Normal Pov.
Sidang putusan perkara pemalsuan wasiat itu digelar pada hari Selasa, di ruangan yang sama, di depan kamera yang sama, dengan satu perbedaan besar: kali ini Mei Anjani datang dari balik jeruji.
Tanpa penangguhan, tanpa rumah pengasingan, tanpa sanggul yang sempurna. Tiga minggu di dalam tahanan telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan dua belas tahun pemberitaan—ia telah mengambil ilusi. Perempuan yang turun dari mobil tahanan itu masih cantik, masih tegak, tapi tidak ada lagi yang bisa disembunyikan: bukan nyonya besar lagi, bukan korban fitnah lagi. Seorang terdakwa dengan nomor.
Saksi ahli terakhir dihadirkan sebelum putusan dibacakan: Dokter Gunawan.
Lelaki tua itu berdiri di hadapan majelis dengan map cokelatnya—map yang sudutnya memutih—dan menjawab satu pertanyaan jaksa dengan kalimat yang akan dikutip koran selama berminggu-minggu:
"Dalam pendapat medis Anda, Dokter—pada tanggal wasiat itu ditandatangani, apakah Karim Broto mampu memahami dan menandatangani dokumen hukum?"
"Tidak," kata Dokter Gunawan. "Pada tanggal itu, pasien saya berada pada stadium di mana menandatangani namanya sendiri adalah prestasi sehari penuh. Saya punya catatannya. Saya punya dua puluh tahun persahabatan dengannya. Dan saya sudah terlambat sekali—saya tidak akan terlambat dua kali."
***
Normal Pov.
Putusan dibacakan pukul dua siang.
"Menyatakan terdakwa Mei Anjani binti Sukanda terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan surat... menjatuhkan pidana penjara selama enam tahun—"
Ada jeda satu detik. Satu detik di mana seluruh ruangan menahan napas.
Dan di kursi terdakwa, topeng yang bertahan dua belas tahun, dua sidang, dan satu penangkapan itu akhirnya—akhirnya—retak.
Bukan tangis. Bukan teriakan. Mei Anjani tertawa.
Tawa yang kecil dulu, lalu besar, tawa yang membuat dua petugas maju setengah langkah, tawa seorang perempuan yang sedang menonton rumahnya sendiri terbakar dan memutuskan menikmati apinya.
"Enam tahun," katanya, masih tertawa, menatap hakim, menatap jaksa, menatap kamera. "Enam tahun untuk selembar kertas. Kalian tahu apa yang tidak kalian berani sidangkan? Hari-hari setelah ini. Kalian pikir kalian sudah mengambil sesuatu dariku? Aku masih punya satu perkara lagi, Yang Mulia—" ia mencondongkan tubuh ke mikrofon, dan suaranya keluar seperti bisikan yang diperbesar seribu kali "—dan di perkara itu, aku tidak sendirian di kursi terdakwa. Semua orang yang pernah diam akan duduk di sampingku. Semuanya."
Ketua majelis mengetuk palu. "Keluar kan terdakwa."
Mereka mengeluarkannya, masih dengan tawa itu, melewati barisan pengunjung—melewati Jingga, yang duduk diam dengan tangan di perutnya—dan untuk satu detik mata mereka bertemu, dan Mei berbisik tanpa suara, hanya bentuk bibir, dua kata yang hanya Jingga yang membaca:
Selamat menunggu.
***
Jingga Pov.
Wasiat palsu itu dibatalkan. Wasiat asli Ayah—yang ditulisnya bertahun-tahun lalu dengan Pak Tony, sebelum Mei, sebelum racun, sebelum semuanya—dinyatakan berlaku. Rumah itu. Saham-saham itu. Semua yang dulu diambil dengan pena yang gemetar, dikembalikan oleh palu yang tegas.
Sore itu aku tidak pulang. Aku menyuruh Mang Asep menyetir ke arah lain: ke pemakaman.
Hujan baru saja berhenti ketika aku sampai. Tanahnya basah dan wangi, dan batu nisan Ayah sudah bersih—Bibi Sarah datang setiap Jumat, diam-diam, tanpa pernah cerita.
