Normal Pov.
Tono menemukan kurir itu pada hari Kamis, lewat cara yang sama sekali tidak heroik: kamera toko kelontong.
Percetakan yang mencetak dua puluh tiga lembar itu memang tidak punya kamera—Mei selalu memilih tempat yang bersih. Tapi Mei lupa satu hal: tidak ada yang bisa mengontrol kamera orang lain. Toko kelontong di sebelah percetakan itu punya satu kamera tua menghadap jalan, dan di rekaman hari pemesanan, seorang lelaki bertopi turun dari motor—motor yang platnya tidak dilepas, cuma dibelokkan setengah senti dengan stiker.
Setengah senti itu cukup. Wajahnya tertangkap dua bingkai saat ia menoleh ke arah bel motor.
Namanya Rian. Dua puluh tujuh tahun. Ojek online yang kadang menerima "pekerjaan sampingan". Dan ketika Tono duduk di seberangnya dengan dua bingkai foto dan satu berkas pasal, Rian bertahan selama kira-kira sebelas menit.
"Saya cuma disuruh, Pak," katanya, tangan gemetar di atas meja. "Pesan amplop, kirim ke rumah sakit. Saya bahkan tidak tahu isinya."
"Disuruh siapa?"
Dan nama yang keluar dari mulut Rian membuat Tono menyandarkan punggungnya pelan-pelan, dengan perasaan yang sama seperti empat tahun lalu ketika ia pertama kali memegang berkas keluarga Broto: akhirnya.
Bukan Mei langsung—Mei terlalu pintar untuk itu. Yang menyuruh adalah kerabatnya, laki-laki, pemilik rumah pengasingan itu. Orang yang menjamin penangguhan penahanannya. Orang yang selama ini menyediakan atap, sopir, dan—sekarang terbukti—kaki dan tangan.
"Dia tidak tahu isinya juga, Pak, sumpah—dia cuma bilang, 'titipan Bibi'. Semua orang di rumah itu manggil perempuan itu Bibi."
Tono menutup berkas itu dan keluar ruangan untuk menghirup udara. Di koridor, ia menatap dinding sebentar—dinding yang penuh peta dan jadwal piket—lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon atasannya langsung. Bukan untuk laporan. Untuk satu kalimat yang sudah ia simpan sejak malam dia membaca halaman terakhir buku catatan itu:
"Pak. Saya bisa membuktikan amplop rumah sakit itu datang dari pihak tersangka. Saya mau mengajukan pencabutan penangguhan penahanannya. Hari ini."
Di seberang telepon ada jeda panjang. Lalu jawaban yang ditunggu-tunggunya: "Susun berkasnya. Aku sendiri yang antar ke jaksa."
***
Normal Pov.
Berkas itu naik ke meja jaksa dalam dua hari. Argumentasinya sederhana dan mematikan: seorang tersangka percobaan pembunuhan yang sedang dalam penangguhan penahanan terbukti mengirimkan—melalui perantara—materi yang diperoleh dari pembobolan rumah korban, ke rumah sakit, pada jam operasi ibu dari kekasih korban, dengan satu tujuan yang bisa dibuktikan dari waktu pengirimannya: mengganggu, mengintimidasi, dan menyerang korban secara psikologis.
Penangguhan penahanan itu dicabut hari Senin.
Kali ini tidak ada subuh yang tenang. Kali ini wartawan sudah berbaris di depan rumah pengasingan itu sejak pagi—seseorang selalu membocorkan sesuatu kepada seseorang—dan ketika Mei Anjani keluar digandeng dua petugas, dunia menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka lihat: perempuan itu kehilangan kendali atas wajahnya sendiri.
