lama, tempat yang pernah dikunjungi, bahkan parfum yang pernah dipakai Rani—semua itu bisa membangkitkan perasaannya.Rani tersenyum tipis. “Kamu pikir kamu sudah aman di sana? Sama Nadia, di rumah besar itu?” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kamu lupa, Dim… kalau aku tahu semua tentang kamu. Dan aku juga tahu cara menghancurkan kamu dari dalam.”ic_default
Karena kamu suka Balas Dendam · Mantan, mungkin kamu suka ini juga:
Mantan · Pernikahan