Aku berdiri di sana dengan map berisi salinan putusan, dan aku membacakannya. Keras-keras. Seperti membacakan dongeng sebelum tidur.
"...membatalkan seluruh isi dokumen tertanggal itu, dan mengembalikan seluruh hak kepada ahli waris yang sah." Aku menurunkan map itu. "Kamu dengar, Yah? Kamu menang. Lama sekali, tapi kamu menang."
Angin lewat di antara pohon-pohon pemakaman. Tidak ada jawaban, seperti biasa, tapi sore itu aku tidak butuh jawaban.
"Dan Ayah—" tanganku turun ke perutku, ke kurva lima bulan yang mulai menendang di malam-malam tertentu, "—kamu akan jadi kakek. Cucumu ini tidak akan pernah tahu wajahmu, jadi aku yang akan menceritakannya. Semuanya. Yang benar, yang salah, yang berhasil, yang gagal. Dia akan tahu kakeknya orang yang menulis sepuluh surat dari tempat tidur kematiannya karena tidak ada kekuatan lain yang tersisa. Dia akan tahu cinta terakhir kadang berbentuk kaleng biru."
Aku berdiri di sana sampai langit berubah warna, dan untuk pertama kalinya sejak bayi ini mulai ada, aku tidak merasa sendirian.
***
Normal Pov.
Di hari yang sama, sore itu juga, sebuah sedan hitam berhenti di depan rumah Broto.
Bibi Sarah yang membukakan pintu—dan hampir menjatuhkan nampan tehonnya. Di teras berdiri Sinta Pratama: tongkat di tangan kiri, ginjal baru di dalam tubuh yang masih kurus, dan mata yang tidak bisa ditolak siapa pun.
"Kamu mau mengusir perempuan yang baru sembuh dari operasi?" tanya Sinta, sebelum Bibi Sarah sempat bicara. "Karena itu satu-satunya caramu membuatku pergi."
Mereka duduk di ruang tengah. Bibi Sarah menyuguhkan teh dan pergi dengan langkah yang sengaja diperlambat. Dan Sinta—ibu Kevin, perempuan yang dulu membela Jingga ketika seluruh kota menghakiminya—menatap perut lima bulan itu tanpa satu kata pun selama satu menit penuh.
"Cucu," kata Sinta akhirnya. Suaranya tidak bertanya.
Jingga menunduk. "Kalau hitungan kalender benar, Nyonya."
"Kalender tidak pernah bohong soal beginian." Sinta meraih tongkatnya, tapi tidak berdiri—ia cuma memegangnya, seperti orang memegang keputusan. "Anakku sudah ke sini?"
"Seminggu lalu."
"Dan?"
"Dan aku mengusirnya dengan sangat sopan."
Sinta tertawa—tawa keras yang tidak cocok dengan tubuh kurusnya, tawa yang membuatnya harus memegang rusuknya. "Astaga. Kamu memang bukan perempuan yang bisa diatur. Itu sebabnya aku menyukaimu sejak hari pertama, tahu? Sejak kamu datang ke rumahku dan menolak tunduk pada menantuku yang sekarang sedang tertawa di penjara."
Lalu ia serius. Ia meraih tangan Jingga—tangan yang dingin—dan menggenggamnya dengan dua tangannya yang masih lemah tapi hangat.
"Dengarkan Ibu. Bukan Nyonya. Ibu—aku sudah punya hak atas panggilan itu kalau isi perutmu benar." Matanya basah, tapi suaranya baja. "Aku tidak datang untuk memaksamu kembali ke anakku. Kalian berdua sama-sama keras kepala, dan dua orang keras kepala harus jatuh dulu sampai mereka sadar tanah itu keras. Aku datang untuk satu hal: cucuku tidak akan tumbuh mendengar bahwa ibunya sendirian. Ada aku. Mulai hari ini, ada aku. Titik."
Dan di ruang tengah rumah yang dulu menjadi medan perang itu, Jingga Broto—yang tidak menangis di koridor, tidak menangis di pengadilan, tidak menangis di pemakaman—menangis di pelukan seorang ibu yang bahkan bukan ibunya, untuk waktu yang sangat lama.
Jingga Pov End.