Normal Pov.
Kota itu punya pertanyaan baru, dan kota itu tidak punya sopan santun.
Foto dari seberang jalan itu berlipat ganda dalam hitungan jam—diperbesar, dilingkari merah, dianalisis oleh orang-orang yang tidak pernah mengandung dan tidak pernah malu. Televisi memanggil "pengamat". Akun-akun gosip menggelar polling. Dan di antara semua suara itu, satu kalimat dari mulut seorang tersangka yang ditarik masuk mobil polisi diputar ulang tanpa henti: Tanya dia apa yang disembunyikan di balik jaketnya.
Jingga Broto tidak menjawab satu pun.
Ia tetap datang ke kantor HA Express setiap pagi, lewat gerbang depan, dengan jaket yang kini ia buka—sengaja—membiarkan dunia melihat apa yang ingin dilihatnya tanpa memberinya satu kata pun. Dua klien lama kembali, justru karena itu; orang-orang kecil, pemilik warung dan bengkel yang memakai jasa pengirimannya, berbondong-bondong memasang stiker HA Express di kaca mereka seperti memasang tanda dukungan. Kota besar menghakiminya; kota kecil memeluknya. Begitu cara dunia menyeimbangkan dirinya, kata Bibi Sarah, sambil menghitung uang kembalian.
Tapi satu orang tidak puas dengan jawaban kota.
***
Kevin Pov.
Aku datang ke HA Express pada hari Rabu, tanpa janji, dan seluruh lantai dua kantor itu berhenti bekerja saat aku masuk.
Lisa menghadangku di tangga. Sekretaris yang dua tahun selalu menyapaku dengan "Selamat siang, Tuan" itu sekarang berdiri di tangga seperti penjaga gerbang puri.
"Bapak tidak ada janji."
"Aku tahu."
"Dia tidak harus menemui Bapak."
"Aku tahu." Aku menelan. "Lisa. Aku tidak datang sebagai apa pun. Bukan sebagai klien, bukan sebagai... apa pun. Aku cuma perlu menanyakan satu hal padanya. Satu. Setelah itu aku pergi, dan kalau dia mau, aku tidak akan pernah datang lagi."
Lisa menatapku lama—membaca, seperti orang-orang di sekitar Jingga selalu membaca orang sebelum membiarkannya lewat—lalu menaiki tangga tanpa mengajakku. Aku menunggu di ruang tamu kecil itu empat belas menit. Aku menghitungnya.
Ketika pintu ruang kerjanya terbuka, Jingga berdiri di baliknya.
Dan tidak ada jaket, tidak ada lipatan kain, tidak ada kota—hanya dia, berdiri dengan perut lima bulan yang terlihat jelas dalam gaun kerjanya yang sederhana, dan dagu yang terangkat seperti biasa, dan mata yang pernah kucintai sebelum aku tahu bahwa mencintai dan mengenal bisa berjalan di dua jalan yang berbeda.
"Satu pertanyaan," katanya pelan. "Aku dengar syaratnya dari Lisa. Silakan."
***
Kevin Pov.
Ada seribu kata di kepalaku. Yang keluar cuma lima:
"Itu anakku, bukan?"
Jingga tidak menjawab dengan cepat. Ia menatapku—dan di tatapan itu ada semua hal yang tidak bisa kubaca: lelah, marah, sayang, dan sesuatu yang lebih tua dari semuanya, sesuatu yang berkata kamu tidak berhak bertanya itu dengan cara itu.
"Ayahnya tidak penting," katanya akhirnya. "Dengar baik-baik, Kevin, karena aku cuma akan mengatakannya sekali. Anak ini bukan langkah empat. Bukan papan tawar. Bukan pintu kembali ke mana pun. Kamu boleh menghitung mundur tanggalnya, semua orang di kota ini sudah melakukannya—tapi anak ini bukan milik kalender. Anak ini milikku. Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak akan pernah kujadikan rencana."
