Aldo mengulurkan tangan, mencoba menyentuh kotak cahaya itu. Jarinya menembus, tidak terasa apa-apa. Seperti hologram di film-film fiksi ilmiah yang sering ia tonton di warung kopi sambil menunggu orderan.
"Halo?" ucapnya pada kotak itu, merasa bodoh. "Kamu bisa dengar aku?"
Tulisan di kotak berubah.
[Sistem Penyintas siap membantu. Sistem ini hanya terlihat oleh Anda.]
[Tujuan utama: Bertahan hidup.]
[Tujuan sekunder: Belum diketahui.]
"Cuma aku yang bisa lihat?" Aldo menoleh ke kanan-kiri, seolah ada orang lain yang bisa membantah. "Bagus. Jadi kalau aku ngomong sama kotak ini di depan orang, aku kelihatan kayak orang gila."
[Pernyataan dicatat.]
"Kamu nyatet?" Aldo hampir tertawa, campuran panik dan geli. "Ya sudah. Anggap aku gila. Mungkin memang gila. Mungkin aku koma di rumah sakit sekarang dan ini semua cuma..."
Lolongan tadi terdengar lagi. Lebih dekat.
Aldo membeku.
[Peringatan: Makhluk mendekat. Jarak: kurang lebih tiga ratus meter.]
[Saran: Cari perlindungan.]
"Makhluk?" Aldo berbisik. "Makhluk apa?"
[Data tidak cukup. Sistem menyarankan untuk tidak menunggu dan mencari tahu.]
Kalimat itu, anehnya, terdengar agak sarkastik untuk sebuah sistem. Tapi Aldo tidak punya waktu memikirkannya. Ia menyambar ranselnya dan mulai berjalan cepat menjauhi arah suara, menyibak rumput tinggi dengan tangan.
Tanah di bawah kakinya empuk, berlumut. Beberapa kali ia hampir tergelincir. Sepatu kets kurirnya yang sudah aus tidak dirancang untuk medan seperti ini. Keringat mulai membasahi punggungnya meski udara cukup sejuk.
Sambil berjalan, ia mencoba berpikir. Sistem ini—apa pun itu—tampaknya bisa membaca lingkungan. Mungkin bisa berguna. Mungkin satu-satunya hal yang berguna yang ia punya.
"Sistem," katanya, ngos-ngosan. "Kamu bisa kasih tahu aku ke mana harus pergi? Ada desa? Kota? Orang?"
[Sedang memindai...]
[Terdeteksi: Jalan setapak, dua ratus meter ke arah matahari kecil. Kemungkinan dibuat oleh makhluk berakal.]
"Makhluk berakal. Maksudnya manusia?"
[Tidak dapat dipastikan. Bisa manusia, bisa bukan.]
"Menenangkan sekali," gumam Aldo.
Ia mengubah arah, menuju matahari kecil yang kebiruan. Setelah beberapa menit menembus semak, pepohonan mulai merenggang, dan benar saja—ada jalan setapak. Sempit, berkelok, tapi jelas dibuat oleh kaki-kaki yang sering melewatinya. Tanahnya padat, tanpa rumput.
Aldo berhenti, mengatur napas. Untuk pertama kalinya sejak bangun, ada secercah harapan. Jalan berarti ada yang membuatnya. Ada yang membuatnya berarti ada peradaban. Ada peradaban berarti, mungkin, ada cara pulang.
[Saran diterima: Mengikuti jalan setapak. Risiko: sedang.]
"Risiko sedang itu seberapa?"
[Skala risiko: rendah, sedang, tinggi, jangan-coba-coba.]
Aldo terdiam. "Kamu... punya selera humor?"
[Sistem dirancang untuk efisiensi komunikasi.]
"Itu bukan jawaban tidak."
Sistem tidak membalas. Aldo menghela napas, lalu mulai menyusuri jalan setapak. Dua matahari menghangatkan punggungnya. Hutan di kanan-kiri penuh suara asing, tapi setidaknya kini ia punya arah. Arah lebih baik daripada diam menunggu dimakan entah makhluk apa.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, ia mencium asap. Bukan asap kebakaran hutan—ini asap kayu bakar, tipis, dengan aroma daging panggang. Perut Aldo berbunyi keras. Ia baru sadar belum makan sejak siang.
Di tikungan jalan, di antara dua pohon perak besar, ia melihatnya.
Sebuah kereta kuda. Tapi yang menariknya bukan kuda—melainkan dua makhluk berkaki empat dengan tanduk bercabang dan bulu berwarna biru tua. Di samping kereta, seseorang berjongkok di depan api unggun kecil.
Sosok itu mengenakan jubah cokelat. Saat mendengar langkah Aldo, ia menoleh.
Dan Aldo menahan napas. Telinga sosok itu runcing panjang, mencuat dari rambut peraknya.