"Ini konspirasi!" teriaknya ke kamera—teriak, sungguhan, dengan rambut yang lepas dari sanggulnya. "Kalian semua dibayar keluarga itu! Kalian pikir gadis itu suci? Tanya dia apa yang disembunyikan di balik jaketnya! TANYA DIA—"
Pintu mobil polisi menutup. Tapi kata-kata itu sudah keluar, sudah terekam lima puluh kamera, dan sudah masuk ke udara kota itu seperti asap masuk ke paru-paru.
Kerabatnya—penjamin yang menyuruh Rian—ditangkap malam itu juga di rumahnya sendiri, saat ia sedang mengemasi koper. Ia tidak sempat kemana-mana. Di tangan penyidik, rumah pengasingan itu berubah dari tempat berlindung menjadi barang bukti berjalan: setiap tamu yang pernah datang, setiap ponsel yang pernah dipakai, setiap "titipan Bibi" yang pernah keluar dari pintunya kini punya nama dan tanggal.
Apa yang disembunyikan di balik jaketnya.
***
Jingga Pov.
Aku menonton video itu empat kali di kantorku, dengan Lisa berdiri di belakangku seperti tiang.
"Dia tahu," kata Lisa akhirnya. Pelan. "Jingga. Dia tahu."
"Dia lihat di sidang. Aku tahu dia akan melihat—perempuan itu membaca orang seperti orang membaca label harga." Aku mematikan layar. "Tidak apa-apa, Lisa. Rahasia ini memang tidak akan bertahan selamanya. Aku cuma butuh ia bertahan sampai—"
"Sampai kapan?" Lisa berbalik menghadapku, dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun ia bekerja denganku, suaranya tidak sopan. "Sampai kapan, Jingga? Sampai perutmu tidak bisa disembunyikan jaket? Sampai anak itu lahir dan koran menulisnya sebagai 'anak rahasia'? Kamu pikir perempuan itu—dari balik jeruji mana pun—akan berhenti menggunakannya sebagai peluru?"
Aku diam. Karena Lisa benar, dan aku sudah tahu Lisa benar, dan aku sudah tahu sejak malam aku menatap dua garis itu.
"Kalau begitu aku yang ceritakan duluan," kataku akhirnya. "Sebelum dia. Dengan caraku. Bukan sebagai skandal—sebagai pengumuman. Aku mengandung, titik. Tidak ada ayah yang disebut. Tidak ada yang perlu dibela. HA Express berjalan, hidupku berjalan, dan siapa pun yang mau menghakimi dipersilakan antre."
Lisa menatapku lama. Lalu—dan aku akan mengingat ini selamanya—sekretarisku yang tidak pernah menyentuh siapa pun itu menarikku ke pelukannya, di tengah kantor, di tengah hari kerja.
"Kamu anak paling keras kepala yang pernah kutemui," katanya di telingaku. "Dan aku akan berdiri di sini sampai kamu selesai."
***
Normal Pov.
Pengumuman itu tidak pernah sempat dibuat.
Karena dua hari kemudian, sebelum Jingga menemui satu pun wartawan, sebuah foto muncul di sebuah akun gosip—foto buram yang dijepret dari seberang jalan: Jingga keluar dari klinik kecil di pinggiran kota, jaketnya tertiup angin, dan di bawah jaket itu, untuk pertama kalinya, kurva yang tidak lagi bisa dibantah.
Keterangan fotonya cuma satu kalimat. Tapi satu kalimat itu cukup untuk membakar kota:
"Pertanyaannya bukan apakah dia hamil. Pertanyaannya: siapa yang berani mengaku?"
Dan di kantornya di lantai dua puluh tiga Pra-building, Kevin Pratama menatap foto itu di layar komputernya, lalu menatap kalender di dindingnya, lalu menatap foto itu lagi—dan seluruh ruangan itu bisa mendengar detik ketika ia mulai menghitung mundur.
Sembilan minggu di klinik itu. Sekarang hampir lima bulan.
Mundur lima bulan dari hari ini.
Kevin berdiri dari kursinya begitu cepat hingga kursi itu menabrak dinding.
Normal Pov End.