"Dia juga darahku, kalau hitungan itu benar—"
"Hitungan itu tidak membuatmu ayah." Suaranya tidak naik, dan karena itu menghantam lebih keras. "Yang membuatmu ayah adalah berdiri di koridor rumah sakit dan memilih. Kamu sudah memilih, Kevin. Aku tidak menyalahkanmu—kamu dibom pada jam yang paling kejam, aku tahu, aku yang paling tahu. Tapi pilihan tetap pilihan, dan aku tidak akan membesarkan anakku di rumah yang dibangun di atas 'terpaksa'."
Aku membuka mulut. Tidak ada apa pun di sana.
"Ayahku pernah bilang," lanjutnya, dan suaranya akhirnya melunak, nyaris patah, "orang tidak diukur dari apa yang dia lakukan saat semuanya mudah. Aku sedang diukur sekarang. Kamu juga. Sampai kita selesai diukur—kita tidak punya apa-apa untuk dibicarakan."
Aku meninggalkan gedung itu tanpa menjawab. Di mobil, di bawah hujan yang mulai turun, aku duduk sangat lama dengan kedua tangan di setir, dan untuk pertama kalinya sejak aku tujuh belas tahun dan ditinggal ayahku ke rumah sakit, Kevin Pratama menangis di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.
***
Normal Pov.
Seminggu kemudian, palu hakim mengakhiri satu babak lain.
Sidang perceraian Kevin Pratama dan Mei Anjani—yang berjalan nyaris tanpa perlawanan, karena pengacara Mei sudah kehabisan ruang dan akal—diputus dalam satu pagi yang pendek: cerai, dikabulkan, dengan alasan kejahatan terhadap keluarga; tidak ada pembagian harta, tidak ada hak apa pun; kontrak pernikahan yang dulu mengikat pewaris Pratama Group pada perempuan itu dinyatakan tidak lagi mengikat apa-apa.
Kevin keluar dari pengadilan itu sebagai orang bebas.
Ia berdiri di pelataran pengadilan, sendirian, di antara wartawan yang menyerbu dan langit yang kelabu, dan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia duga akan ia rasakan di hari kebebasannya: sama sekali tidak ada apa-apa. Bebas itu, ia pelajari, bukan sebuah tempat. Bebas cuma ruangan kosong—dan ia berdiri di tengahnya, memegang kunci yang tidak lagi punya pintu.
Malam itu, di kediaman Pratama, Sinta—yang sudah bisa berjalan dengan tongkat, dengan ginjal baru yang bekerja seperti doa yang dikabulkan—menemukan anaknya duduk di beranda belakang dengan sebuah amplop cokelat di pangkuan. Amplop itu. Dua puluh tiga lembar.
"Kamu masih menyimpannya?" tanya Sinta.
"Aku membacanya setiap malam," kata Kevin. "Bukan halaman ketiganya. Halaman terakhirnya."
Sinta tidak bertanya apa isinya. Ia duduk di sebelah anaknya, dan mereka berdua menatap hujan, dan untuk waktu yang lama tidak ada yang berkata apa-apa.
"Hari ini dia tertawa," kata Kevin akhirnya, sangat pelan, mengutip halaman terakhir itu tanpa melihatnya. "Aku lupa mencatat apa pun."
"Dan kamu baru sekarang mengerti apa artinya," kata ibunya. Bukan pertanyaan.
Kevin tidak menjawab. Hujan yang menjawab untuknya.
Sinta bangkit perlahan dengan tongkatnya, dan sebelum masuk ia berhenti di samping kursi anaknya. "Kebebasanmu dikabulkan hari ini," katanya pelan. "Tapi kamu datang ke beranda ini untuk membaca halaman terakhir seorang perempuan lain. Kamu pikir-pikir sendiri, Kevin, kamu sebenarnya bebas dari apa—dan masih terikat pada siapa."
Kevin Pov End.